Catatan Atas Buku Sains Religius Agama Saintifik Karya Haidar Bagir dan Ulil Abshar

0
518

BincangSyariah.Com – Wajar jika banyak orang punya ekspektasi yang berlebihan atas kehadiran buku ini. Pada masa pandemi yang tak menentu, banyak orang mulai meragukan keberadaan Tuhan karena Covid-19. Orang-orang kian meneguhkan kepercayaan pada sains. Mereka yakin hanya sains yang bisa menjawab permasalahan tersebut.

Segala hal yang berlebihan memang tidak baik. Maka, kita mestinya menjadi gelas kosong saat membaca sebuah buku dan menikmati peristiwa pembacaan yang terjadi. Sains dan agama adalah dua bidang yang sangat berbeda. Jikapun bertemu, keduanya tetap terpisah sebab berangkat dan berlandaskan epistemologi dan ontologi yang jauh berbeda.

Seperti tertulis dalam sampul bukunya, Sains Religius Agama Saintifik: Dua Jalan Mencari Kebenaran, Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla tidak membenturkan atau mempertentangkan keduanya. Dua tokoh Islam Indonesia tersebut mengurai melalui pengalaman dan pemikiran mereka bahwa sains dan agama punya dua landasan kebenaran yang berbeda.

Buku setebal 172 halaman ini memiliki dua bagian utama. Pertama, esai-esai Haidar Bagir, seluruhnya berjumlah 14 tulisan. Kedua, esai-esai Ulil Abshar Abdalla dengan total 11 tulisan. Tulisan keduanya berangkat dari pengalaman pribadi, diformulasikan dengan pengetahuan dalam pikiran, lalu direfleksikan melalui tulisan. Tulisan-tulisan tersebut berupa patahan-patahan, bukan esai dengan uraian yang runtut dan lengkap.

Dalam bagian pertama, kita akan langsung kecewa. Tulisan-tulisan Haidar dibuat dengan judul receh tanpa merecehkan substansi atau isi esainya. Ini tentu saja mengurangi estetika penyusunan. Terlebih, bagi pembaca Haidar yang setia, judul dan isi yang jomplang, terasa seperti jebakan, dan justru mengurangi kenikmatan membaca.

Entah bertujuan apa, namun jika tujuannya adalah menggaet anak muda, cara ini tentu tidak efektif sebab apa yang ingin disampaikan tidak se-receh judulnya. Jika saja bahasa dalam esai diturunkan seperti judulnya, anak-anak muda tentu lebih tertarik dan mau membacanya sampai selesai.

Baca Juga :  Alim yang Fasik atau Bodoh yang Taat?

Bagian kedua memuat esai-esai Ulil Abshar Abdalla yang terkesan lebih serius ketimbang tulisan-tulisan Haidar Bagir di bagian sebelumnya. Ulil mengkritik new atheism Richard Dawkins lewat bukunya Outgrowing God dan dalam bagian akhir, ia memaparkan sedikit tentang pemikiran Al-Ghazali, filsuf yang dituduh membunuh filsafat, tapi menurut Ulil, Al-Ghazali justru cemat dan tepat sekali dalam memotret masalah kefilsafatan di masa lampau.

Seperti dalam buku-bukunya yang lain, Haidar selalu mengawali argumentasinya dengan benefits of the doubt. Selalu ada keraguan dan kemungkinan dalam setiap argumennya. Untuk itu, ia memulai bagiannya dengan esai berjudul: Ekstremis Agama Sudah Lumrah. Ekstremis Sains, Waduh!. Judul yang cukup “menganggu”, bukan?

Dalam esai pertama tersebut, ia membahas soal Stephen Hawking dan Richard Dawkins, lalu menunjukkan bahwa agama dan sains punya dua landasan kebenaran yang berbeda. Agama berkait-kelindan dengan rasionalisme sedangkan sains tentu saja dengan empirisme.

Banyak pertanyaan diajukan Haidar dalam esai-esai berikutnya seperti dalam esai ketiga, Metode Sains Lebih Baik daripada Agama dan Filsafat? Selain rasional dan empiris, Haidar berupaya menghadirkan daya berpikir lain yakni spiritualisme.

