Ciri Tawakal dan Kisah Bisyr al-Hafi Saat Naik Haji Tak Membawa Bekal

0
875

BincangSyariah.Com – Nasharuddin Umar dalam buku Berakhlak Mulia Sejak Belia mengutip pendapat imam al-Ghazali dan Al-Mulla Ali Al-Qari mengenai tawakal. Menurut al-Ghazali, tawakal itu penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakali/Allah) semata. Sementara itu, menurut Al-Mulla Ali Al-Qari tawakal itu rasa yakin bahwa tidak ada yang berkehendak dalam alam wujud ini kecuali Allah. Setiap apa pun yang ada, seperti makhluk rezeki, pemberian, larangan, bahaya, manfaat, kemiskinan, kekayaan, sakit, sehat, hidup, dan mati semuanya itu adalah dari Allah.

Dari dua definisi tentang tawakal ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa tawakal adalah penyerahan diri secara totalitas kepada Allah Swt. saat senang maupun sulit.

Ada baiknya kita menyimak kisah ketawakalan seorang pemabuk yang kemudian menjadi ulama besar, yaitu Bisyr al-Hafi. Syekh Fariduddin Al-Attar dalam buku Tadzkiratul Auliya menceritakan kisah tersebut demikian.

Beberapa orang mengunjungi Bisyr dan berkata, “Kami datang dari Suriah hendak pergi menunaikan ibadah haji. Sudikah kamu mendampingi kami?”

“Iya, saya sudi. Tapi ada tiga Syarat,” jawab Bisyr. “Yang pertama, kita tidak membawa perbekalan. Kedua, kita tidak boleh meminta belas kasihan orang dalam perjalanan. Ketiga, jika orang-orang memberikan sesuatu, kita tidak boleh menerimanya.”

“Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta di dalam perjalananan dapat kami terima,” jawab mereka. “Tetapi apabila orang-orang lain memberikan sesuatu mengapa kita tidak boleh menerimanya?”

“Kalau begitu, berarti kalian itu tidak pasrah pada Allah, tetapi pada perbekalan yang kalian bawa,” cetus Bisyr pada mereka.

Artinya, Bisyr al-Hafi benar-benar tawakal kepada Allah tanpa membawa bekal apa pun saat hendak berangkat haji. Entah bagaimana cerita tersebut berlanjut, apakah benar-benar mereka berangkat haji tanpa bekal sedikit pun dan tak menerima pemberian siapa pun.

Baca Juga :  Kisah Perdebatan Wahid Hasyim dengan Sirajuddin Abbas Jamaah Haji tidak Boleh Buta Huruf

Terlepas dari itu, Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam bukunya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, membagi tiga tanda orang yang benar-benar bertawakal pada Allah.

Pertama, tidak mengharapkan sesuatu kecuali pada Allah dan tidak merasa takut kecuali Allah. Tanda pertama ini berkiatan erat dengan apa yang diucapkan seorang muslim, dia tidak merasa takut untuk berkata benar di depan siapa pun. Kedua, tidak pernah merisaukan masalah rezeki. Ia  merasa yakin bahwa Allah menjamin rezekinya, sehingga hatinya tetap tenang dan tentram. Ketiga, tidak pernah hatinya terguncang pada saat diperkirakan akan datangnya suatu bahaya. Hal ini karena ia yakin sepenuhnya bahwa tak ada satu pun suatu bahaya yang dapat dihindari jika Allah sudah berkehendak, dan begitu pun sebaliknya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here