Cicil Sewa, Awas Bisa Tercebur Praktik Riba! Simak Bagaimana Praktiknya yang Benar dalam Islam!

0
30

BincangSyariah.Com – Hari ini beredar kabar, bahwa perusahaan Cicilsewa sedang menjalin kerjasama dengan dengan PT Kimia Farma yang bergerak dalam waralaba farmasi, untuk mengembangkan sebuah program usaha sewa tempat melalui akad cicil sewa.

Istilah cicil-mencicil semacam ini secara tidak langsung  mengarahkan memori kita dengan praktik jual beli kredit (bai’ bi al-taqshith) atau dikenal juga sebagai istilah bai’ nasa’. Hanya saja obyek akadnya berbeda. Jika jual beli kredit, maka obyek baarangnya terdiri dari barang fisik (‘ain al-manfaat).

Nah, cicil sewa, obyek barangnya terdiri dari bukan barang fisik, melainkan manfaatnya barang fisik (manfaat al-’ain). Jadi, inilah latar belakangg dari akad cicil sewa tersebut, yang bila diistilahkan dalam bahasa Arab, mungkin namanya menjadi ijarah bi al-taqshith.

Apakah ada perbedaan dengan akad ijarah pada umumnya? Ini yang akan kita kupas pada kesempatan kajian kali ini.

Prinsip dari Akad Ijarah

Ijarah merupakan cabang dari jual beli. Ini pertama kali yang harus kita ingat dalam pokok kajian inii.

Sebagai cabang dari jual beli, maka segala ketentuan yang  berlaku dalam ijarah, juga berlaku dalam jual beli.

Dengan demikian, jika di  dalam jual beli ada istilah kontan, tempo, atau kredit, maka di  dalam akad sewa (ijarah) pun juga berlaku istilah yang sama, yaitu ijarah kontan, tempo, dan kredit.

Bahkan ada istillah ijarah salam (pesan/inden). Ini adalah sebuah keniscayaan. Bagaimana gambaran masing-masing dari akad tersebut? Simak selengkapnya, uraiannya!

Ijarah Kontan, Ijarah Tempo, dan Ijarah Kredit

Di  dalam jual beli yang sering kita praktikkan, maka yang dinamakan dengan jual beli  kontan adalah jual beli yang dilakukan secara langsung tunai di majelis akad. Pihak pembeli menyerahkan harga (tsaman), dan pihak penjual menyerahkan barang (mabi’).

Nah, yang berlaku di dalam akad ijarah kontan juga kurang lebihnya sama, yaitu pihak yang mencari sewaan (mustta’jir) langsung tatap  muka dengan pihak yang menyewakan (ajir), melihat  kondisi tempat yang hendaka disewa, dan lalu terjadi serah terima di majelis akad berupa ujrah (harga sewa) dengan barang yang hendak disewa manfaatnnya (ain al-manfaah).

Misalnya, anda bepergian, lalu bingung mencari  tempat untuk menginap. Lalu ketemu rumah tinggal / penginapan (home stay). Lalu anda bertanya adakah kamar yang kosong, kemudian dijjawab ada.

Anda lalu menyerahkan harga sewa sebesar ketentuan untuk menginap selama 1 malam, dan  pihak penginapan menyerahkan kunci kamar. Nah, akad seperti ini, adalah termasuk akad sewa kontan.

Ijarah tempo ini ditandai dengan penyerahan barang yang disewa dulu, lalu anda membayar belakangan ketika hendak memutuskan keluar dari penginapan, mengakhiri masa kontrak. Jadi, miriip dengan akad jual  beli tempo, di mana ada penyerahan barang terlebih dulu, sementara harganya diserahkan belakangan.

Apakah akad seperti ini adalah sah? Jawabnya adalah sah, namun dengan syarat yaitu harga sewa sudah menjadi kemaklluman bersama (diketahui  bersama). Yang tidak boleh adalah harga sewa tidak diketahui di awal saat terjadi transaksi dan penyerahan kunci kamar. Alhasil, ada praktik spekulatif (gharar) di dalamnya.

Akad ijarah ini secara tidak langsung bisa diartikan dengan istiilah cicil sewa. Polanya juga sama dengan akad jual beli kredit (bai’ bi al-taqshith). Istilah taqshith merupakan istilah lain dari cicilan. Bagaimana mekanismenya?

Kalau di dalam jual beli, akad kredit ini dilakukan dengan jalan barang sudah dibawa dulu oleh pembeli, kemudian harganya diangsur selama masa waktu tertentu. Misalnya dalam waktu satu tahun, dan sejenisnya.  Syarat kebolehan akad ini di dalam Islam adalah wajibnya harga barang tersebut sudah diketahui secara pasti oleh pembeli di awal waktu transaksi itu dilakukan.

Ketidaktahuan pembeli terhadap harga barang, menjadikan transaksi tersebut menjadi berlaku gharar (spekulatif). Adanya denda keterlambatan angsuran di tengah-tengah masa cicilan, juga merupakan  bagian dari akad yang dilarang, sebab memenuhi kaidah umum yang   berlaku, yaitu qardlu jara naf’an fahuwa riba (utang mennarik kemanfaatan sehingga riba).