Tapi tenang saja, meskipun menemui beberapa kekecewaan, Haidar berhasil menyuguhi pembaca dengan esai terakhir yang meskipun tidak mengemukakan solusi, tapi setidaknya bisa menjawab permasalahan sains dalam Islam.

Esai terakhirnya berjudul Kemiskinan, Kemalasan, dan Otoritarianisme: Sumber-sumber Keterbelakangan Dunia Islam di Bidang Sains, memaparkan lima alasan mengapa anggaran riset sains di negera-negara Muslim terlampau kecil. Setelahnya, seolah menggaungkan optimisme, ia merunut negara mana saja yang telah melaksanakan proyek besar di bidang sains seperti Iran dan Arab Saudi.

Berbeda jauh dengan pemaparan Haidar, Ulil memulai bagiannya dengan tulisan bertajuk Antara Sains dan Soto. Ia menganaolgikan bahwa sains dan agama serupa soto dengan rasa yang tak sama. Jika Si A menyukai soto agama, maka si B yang menyukai soto sains tidak boleh menyalahkan bahkan menyerang. Begitu pun sebaliknya.

Baca Juga :  Pengajian Ihya' Gus Ulil: Mengajarkan Anak Kesederhanaan dan Sikap Berbagi

Esai-esai berikutnya adalah komentar Ulil tentang Richard Dawkins dan dominan tentang pemikiran Al-Ghazali. Ia bahkan memberikan catatan kecil dalam esai berjudul Tentang Korelasionisme untuk Goenawan Mohamad (GM) yang menyinggung Quentin Meillassoux, seorang filsuf Prancis.

Bagi Ulil, GM telah berhasil membawa dirkusus menarik tentang sains. Tidak semata-mata manusia harus melaksanakan sikap berkhidmat, tapi juga mesti curiga. Metafisika sinis pada agama, maka metafisika juga mesti sinis terhadap sains.

Seperti Haidar, Ulil juga mengkritik Richard Dawkins dengan menyatakan Dawkins telah berasumsi bahwa agama dan masyarakat beragama adalah statis, mandek, tidak mengalami perkembangan dan pendewasaan. Dawkins telah melakukan esensialisasi a-historis yang menggelikan.

Ulil ingin menunjukkan bahwa argumentasi Dawkins sangat keliru sebab tidak semua orang beragama berpikiran kerdil dan eksklusif. Ada banyak orang beragama, terutama dalam Islam, yang sangat canggih dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Ia menceritakan tokoh seperti Cak Nur atau Nurcholis Majdid, Gus Dur atau Abdurrahman Wahid dan Buya Syafii Ma’arif.

Jika Haidar menutup bagiannya dengan optimisme bahwa negara-negara Islam sedang berusaha bangkit dengan mengembangkan sains lewat penelitian canggih, Ulil justru menutup bagiannya dengan catatan untuk emak atau ibunya.

Dalam esai berjudul Jangan Juga Rendahkan Cara Beragama Orang Awam tersebut, ia menceritakan bagaimana sang ibu beragama dengan cara yang sangat sederhana. Baginya, jika ingin melihat beragama yang dijalankan dengan ikhlas dan intensitas yang mendalam, tanpa pretense keilmiahan, lihatlah cara beragama emak-emak di kampung.

Buku ini serupa pintu gerbang yang mengantarkan kita pada satu bangunan bernama dunia yang didalamnya banyak terdapat penafsiran manusia. Terbukalah ruang-ruang seperti sains, agama dan seni. Haidar dan Ulil bertugas membukakan gerbangnya, menuntun pembaca ke ruang-ruang yang berbeda sebagai guru, penunjuk jalan.

Baca Juga :  Keutamaan Minum Sisa Air Orang Saleh

Seperti apa yang disampaikan Ihsan Ali-Fauzi dalam esai pengantarnya untuk buku ini, Belajar dari Dua Guru, kita sangat beruntung, dua tokoh ini mau menjadi guru bagi kita, orang awam yang masih perlu belajar dan terus belajar untuk lebih memaknai kehidupan, bisa lewat agama, bisa juga lewat sains.

Judul               : Sains Religius Agama Saintifik

Penulis             : Haidar Bagir & Ulil Abshar Abdalla

Penerbit           : Penerbit Mizan

Edisi                : Pertama, Agustus 2020

Tebal               : 172 halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here