Cerita-Cerita Unik tentang Perilaku Berpuasa Orang Terdahulu

0
843

BincangSyariah.Com – Berpuasa, dalam ajaran Islam memang yang diwajibkan hanya 1 bulan, yaitu di bulan Ramadhan. Selebihnya adalah puasa sunnah kecuali puasa wajib yang ditinggalkan dan harus dibayar, menurut pendapat sebagian ulama, atau puasa nazar (janji langsung kepada Allah) yang sudah terucap. Puasa sunnah tersebut bermacam-macam, mulai dari puasa Muharram, puasa senin-kamis, puasa pertengahan bulan (ayyam al-bidh), ataupun puasa Dawud.

Al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, ketika menjelaskan keutamaan puasa Muharam, ia menyebut sekian kisah bagaimana orang-orang shalih terdahulu seringkali memperbanyak berpuasa. Misalnya, sebagian para tabi’in dikisah karena seringnya berpuasa, mereka badannya sampai kurus. Ada juga sosok bernama al-Aswad bin Yazid, sampai badannya menguning badannya karena seringnya berpuasa. Ketika ia dikritik karena tidak perhatiannya ia pada tubuhnya sendiri, Aswad bin Yazid menjawab:

كرامة هذا الجسد أريد

kemuliaan tubuh ini yang aku inginkan.

Ada juga seorang bernama ‘Amir bin Abdullah bin Zubair, yang wafat sementara ia masih dalam keadaan berpuasa. Ada lagi sosok bernama Abu Bakar bin Abi Maryam, yang dalam keadaan sakaratul maut, namun ia masih dalam keadaan berpuasa. Orang-orang yang menjaganya menawarkan air minum kepadanya. Namun ia menolak untuk meminumnya. Ketika ditawarkan kembali saat sakaratul maut membuatnya semakin parah, ia lalu berkata lirih: “sudah maghrib?” Orang-orang yang menjaganya mengiyakan. Lalu mereka meneteskan air sedikit kepada Abu Bakar bin Abi Maryam agar ia berbuka. Setelah selesai, beliau wafat.

Dari kisah-kisah tersebut, kita mungkin menangkap ada kesan “berlebihan” dimana ada yang sampai memaksakan berpuasa bahkan dalam keadaan yang sebenarnya dibolehkan untuk tidak berpuasa atau puasanya hukumnya tidak wajib.

Baca Juga :  Bolehkah Menggantikan Lempar Jumrah untuk Orang yang Sakit?

Tapi, orang-orang terdahulu sampai pada tingkat bahwa dunia ini hakikatnya adalah momen berpuasanya orang bertakwa. Saat berbuka yang hakiki menurut mereka adalah saat mereka wafat dan bertemu Tuhan. Ini seperti disebutkan dalam syair yang dikutip oleh Ibn Rajab al-Hanbali,

وقد صمت عن لذات دهري كلّها * ويوم لقاكم ذاك فطر صيامي

Saya sudah berpuasa dari seluruh lezatnya kehidupan *** dan hari bertemu Engkau (ya Allah) adalah hari berbuka puasaku.

Puasa juga dimaknai sebagai relasi paling rahasia tapi intim antara hamba dengan Tuhannya. Konon, ada pernyataan dari Nabi Isa As.,

إذا كان يوم صوم أحدكم فليدهن لحيته ويمسح شفتيه من دهنه، حتى ينظر إليه الناظر فيظنّ أنه ليس بصائم

Di hari kalian berpuasa, basahilah janggut kalian dan usaplah bibir kalian dengan basuhan janggut itu, sampai orang-orang melihat kalian tidak sedang berpuasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here