Ciri Pandangan Kelompok Radikal menurut Yusuf al-Qardhawi

2
1134

BincangSyariah.Com – Di Situasi pandemi seperti ini, masih ada kelompok radikal yang memanfaatkan untuk terus menyebarkan narasi-narasi gagasannya. Sungguh naïf memang di tengah suasana yang tercengang paceklik pandemi masih ada yang menyuarakan khilafah, menyebar teror dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, pada 3/7 lalu seperti dilansir dari Kompas, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan, pihaknya terus berupaya agar paham radikalisme tidak mendominasi ruang publik, terutama di media sosial.

Memaknai makna radikalisme memang bukan perkara yang sepele dan mudah, meskipun kita dengan mudah menyebut contohnya-contohnya. Bahkan sering kali radikalisme dimaknai berbeda diantara kelompok yang berkepentingan. Salah satu sudut yang digunakan misalnya adalah sudut pandang keagamaan, dimana radikalisme diartikan sebagai gerakan-gerakan fanatisme keagamaan yang berusaha merombak secara total tatanan sosial dan politik melalui jalan menggunakan kekerasan. Pada kali ini untuk mengetahui atau memaknai ciri kelompok radikalisme, sedikit panjang akan mengutip ciri kelompok radikalisme menurut pandangan Yusuf al-Qardhawi.

Yusuf al-Qardhawi merupakan seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir yang kini tinggal di negara Qatar. Karya-karyanya begitu banyak dan fenomenal dalam ranah akademik. Salah satu karyanya adalah Islam Radikal Analisis Terhadap Radikalisme dalam Berislam dan Upaya Pemecahannya. Dalam bukunya tersebut, ia menerangkan seperti apa ciri pandangan kelompok radikal dalam beragama,

1. Mengklaim Kebenaran Tunggah

Memposisikan dirinya sekan-akan utusan Tuhan. Maka sangat sulit untuk menerima pendapat orang lain. Gerakan radikalisme juga sering berseberangan dengan masyarakat luas termasuk pemerintah. Oleh karena itu, terkadang terjadi gesekan ideologis bahkan fisik dengan kelompok lain, termasuk pemerintah. Sehingga untuk mengatasinya diperlukan beberapa penanganan dari semua aparatur Negara, baik itu rakyat, tokoh agama, serta penegak hukum.  Sehingga dalam pemahaman yang semestinya adalah pemecahan masalah itu tanpa kekerasan, akan tetapi melalui berfikir krtitis dan toleransi.

Baca Juga :  Hakikat Tobat yang Diterima oleh Allah

2. Menganggap Ibadah Sunnah atau Hal yang Mubah Sebagai Kewajiban

Contohnya adalah memanjangkan jenggot, memakai celana hingga di atas mata kaki dan lain sebagainya. Kemdian menurut Qardhawi yang masih pada karyanya yang berjudul Islam Radikal Analisis Terhadap Radikalisme dalam Berislam dan Upaya Pemecahannya (h. 127), bahwa radikalisme memiliki sikap berlebihan yang seseorang miliki dalam beragama, bahkan muncul ketidaksesuaian antara akidah dengan perilaku. Misalnya antara yang seharusnya dengan realitas, antara agama dengan politik, antara ucapan dengan tindakan, antara yang diangankan dengan yang dialaksanakan, serta antara hukum yang disyariatkan oleh Allah dengan produk hukum manusia itu sendiri.

3. Mengesampingkan Metode Bertahap dalam Berdakwah dan Kasar dalam Berinteraksi

Padahal Islam sama sekali tidak megajarkan untuk bertindak kasar dan memaksa pendapat mereka wajib dianut dan ditiru. Sebab,  sesungguhnya dalam Islam tidak ada yang namanya radikalisme. Dalam Al Qur’an dan Hadits sendiri memerintahkan umatnya untuk saling menghormati dan bertoleransi serta bersikap lemah lembut kepada orang lain meskipun orang itu penganut agama lain.

Berikut riwayat dari Rasulullah SAW tentang Allah sungguh menyukai agama yang toleran dalam hadis memang tidak ditemukan kata toleran, namun dalam hadis menggunakan padanan kata toleran yaitu kata at-tasamuh. Kata tersebut diantaranya ditemukan dalam riwayat hadis Imam al-Bukhari dalam kitab al-Jami’ as-Shahih yang populer dengan sebutan Shahih al-Bukhari, 

وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ الحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

Rasulullah SAW bersabda: agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang berorientasi pada semangat mencari kebenaran secara toleran dan lapang (HR. al-Bukhari)

4. Mudah Mengkafirkan Orang Lain Jika Berbeda Pendapat

Baca Juga :  Hukum Membunuh Anjing

Seseorang yang tidak mempercayai pendapat mereka (kelompok radikal)  serta tidak mengikuti atas apa yang dia ajarkan baik itu muslim atau tidak, kemudian mereka dengan mudahnya mengatakan kafir.

Itulah beberapa ciri kelompok radikalisme menurut pandangan Yusuf al-Qardhawi, sebagaimana kelompok radislime memiliki sikap  yang berlebihan. Kelompok seperti ini harus kita hindari, agar tercipta corak kehidupan yang aman dan damai serta toleran. Wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here