Ciri Khas Islam: Rabbani (1)

0
905

BincangSyariah.Com – Sebagai agama, kita perlu mengetahui bahwa agama Islam ini memiliki beberapa ciri khas. Salah satu ciri khas yang pertama adalah Rabbani, yang berarti mengacu dan berafiliasi kepada Allah.

Rabbani ini terdiri atas dua aspek:

Pertama, Islam itu selalu rabbani dari segi orientasi dan tujuan. Tidak ada kegiatan di dalam agama yang tidak bertujuan dan dikaitkan kepada Allah. Salah satunya tercermin dalam doa iftitah (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah)

Maka dari itu, keimanan kepada Tuhan tidak formalistik (terbatas pada simbol-simbol dan gerakan ibadah tertentu). Kita perlu memenuhi keperluan duniawi / sehari-hari, namun sikap dan perilaku kita harus selalu dikaitkan kepada Allah. Hal ini penting untuk menghindarkan kita dari kufur nikmat dan kekecewaan yang berkepanjangan.

Kedua, dari segi sumber dan manhaj atau metodologi. Diantara sumber-sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an, Hadis (sebagai penafsiran dan penjelasan kalamullah pada zaman Nabi), dan ijtihad para ulama berdasarkan nash (teks agama) yang ada, semuanya berasal dari Allah. Maka dari itu, tidak benar jika ada orang yang menafsirkan agama semata-mata menggunakan akalnya tanpa rujukan dan acuan. Penafsiran seperti itu artinya hanya menuruti akal dan kehendaknya tanpa acuan yang bersambung kepada Allah. Maka, hanya orang-orang yang belajar dengan lengkap, kredibel, dan “profesional” yang boleh menafsirkan teks agama.

Lebih-lebih jika ada yang berkata “Tidak perlu belajar ilmu dunia, karena semua sudah dicakup oleh Al-Qur’an!” Pernyataan itu terkesan meninggikan Quran, namun sebenarnya justru merendahkan Quran karena Al-Qur’an dipersepsikan sebagai ensiklopedia, bukan kitab suci berisi petunjuk. Padahal risalah agama ini memberikan peluang kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Memang benar bahwa ada isyarat ilmiah dalam Quran, namun umumnya itu diposisikan sebagai sarana menyampaikan petunjuk (hidaa’i).

Baca Juga :  Kajian Rumahan; Tiga Jenis Hidayah dan Bekal yang Diberi Allah untuk Mendapatkannya

Sementara, dari segi manhaj atau metodologi, ada tiga metode yang disebut dalam Al-Qur’an untuk berjalan menuju Tuhan, yaitu hikmah, nasihat menuju kebaikan, dan dialog / interaksi yang baik. Namun ketiga metode ini sifatnya umum saja (prinsip saja). Dalam rinciannya manusia boleh dan malahan harus menyusun metode sendiri, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang digariskan Allah. Contohnya: “bentuk negara tidak disebutkan dalam Quran”. Namun demikian, prinsip-prinsip dan syarat seorang pemimpin digariskan (adil, taat hukum, dll). Contoh lain, dakwah / nasihat kebaikan dapat berbentuk apa saja, selama yang disampaikan juga baik.

Perlu disadari bahwa ilmu dan akal manusia itu terbatas, sehingga kita perlu paham bahwa metode Allah itu universal dan penuh hikmah, walaupun seringkali kita tidak paham dan mengerti. Iman itu tak terbatas, namun akal penuh batasan. “Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala, namun Dia dapat dilihat dengan mata iman di hati.” – Sayyidina Ali karramallahu wajhah.

Tulisan ini adalah hasil kerjasama bincangsyariah.com, cariustadz.id, dan Kajian Rumahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here