Contoh Nikah yang Bisa Menjadi Haram

1
50

BincangSyariah.Com – Meski pada dasarnya nikah hukumnya adalah sunnah, namun dalam kondisi tertentu nikah justru menjadi haram. Para ulama memiliki pandangan berbeda-beda mengenai hukum nikah yang bisa menjadi haram ini.

Pertama, menurut ulama Hanafiyah, nikah menjadi haram apabila dengan pernikahan tersebut seseorang dipastikan melakukan kezaliman dan kekejaman, baik kepada pasangannya atau pada anak-anaknya. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

قَال الْحَنَفِيَّةُ: يَكُونُ النِّكَاحُ حَرَامًا إِنْ تَيَقَّنَ الْجَوْرَ، لأِنَّ النِّكَاحَ إِنَّمَا شُرِعَ لِمَصْلَحَةِ تَحْصِينِ النَّفْسِ وَتَحْصِيل الثَّوَابِ بِالْوَلَدِ الَّذِي يَعْبُدُ اللَّهَ تَعَالَى وَيُوَحِّدُهُ، وَبِالْجَوْرِ يَأْثَمُ وَيَرْتَكِبُ الْمُحَرَّمَاتِ، فَتَنْعَدِمُ الْمَصَالِحُ لِرُجْحَانِ هَذِهِ الْمَفَاسِدِ

Ulama Hanafiyah berkata: Nikah menjadi haram jika seseorang diyakini melakukan kedzaliman. Hal ini karena nikah disyariatkan dengan tujuan untuk mendatangkan kemaslahatan menjaga diri dan mendapatkan pahala dengan anak yang menyembah pada Allah dan mengesakan-Nya. Dengan kezaliman, seseorang  bisa berdosa dan melakukan hal-hal yang diharamkan sehingga kemaslahatan (nikah) menjadi tiada dengan adanya kezaliman ini.

Kedua, menurut ulama Malikiyah, nikah hukumnya haram bagi seseorang yang bisa menelantarkan istrinya, baik karena tidak bisa berhubungan badan atau tidak bisa memberikan nafkah, atau bisa memberikan nafkah namun dari jalan yang haram, atau pekerjaannya menyebabkan dirinya tidak bisa melaksanakan shalat tepat waktu, sementara keadaan dirinya masih mampu menjaga diri dari perbuatan zina.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: يَحْرُمُ عَلَيْهِ النِّكَاحُ إِذَا لَمْ يَخْشَ الزِّنَا، وَكَانَ نِكَاحُهُ يَضُرُّ بِالْمَرْأَةِ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِ عَلَى الْوَطْءِ أَوْ لِعَدَمِ النَّفَقَةِ، أَوِ التَّكَسُّبِ مِنْ حَرَامٍ أَوْ تَأْخِيرِ الصَّلاَةِ عَنْ أَوْقَاتِهَا لاِشْتِغَالِهِ بِتَحْصِيل نَفَقَتِهَا

Ulama Malikiyah berkata: Haram nikah bagi seseorang yang tidak khawatir dirinya berzina, sementara nikah bisa membahayakan perempuan karena dia sudah tidak mampu berhubungan badan atau mampu memberi nafkah, atau usaha dari yang haram, atau bisa mengakhirkan shalat dari waktunya karena sibuk mencari nafkah.

Ketiga, menurut ulama Syafiiyah, nikah menjadi haram bagi orang yang tidak sah melakukan akad nikah dan dirinya tidak butuh pada pernikahan tersebut. Ini seperti orang yang dungu. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: مَنْ لاَ يَصِحُّ نِكَاحُهُ مَعَ عَدَمِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ كَالسَّفِيهِ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ

Ulama Syafiiyah berkata: Orang yang tidak sah melakukan nikah dan dirinya tidak butuh pada nikah, seperti orang dungu, maka nikah haram baginya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here