Coba Introspeksi, Pernahkah Kita Sombong Saat Mendapatkan Nikmat?

0
341

BincangSyariah.Com – Sombong adalah kondisi emosional kompleks yang biasa dilihat pada sebagian orang, yaitu membangga-banggakan diri dan angkuh. Pada sebagian orang sombong merupakan karakteristik tingkah laku yang membedakan kepribadian dengan lainnya. sikap sommbog ini hadir dari keengganan mengakui keagungan dan kebesaran Allah, menutupi segala nikmat-Nya, atau bahkan tidak mengetahu kekurangan dirinya sehingga timbu rasa bangga yang berlebih lainnya.

Salah satu perbuatan yang tidak patut dicontoh saat diberi nikmat oleh Allah adalah berpaling dari-Nya karena sombong. Realita tersebut terekam dalam QS Al isra ayat 21:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah memaparkan bahwa potret manusia yang seperti itulah manusia yang sedang sakit jiwanya. Karena realita di atas tidak akan terjadi pada seseorang yang bersih jiwanya. Ayat tersebut memaparkan bahwa sesungguhnya perasaan bangga dan putus asa merupakan tabiat masusia.

Begitupun denga Imam Sya’rawi yang memberikan contoh lugasnya dalam Tafsir Al Sya’rawi. Beliau mengumpamakan sifat manusia yang sombong jika diberi nikmat oleh Allah sebagai anak yang diberi uang bulanan oleh ayahnya. Sang anak hanya menghubungi dan menemui ayahnya jika hendak mengambil jatah bulanannya saja di awal bulan, selebihnya sang anak tidak mengingat ayahnya sepanjang bulan tersebut. Hal demikian dikarenakan ayahnya memberikan kemampuan menjadi kaya sepanjang bulan.

Jika sang anak tersebut beriman, tentu ia tidak akan lupa kehebatan ayahnya yang telah menjadikannya anak yang bahagia dan kaya. Justru ia akan selalu mengingat ayahnya dengan sejuta kebaikan yang telah dilakukannya, dimanapun dan kapanpun. Begitu pula dengan kita yang mengaku beriman kepada Allah, seharusnya nikmat tersebut membuat iman kita bertambah. Allah yang maha kaya telah sudi menganugerahkan nikmat kepada kita, tiba saatnya kita semakin banyak mengingat-Nya lewat dzikir atau amal shaleh lainnya.  Bukan hanya mengingat Allah dikala nikmat telah dicabut atau sedang putus asa. Begitu pula Allah mengingatkan kita dalam QS Fussilat ayat 51:

Baca Juga :  Apakah Pahala Bacaan Alqur'an Sampai Kepada Orang yang Meninggal?

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.

Pada ayat tersebut  Allah menyebutkan perangai orang yang kufur nikmat dalam al-Qur’an, yaitu dialah yang berpaling dan menjauh ketika mendapatkan nikmat, namun gelisah berdoa memanggil Allah jika ditimpa kesusahan. Agar tidak menjadi orang yang kufur nikmat, seyogyanya kita tidak melupakan sang pemberi nikmat tersebut dalam keadaan apapun. Semoga nikmat yang telah Allah turunkan kepada kita menjadi wasilah agar kita menjadi hamba yang lebih taat lagi. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here