Cinta Tanah Air Itu Akhlak Islam yang Sangat Mulia: Jihad Melawan Terorisme

0
1163

BincangSyariah.Com – Salah satu lagu yang berisikan kecintaan kepada Indonesia dan sangat terkenal di kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) adalah “Ya Ahlal Wathan” (Wahai Penduduk Negeri). Bahkan belakangan lagu yang diciptakan oleh K.H. Wahab Chasbullah ini semakin terdengar ramai di seantero bumi Nusantara.

Barangkali lagu itu sengaja diembuskan kembali agar kecintaan bangsa Indonesia kepada tanah air semakin kokoh dan tidak luntur oleh buaian-buaian manis sebagian kelompok Muslim yang menghendaki tegaknya khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Dalam hal ini, memang Allah menekankan manusia agar saling mengingatkan dan menasihati satu sama lain (aż-Żâriyât (51): 55 dan al-‘Aṣr (103): 3). Sebab, hati dan pikiran manusia seringkali berubah-ubah dari waktu ke waktu. Apalagi kata Nabi Muhammad saw. manusia adalah tempatnya salah dan lupa (al-insân maḥallu al-khaṭâ’ wa an-nisyân).

Salah satu cara mengingatkan dan menasihati sesama anak bangsa tersebut adalah menviralkan lagu “Ya Ahlal Wathan” secara “terstruktur, sistematis, dan masif.” Sehingga nantinya roh dan spirit lagu tersebut perlahan-lahan meresap dan menyatu ke dalam jiwa dan pikiran masyarakat Indonesia.

Mengingat kata Imam ‘Ali bin Abi Thalib as. kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir (ḥaqqun bi gair niẓâmin yaglibuh al-bâṭil bi niẓâmin).

Dengan kata lain, terkadang kita (masyarakat Indonesia) gampang terbuai oleh bisikan dan rayuan maut sekelompok Muslim yang senantiasa menggoda siang dan malam agar meninggalkan kesepakatan (ijmak) para ulama dan tokoh bangsa dahulu kala. Mereka ingin menghapus kecintaan dan kesetiaan kita kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila secara perlahan-lahan dan menggantinya dengan sistem khilafah yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis sesuai tafsir mereka sendiri.

Apalagi akhir-akhir ini kelompok terorisme yang memang anti Pancasila dan secara nyata melawan pemerintah yang sah masih menghantui kehidupan masyarakat Indonesia. Kenyataan ini setidaknya dilihat dari beberapa penangkapan terhadap beberapa orang yang diduga teroris di beberapa daerah, baik anggota Jaringan Ansharut Daulah (JAD) maupun Muslim yang terpapar paham radikal ISIS.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengetengahkan kalimat ḥubb al-waṭan min al-imân (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) yang terdapat dalam lagu tersebut. Sebagian masyarakat NU menganggap kalimat tersebut adalah hadis Nabi. Menurut Ahmad Baso, kalimat ḥubb al-waṭan min al-imân memang sebuah hadis.

Namun, belakangan kalangan Wahabi yang mulai meramaikan percaturan keislaman di bumi Nusantara menganggap hadis itu tidak sahih dan bahkan menganggapnya sebagai hadis palsu. Sikap keras kalangan Wahabi inilah yang kemudian dijadikan alat oleh orang-orang Belanda untuk melawan para ulama.

Mengingat para ulama merupakan penggerak utama kekuatan masyarakat untuk melawan penjajahan Belanda. Apalagi waktu itu (sekitar tahun 1916) murid-murid perguruan Nahdlatul Wathan memang diharuskan menyanyikan lagu Ya Ahlal Wathan sebelum memulai pelajaran (“Agama NU” untuk NKRI, 2015: 116-117 & 119).

Dalam kesempatan lain, Syekh Muḥammad ‘Abd ar-Raḥmân as-Sakhâwî, ulama mazhab asy-Syâfi‘î dari Kairo (hafal al-Qur’an dari beberapa qira’ât, beberapa kitab fikih, hadis, dan ilmu bahasa Arab), mengatakan tidak mengetahui sumber hadis ḥubb al-waṭan min al-imân tersebut.

Namun demikian, makna hadis itu benar (sahih) atau sesuai dengan beberapa hadis yang disebutkan dalam kitab al-Mujâlasah, karya Imam ad-Dainûrî. Beberapa hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Aṣma‘î: pertama, “aku (al-Aṣma‘î) mendengar orang Arab dusun (Badui) berkata: jika kamu ingin mengetahui hakikat lelaki sejati, maka lihatlah kecintaannya kepada tanah airnya, rasa rindunya kepada saudara-saudaranya, dan tangisnya atas perkara-perkara yang telah dilewatkan.”

