Contoh Penerapan Metode Tafsir Muqaran

0
652

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu yang lalu channel youtube Quraish Shihab mengunggah video sebagai bagian dari konten M. Quraish Shihab Podcast dengan judul “Amal Bukanlah Jaminan Masuk Surga.” Video ini juga sekaligus meluruskan kesalahpahaman publik atas pernyataan Quraish yang dulu pernah viral terkait jaminan Nabi masuk surga.  Selengkapnya dapat diakses di sini.

Sebagian mungkin tidak menyadari penjelasan Quraish Shihab merupakan metode tafsir muqaran sebab Quraish sendiri tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa penjelasannya adalah tafsir dengan metode muqaran.

Metode tafsir muqaran  sendiri kurang begitu akrab bahkan di kalangan pelajar tafsir sekalipun. Tidak jarang, materi tafsir muqaran kurang dilirik, berbeda dengan metode tafsir lain seperti metode tafsir maudlu’i alias tematik atau tafsir tahlili (penafsiran Al-Quran mengikuti urutan ayat Al-Quran. Metode tafsir misalnya, hampir pasti semua orang pernah mendengarnya meskipun hanya sekilas.

Pengertian tafsir muqaran sendiri mudahnya merupakan metode tafsir yang membandingkan keterangan al-Quran dan hadis Nabi yang sekilas tampak bertentangan. Dalam video yang diunggah channel Quraish Shihab tersebut yang dibandingkan adalah hadis Nabi sebagai berikut :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya; “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku, oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya dia bertaubat.” (HR. Bukhari)

Baca Juga :  Quraish Shihab Berbicara tentang Cinta

Hadis di atas menerangkan bahwa amalan seseorang bukanlah menjadi sebab ia masuk surga. Namun di ayat surat al-Nahl [16]: 32, seolah Allah berfirman sebaliknya,

الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ طَيِّبِيْنَ ۙيَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ – ٣٢

(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” Al-Nahl [16] : 32

Terjemah ayat di atas adalah terjemah versi kemenag, dapat dilihat bagaimana hadis Nabi mengatakan masuk surga bukan disebabkan amal sementara al-Quran berkata sebaliknya. Lalu pertanyaannya kemudian bagaimana hadis sahih riwayat Bukhari bertentangan dengan keterangan al-Quran?. Di sinilah tafsir metode muqaran bekerja “menyelesaikan” pertentangan tersebut.

Sebagai ahli tafsir, Quraish Shihab begitu piawai menjelaskan bagaimana duduk perkara ini. Dengan asumsi ketidakmungkinan pertentangan antara hadis dan al-Quran maka Quraish menjelaskan memang tidak ada seorang hamba pun yang masuk surga disebabkan amalnya sesuai dengan keterangan hadis Nabi. Lalu bagaimana “nasib” kebenaran ayat al-Quran?

Masih penjelasan Quraish, bukan ayat al-Quran yang salah namun penerjemahannya yang tidak tepat. Menurutnya mengapa kita ingin menerjemahkan ayat itu apa adanya dengan mengatakan, “masuklah surga karena amalmu”? padahal jika kita menganggap wajar kita masuk surga karena amal sebenarnya amal kita di dunia ini tidak akan mampu menebus nikmat Allah yang diberikan kepada kita semasa hidup. Maka masuk surga adalah semata-mata karena rahmat Allah.

Kemudian untuk apa kita beramal? Amal tetap diperlukan untuk mengundang rahmat Allah. Jadi amal bukanlah “tiket” kita masuk surga, akan tetapi nantinya amal juga berfungsi menentukan “kelas” kita di surga, apakah kelas ekonomi, bisnis, first class dan sebagainya. Tiket masuk surga semata-mata rahmat Allah agar seorang hamba tidak merasa sombong karena amalnya banyak kemudian hatinya mendaku bahwa ialah ahli surga.

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Pohon di Area Kuburan untuk Bangun Masjid, Apakah Boleh?

Penjelasan ini juga diperkuat oleh firman Allah di surat al-Mu’minun [23]: 10-11,

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوَارِثُوْنَ ۙ – ١٠ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ – ١١

Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Mengapa dikatakan mewarisi? Menurut Quraish dengan mengutip pendapat Ibn Katsir karena memang surga adalah semata-mata pemberian Allah bukan disebabkan amal seorang hamba. Hal ini juga bersesuaian dengan akidah ahlu sunnah wa al’Jamaah madzhab ‘Asy’ary yang mengatakan surga adalah semata-mata rahmat Allah bukan karena amal kita. Berbeda dengan madzhab mu’tazilah yang menyatakan bahwa amal yang menyebabkan seorang hamba masuk surga. Semua penjelasan di atas dari perspektif ilmu Tafsir disebut dengan tafsir metode muqaran. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here