Cara Tarjih Sanad Riwayat Marfu’ dan Mauquf yang Bertentangan

0
202

BincangSyariah.Com – Hadis sebagai sumber kedua dalam Islam perlu dipelajari, diteliti, dan diamalkan. Untuk memahami Hadis dibutuhkan ilmu Hadis atau disebut juga Mushtalah Hadis. Hadis yang digunakan menjadi sumber dalam Islam haruslah sahih, hasan atau dhaif yang tidak parah, seperti maudhu’ dan munkar.

Untuk menilai kualitas suatu hadis, kita diharuskan meneliti sanad dan matan hadis tersebut. Selain itu, kita juga harus membandingkan dengan hadis lain yang masih dalam satu tema dengan yang kita teliti.

Artinya, kita tidak bisa memutuskan suatu hukum dengan satu hadis yang kita teliti saja, melainkan harus jam’ur riwayat (mengumpulkan seluruh hadis yang satu tema). Dalam literatur ilmu Hadis, semua riwayat yang berkaitan dengan hadis yang kita teliti disebut Syahid dan Mutabi’.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan memaparkan hasil penelitian yang saya lakukan mengenai sebuah hadis yang diriwayatkan dalam dua versi. Ada yang perawinya meriwayatkan hadis tersebut berupa marfu’. Artinya, hadis tersebut sanadnya sampai ke Rasulullah. Sementara itu, riwayat lain menyebutkan hanya mauquf. Artinya, sanad hadis itu hanya sampai pada sahabat. Berikut redaksi hadis tersebut:

إن للشيطان مصالي وفخوخا، وإن من مصاليه وفخوخه البطر بنعم الله والفخر بعطاء الله والكبر على عباد الله واتباع الهوى في غير ذات الله

Redaksi hadis yang diriwayatkan oleh Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi dalam Ma’rifat  wat Tarikh menggunakan versi marfu’. Artinya, dalam hadis riwayat ini, Sahabat an-Nu’man bin Basyir mendengar langsung dari Rasulullah Saw. Selain al-Fasawi, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyqa, juga meriwayatkan hadis ini dalam versi marfu’.

Sementara itu, beberapa perawi hadis lain meriwayatkannya dengan versi mauquf. Mereka adalah al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir, al-Kharaithi dalam I’tilalul Qulub dan Masawiul Akhlaq wa Madzmumuha, Ibnu Bisyran dalam Amali Ibn Bisyran, Ibnu Abi Dunya dalam Ishlahul Mal, dan Ibnu Asakir dalam riwayatnya yang lain di Tarikh Madinah Dimasyqa.

Bagaimana cara mendiskusikan kedua riwayat yang bertentangan ini? Pertama, kita harus melacak biografi sahabat dalam hadis yang sedang kita teliti. Dalam hadis yang saya teliti ini, sahabat yang tercantum dalam sanad hanyalah an-Nu’man bin Basyir. Artinya, hadis ini tidak mempunyai Syahid, hanya Mutabi’ saja. Kebetulan, ketika saya melacak biografi an-Nu’man, terdapat informasi bahwa an-Nu’man hanya menerima dua sampai tiga hadis dari Nabi, tidak termasuk hadis ini. Hal ini dapat dimaklumi karena an-Nu’man merupakan sahabat junior (shigharus shahabah).

Baca Juga :  Menjadi Pencinta Sejati

Waktu itu, an-Nu’man lahir 4 bulan sebelum perang Badar berlangsung. Artinya, an-Nu’man lahir pada 2 hijriah. Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa an-Nu’man lahir pada 1 hijriah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa usia an-Nu’man baru mencapai 9-10 tahun. Layaknya anak kecil pada umumnya, tentu wajar jika an-Nu’man tidak banyak meriwayatkan Hadis langsung dari Nabi, mengingat usianya yang masih dini pada waktu itu.

Kedua, menurut as-Suyuthi dalam Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib an-Nawawi, ketika terjadi perbeda versi periwayatan seperti hadis di atas, maka ambiillah riwayat yang lebih banyak dalam jumlah perawinya. Tentu, perawi yang dimaksud adalah yang memenuhi kriteria periwayatan Hadis, seperti tsiqat dan dhabith. Setelah saya teliti dengan seksama, periwatan versi mauquf lebih banyak daripada yang marfu’. Atas dasar dua alasan di atas, saya menyimpulkan bahwa versi mauquf lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada versi marfu’. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here