Kedua, “al-Hind berkata: ada tiga perkara yang terdapat dalam tiga kelompok hewan: unta yang menyayangi kandangnya meskipun berada di tempat yang jauh; burung yang menyayangi sarangnya meskipun tandus; dan manusia yang menyayangi tanah airnya meskipun di negara-negara lain lebih makmur (al-Maqâṣid al-Ḥasanah, 1985: 21 & 297).”

Kerinduan terhadap tanah air ini juga dialami Rasulullah saw. Syekh as-Sakhâwî (hlm. 298) menyebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. rindu kepada Mekah, tempat lahir dan tumbuh kembang beliau, maka Allah menurunkan ayat al-Qur’an (al-Qaṣaṣ (28): 85): “sesungguhnya (Allah) yang Mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) al-Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Mekah).”

Keterangan senada juga disampaikan oleh Ḍaḥḥâk. Dalam hal ini, para ulama memang masih berbeda pendapat ketika menafsirkan kata ilâ ma‘âd (tempat kembali). Ada yang menafsirkan “hari kiamat”, “surga”, “kematian” dan ada pula yang menafsirkan “Mekah” (Ibn Kaśîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Aẓîm, 2000: 1427-1428).

Di sisi lain, cinta tanah air merupakan bagian dari akhlak terpuji yang sangat ditekankan dalam Islam. Mengingat Rasulullah saw. sendiri adalah lelaki sejati yang sangat mencintai tanah airnya (Mekah).

Kenyataan ini diungkapkan sendiri dalam doa indahnya: allâhumma ḥabbib ilayya al-madînah kamâ ḥabbabta ilayya makkah (ya Allah, berilah aku kecintaan kepada Madinah sebagaimana Engkau telah memberiku rasa cinta kepada Mekah).

Oleh karena itu, Syekh Ḥafiḍ Ḥasan al-Mas‘ûdî (ulama al-Azhar) menyebutkan bahwa setiap Muslim harus cinta kepada tanah airnya sebagai bagian dari akhlak terpuji Islam (Durûs al-Akhlâq, II: 21-24).

Sebab, tanah air adalah tempat orang-orang atau para penduduk hidup. Mereka bernauang di bawah langitnya, tinggal di atas buminya, memakan tetumbuhan dan binatangnya, dan meminum airnya (Durûs al-Akhlâq, hlm. 21).

Pesan Buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis di Kontak Ini

Dalam konteks Indonesia, K.H. D. Nawawi Imron mengatakan secara indah dalam puisi bertajuk “Indonesia Tanah Sajadah” bahwa: kita minum air Indonesia menjadi darah kita; kita makan buah-buahan dan beras Indonesia menjadi daging kita; kita menghirup udara Indonesia menjadi napas kita; kita bersujud di atas bumi Indonesia. Bumi Indonesia menjadi sajadah kita; suatu saat nanti kita mati; kita akan tidur pulas dalam pelukan bumi Indonesia; daging kita yang hancur akan menyatu dengan harumnya bumi Indonesia. Beliau melanjutkan bahwa: tanah air adalah ibunda kita; siapa mencintainya; harus menanaminya dengan benih-benih kebaikan dan kemajuan; agar Indonesia yang indah semakin damai dan indah. Tanah air adalah sajadah; siapa mencintainya; jangan menciprati dengan darah; jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat dan permusuhan. Tanah air Indonesia adalah sajadah.

Menurut Syekh Ḥafiḍ al-Mas‘ûdî, salah satu bentuk cinta tanah air adalah: melakukan kegiatan-kegiatan yang secara nyata mengarah kepada kebaikan, pengembangan, kemajuan, dan kemuliaan tanah air (negara); mementingkan pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki negara; menjaga kedaulatan dan membela keagungan dan kemuliaan negara; dan mendidik jiwa-raga para pemuda dengan pendidikan agama yang baik dan benar dan menjadikan mereka orang-orang yang ahli dalam bidang masing-masing. Sehingga mereka menjadi panutan yang baik dan generasi bangsa yang tulus dalam bekerja yang sama-sama merasakan kebebasan yang utuh, penghidupan yang baik, dan hidup bahagia (Durûs al-Akhlâq, hlm. 22).

Oleh karena itu, para pelajar harus belajar dengan giat dan sungguh-sungguh sehingga nantinya menjadi generasi yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa; para pedagang harus berdagang secara murni dan tidak melakukan kecurangan-kecurangan; para pekerja harus bekerja secara baik; para petani harus senantiasa memperbaiki pertaniannya; para tentara harus rela mengorbankan jiwa-raganya untuk menjaga negara; dan para pendidik harus mendidik para peserta didik dan membimbing mereka kepada perkara-perkara yang baik.

Beberapa hal ini merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an (al-Mâ’idah (5): 2): “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (Durûs al-Akhlâq, hlm. 22-23). Wa Allâh wa A‘lam wa Aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here