Corporate Social Responsibility Menurut Etika Bisnis Islam (Kasus Pandemi Covid-19)

0
804

BincangSyariah.Com – Suatu Perusahaan dalam operasionalnya memiliki tujuan utama yaitu untuk mendapatkan keuntungan. Disamping itu, perusahaan juga dituntut untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat sekitarnya dan menjaga lingkungan. Konsep tanggung jawab perusahaan telah dimulai sejak adanya revolusi industri dan pada 1950 – 1960 munculnya karya Howard Bowen berjudul “Social Responsibility of Businessman” menjadi tonggak baru dalam dunia modern mengenal istilah Corporate Social Responsibility (CSR).

Menurut The World Business Council for Suistanable Development, CSR adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komunitas setempat dan masyarakat secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Konsep CSR ini menekankan bahwa tidak hanya aspek finansial saja namun juga aspek sosial dan lingkungannya dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Di Indonesia sendiri secara eksplisit pemerintah melalui Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas (PT) Pasal 74 sudah mewajibkan perusahaan untuk melakukan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

Corporate Social Responsibility dan Covid-19

Saat ini dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19. Penyebarannya sudah begitu masif hingga melanda berbagai negara termasuk negara Indonesia yang terhitung sejak Maret menemukan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menangani covid-19 seperti yang tercantum dalam Perpu No 1 Tahun 2020 dalam perubahan postur APBN 2020 untuk penanganan dampak pandemi Covid-19 tercatat sebesar Rp 405,1 triliun. Selain itu juga pada perubahan postur anggaran dialokasikan sebesar Rp110 triliun untuk jaring pengamanan sosial.

Mengutip Santoso dalam tulisannya Konsep “Corporate Social Responsibility Dalam Perspektif Konvensional dan Fiqh Sosial”, CSR erat kaitannya dengan tanggung jawab sosial, kesejahteraan dan pengelolaan kualitas hidup masyarakat. Ia menyebutkan pandangan Kotler dan Lee yang menyebutkan enam kategori aktivitas Corporate Social Responsibility yaitu promosi kegiatan, pemasaran terkait kegiatan sosial, pemasaran kemasyarakatan korporat, kegiatan filantropi perusahaan, pekerja sosial kemasyarakatan secara sukarela dan praktik bisnis yang memiliki tanggung jawab sosial.

Musibah Pandemi Covid-19 semestinya menjadi salah satu momentum bagi perusahaan dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas Corporate Social Responsibility. Mengingat jumlahnya dana yang digelontorkan pemerintah tidak semuanya memenuhi dalam rangka penanganan Covid-19 ini baik dalam bidang kesehatan maupun jaring pengamanan sosial bagi masyarakat yang terkena dampak Covid-19.

Fenomena CSR untuk bahu membahu menangani Covid-19 mulai ramai dilakukan. Mulai dari PT. MRT Jakarta (Perseroda) pelaksanaan program CSR dimasa pandemi ini melalui pembagian paket sanitasi pribadi (masker dan penyanitasi tangan) berjumlah sebanyak 2.403 paket. BULOG melakukan program CSR dengan menyalurkan masker, sarung tangan, dan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis. Contoh lain adalah Nasmoco Group menggelar kegiatan corporate social responsibility (CSR) berupa pemberian bantuan berupa ribuan paket sembako yang dilakukan oleh 24 cabang bagi warga sekitar.

CSR dari Sudut Pandang Etika Bisnis Islam

Mengutip Irsadunas, Afrida, dan Khairani dalam artikel Tinjauan Etika Bisnis Islam Dalam Pengelolaan Corporate Social Responsibility, konsep CSR ini tercermin dalam aksioma dasar etika bisnis islam yaitu kesatuan (tauhid) yang mendorong individu bersikap amanah dalam berbisnis; keseimbangan (equlibrium) yaitu menyeimbangkan aktivitas bisnis baik lingkungan maupun sosial dan tanggung jawab (responsibility) dari pelaku bisnis dalam tanggung jawab kepada lingkungan alam maupun sosial.

Selain itu, nilai-nilai CSR sebenarnya juga telah direpresentasikan oleh Nabi Muhammad SAW. melalui sifat-sifat dalam menjalankan perdagangannya seperti jujur (shidq), terpercaya (amaanah), tidak menutup-nutupi (tabligh), sampai cerdas (fathonah). Dalam konteks CSR para pelaku usaha atau pihak perusahaan  dituntut tepat janji, tepat waktu, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), selalu memperbaiki kualitas barang atau jasa secara berkesinambungan serta tidak boleh menipu dan berbohong.

Pelaku usaha/pihak perusahaan harus memiliki amanah dengan menampilkan sikap keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihsan (berbuat yang terbaik) dalam segala hal, apalagi berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Dengan sifat amanah, pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan kewajiban-kewajibannya. Sifat tablig dapat disampaikan pelaku usaha dengan bijak (hikmah), sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang solid dan kuat.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah: 177,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.

Berdasarkan ayat diatas, dapat ditarik kesimpulannya bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan pentingnya nilai-nilai sosial di masyarakat, bukan hanya memperhatikan persoalan ibadah mahdhah seperti shalat saja. Tanpa bermakna mengesampingkan akan pentingnya shalat, Al-Quran menunjukkan integrasi makna dan tujuan shalat dengan nilai-nilai sosial.

Di samping memberikan nilai keimanan berupa iman kepada Allah SWT, Kitab-Nya, dan Hari Kiamat, Al Quran menegaskan bahwa keimanan tersebut tidak sempurna jika tidak disertai dengan amalan-amalan sosial berupa kepedulian dan pelayanan kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir serta menjamin kesejahteraan mereka yang membutuhkan.

Jika dikaitkan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, Implementasi CSR oleh perusahaan ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis islam sekaligus bentuk kepedulian sosial bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan. Maka sangat perlu didorong pelaksanaan CSR oleh perusahaan yang memiliki kapabilitas untuk melaksanakannya. Tujuannya dalam rangka memberikan bantuan kepada yang terdampak pandemi Covid-19, baik para tenaga medis maupun masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga berdampak pada hilangnya pendapatannya. Dengan demikian, dapat tercipta tujuan dari CSR yaitu untuk kesejahteraan sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here