Cara Nabi Saw Membangun Komunikasi dengan Pihak Oposisi

0
555

BincangSyariah.Com – Tak dapat dipungkiri, Nabi Muhammad saw adalah satu-satunya pemimpin yang berhasil menaklukkan Kota Mekah tanpa pertumpahan darah setetespun. Padahal, menurut riwayat yang disebutkan Abu Daud dalam kitab Sunan-nya, beliau memiliki 10.000 prajurit/muqatila berkekuatan penuh dan bersenjata lengkap. Bahkan, sekiranya seluruh penduduk Mekah bersatu melawan pasukan muslim, mereka bisa dengan mudah dihabisi dalam waktu sekejap.

Nabi saw dan pengikutnya juga punya alasan yang sangat kuat untuk menghancurkan Mekah. Mereka sering dicaci maki, disakiti, diembargo, dijarah, diusir, bahkan hendak dibunuh oleh kaum Quraisy Mekah selama lebih dari sepuluh tahun.

Nabi saw menunjukkan itikad baik membangun hubungan harmonis dengan komunitas oposisi yakni kaum musyrikin. Meski teror psikis dan tindakan anarkis dilakukan tanpa henti, Nabi saw tetap mengedepankan prinsip sabar, lemah lembut, dan debat santun. Tanpa tindakan tersebut, tentu kuantitas komunitas Muslim tidak akan semakin bertambah dan mampu bertahan selama belasan tahun. Kesantunan dan kepribadian Nabi saw menggugah kesadaran dan kebenaran misi kenabiannya serta membantah tuduhan negatif yang diprovokasikan oleh komunitas musyrikin Mekah.

Dalam kitab At-Thabaqat karya Ibnu Sa’d diceritakan bahwa Nabi saw pernah menyambut hangat kunjungan 60 tokoh Nasrani Najran pada tahun ke 10 Hijriah. Ketika rombongan tersebut sampai di Madinah, mereka langsung menuju masjid. Saat itu, Nabi saw sedang melaksanakan shalat Asar berjamaah. Mereka datang dengan memakai jubah dan surban. Ketika waktu kebaktian tiba, mereka tidak perlu mencari gereja karena Nabi saw memperkenankan mereka untuk menjalankan kebaktian di masjid.

Dalam kisah ini terdapat teladan interaksi harmonis antar-agama. Sikap toleransi itu mewujud pada; Pertama, para tokoh Nasrani Najran mengadaptasikan diri secara busana dengan mengenakan jubah dan surban sebagai sebuah penghormatan kunjungan kepada Nabi saw dan komunitas muslim. Kedua, mereka bersedia menunggu Nabi saw hingga shalat Asar usai. Ketiga, Nabi saw menyambut para tamu dengan hangat di masjid meski berbeda agama. Keempat, bahkan Nabi saw memberi kesempatan bagi mereka untuk melakukan kebaktian di masjid.

Baca Juga :  Ragam Hukum Bunga Bank Menurut Ulama

Interaksi damai yang Nabi Saw contohkan ini sesuai dengan misi Islam yang menekankan untuk  senantiasa membangun interaksi beda agama atas dasar komunikasi yang damai. Dalam Q.S al-Mumtahanah ayat 8, pembangunan relasi harmonis dan keadilan terhadap orang lain harus selalu diupayakan selama ia yang berbeda agama tidak berbuat jahat pada umat Islam.

Sebagaimana dikisahkan Nuruddin al-Haytsami dalam kitabnya Bughyat al-Bahith ‘an Zawa’id Musnad al-Harith, ketika mendengar Nabi saw beserta pasukan dalam jumlah besar mulai memasuki Mekah pada tahun ke-8 Hijriah, para pemuka Quraisy yang dulu pernah menyakiti Rasul kalang kabut. Kekuatan Mekah kalaupun disatukan tak akan mampu menghadapi gelombang umat Islam yang datang.

Sementara itu, mereka tidak mungkin meminta bantuan dari kota lain. Akhirnya, banyak orang Quraisy melarikan diri dan mencari suaka di tempat lain, tak terkecuali Shafwan ibn Umayyah yang buru-buru pergi menuju pelabuhan Jeddah. (Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebenarnya, ia bukan hendak menuju Yaman namun ingin bunuh diri dengan menyelam ke dalam lautan)

Shafwan ibn Umayyah beserta ayahnya (Umayyahh Ibn Khalaf) adalah tokoh penting Quraisy yang sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Maka, kekalutan Shafwan sangat masuk akal. Mengetahui Shafwan pergi, Umair ibn Wahab sepupunya (yang di masa lalu pernah diperintahkan oleh Shafwan untuk membunuh langsung Nabi saw), segera melapor kepada sang baginda. Apa kata Nabi? “Sampaikan kepada Shafwan, aku menjamin keselamatannya.” Umair tidak puas dengan pernyataan tersebut. “Berilah aku sebuah jaminan wahai Rasul.” Rasulullah saw kemudian menyerahkan sebuah surban. Umair segera menyusul Shafwan ke pelabuhan di Jeddah. Setelah bertemu, Umair mengajak shafwan untuk kembali ke Mekah. “Muhammad telah menjamin keselamatanmu,” begitu paksanya.

Baca Juga :  Pentingnya Belajar dan Waktu yang Tepat Untuk Mengingat Pelajaran

Pada mulanya Shafwan tidak percaya pada perkataan sepupunya itu, namun setelah diberi jaminan berupa surban Rasul, akhirnya ia mau mengikuti Umair untuk kembali ke tanah Mekah. Setelah berjumpa dengan Nabi saw, shafwan berkata “Orang ini mengira dirimu menjamin keselamatanku.” ucapnya sambil menunjuk Umair. Nabi saw menjawab, “Ya. Umair benar.”

Inilah salah satu hal penting yang dilakukan Nabi saw dalam upaya menghapus permusuhan yang telah membakar Jazirah Arab selama lebih dari 20 tahun. Nabi saw membuka pintu maaf kepada mereka yang dulu pernah menyakitinya. Nabi saw merajut kembali simpul-simpul persaudaraan, menghapus beban sengketa, dan mewujudkan perdamaian di bawah panji-panji Islam. Upaya ini memang tidak mudah, tetapi mungkin untuk dilakukan.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here