Lantas, bagaimana akad itu berlaku pada akad ijarah bi al-taqshith (cicil sewa) ini berlaku? Polanya adalah sama dengan jual beli, yaitu  harga dan durasi kontraknya sudah ditetapkan di muka dulu. Misalnya,  kontrak sewa selama 1 tahun ditetapkan sebesar 12 juta rupiah. Lalu setiap bulannya pihak yang  menyewa mengangsur sebesar 1 juta rupiah. Tidak boleh ada biaya tambahan yang lain, seumpama denda keterlambattan angsuran dan sejenisnya. Jika denda keterlambatan itu terjadi, maka itu juga sama artinya dengan praktik riba nasiah (riba kredit).

Lho, ustadz, bagaimana dengan denda keterlambattan saat kita terlambat membayar rekening listrik atau tagihan ttelepon dari Telkom? Bukankah itu juga rutin bulanan pembayarannya?

Untuk menjawab masalah ini, coba anda cermati kembali pola pembayaran tagihan  rekening listrik dan Telkom anda itu! Anda sama sekali tidak melakukan kontrak sewa pakai dengan PLN  atau Telkom selama durasi 1 tahun, bukan?

Misalnya 1 tahun 2 juta, atau 5 juta. Tidak, bukan? Yang ada, kontrak itu terjadi dengan berbasis penggunaan / konsumsi daya listrik dan pesawat telepon yang  anda pakai. Dan di dalam klausul pembayaran, bila waktu pembayaran dilakukan  melebihi tanggal sekian dan tanggal sekian, maka harga bertambah sekian dan sekian.

Apakah tambahan ini merupakan riba? Sudah barang tentu tidak, disebabkan  sudah ada nota klausul yang disebutkan. Tambahan di situ merupakan bagian dari ketentuan harga baru tagihan sebab harganya  yang tidak membengkak setiap bulannya seiring  bertambahnya penundaan. Alhasil, memenuhi skema harga sewa baru.

Seolah akad yang berlaku antara konsumen dengan perusahaan adalah sebagaimana pernyataan berikut dalam jual beli: “Harga beli barang adalah 10 ribu rupiah jika dibeli sebelum tanggal 10 bulan depan. Namun, bila dibeli di atas tanggal 10, maka harganya 12 ribu rupiah.”

Akad seperti ini adalah boleh disebabkan barangnya belum dibawa oleh  pembeli. Dan yang dinamakan “akad” dalam jual beli, adalah ketika pihak pembeli sudah mendatangi penjual dan mulai terjadi transaksi. Jika transaksinya terjadi di atas tanggal 10, maka itu artinya pembelian itu mengikuti harga di atas tanggal 10, bukan?

Hal yang sama juga berlaku pada pembayaran sewa pakai meteran listrik PLN dan jasa telekomunikasi Telkom. Seolah akad yang terjadi, adalah: “Harga ijarah pulsa ini adalah 10 ribu rupiah per KWh-nya jika dibeli sebelum tanggal 10. Jika dibeli di atas tanggal 10, maka harganya sesuai harga normal ditambah 2 ribu rupiah.

Yang dinamakan “akad” dalam ijarah (sewa), adalah berlaku saat konsumen itu mendatangi tempat Counter Pembayaran Tagihan “Rekening” (Ingat: Tagihan “Rekening”, dan bukan “Tagihan Uang”!). Jika obyek akadnya (ma’qud ‘alaih-nya), adalah “Tagihan Rekening”, maka yang berlaku adalah “harga” bisa menyesuaikan waktu terjadinya transaksi, yaitu saat pembayaran “rekening”.

Lain halnya dengan “Tagihan Uang”, maka “uang” tidak bisa menyesuaikan dengan “waktu” penyerahan, sebab penyesuaian dengan waktu pada ma’qud ‘alaih berupa uang, adalah sama halnya riba. Riba hanya berlaku pada barang ribawi (emas, perak (uang) dan bahan makanan). Alhasil tidak ada istilah “riba rekening”.

Ijarah Salam (Pesan Sewa)

Ijarah salam merupakan kebalikan dari ijarah tempo dan kredit. Mekanismenya sama dengan jual beli dengan akad salam (pesan barang). Cirinya, ada penyerahan harga terllebih dulu, baru barangnya diserahkan kemudian.

Jadi, dalam ijarah salam, berlaku ketentuan penyerahan harga terlebih dulu juga. Sementara itu manfaatnya barang, baru diserahkan saat tanggal dan waktu  yang telah ditentukan.

Praktik ijarah salam ini, biasanya terjadi pada akad booking tiket pesawat atau kapal penyeberangan, atau bahkan juga hotel dan tempat penginapan. Mereka yang terjun  dalam bisnis backpaker biasanya sering memanfaatkan konsep ijarah salam ini.

Kesimpulan

Akad cicil sewa, adalah termasuk akad ijarah bi al-taqshith. Tata caranya menyerupai akad bai bi al-taqshith (jual beli secara mencicil /kredit). Ketentuan yang harus diperhatikan adalah harga sewanya harus sudah dipatok, misalnya 1 tahun. Cicilan dilaksanakan setiap bulan sesuai dengan besaran harga.

Tidak boleh menarik kemanfaatan berupa keterlambatan pembayaran sehingga membuat nominal harga sewa menjadi melebihi harga yang sudah dipatok untuk satu tahunnya. Bila hal itu terjadi, maka terjadilah praktik riba, yaitu riba nasiah yang berbasis ijarah.

Akad Ijarah merupakan bagian dari akad jual beli, sehingga segala hal yang berlaku pada jual beli, berlaku pula pada akad ijarah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here