Cara Mewujudkan Keluarga Sakinah dalam Keluarga Karir

0
835

BincangSyariah.Com – Tak bisa dipungkiri, hari ini banyak pernikahan mendapat ujian begitu kencang. Ujian itu bisa berasal dari intern atau ekstern keluarga. Pada akhirnya berujung perceraian. Di berbagai Pengadilan Agama mencatat angka perceraian tiap tahun kian melonjak. Banyak rumah tangga yang harus kandas di tengah jalan, bahkan tak jarang berhenti ketika usia pernikahan masih seumur jagung.

Pada zaman Jahiliyah dulu, berlaku pernikahan yang bodoh yang merendahkan martabat dan derajat seorang perempuan. Suami mengirim istrinya untuk digauli laki-laki lain agar mendapatkan keturunan yang berkualitas, tukar-menukar istri. Perempuan pada waktu itu seperti barang dagangan, diperlakukan seperti binatang, dikasari, dipukuli, karena dianggap sebagai kaum yang lemah. Tak hanya itu, para istri didiamkan di rumah, tidak boleh keluar rumah, apalagi bekerja.

Ketika Islam datang, kebiasaan yang ada pada Jahiliyah itu mulai memudar. Masyarakatnya menjadi beradab setelah menerapkan ajaran Islam. Perempuan dilindungi, dihormati derajat dan martabatnya, hak dan kewajibannya dijamin. Demikian pula kedudukannya di rumah tangga, istri diberikan porsi yang sama dengan suami sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Ajaran Islam itu tetap bertahan hingga hari ini.

Lazimnya suami memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Nafkah lahir maupun batin. Di samping suami memiliki kewajiban untuk memenuhi hak istri. Istri juga mempunyai kewajiban menunaikan hak suami. Di antaranya istri mempunyai kewajiban taat atau patuh terhadap suami, menjaga harta suami, mengurus rumah tangga serta mendidik anak dan mengasuhnya.

Sebagai penata ekonomi keluarga, istri harus mempunyai kecakapan, keterampilan, kreatifitas agar penerimaan dan penggunaan nafkah dapat mengarah pada peningkatan ekonomi keluarga. Keberadaan istri dalam relasinya dengan suami mengantarnya dalam relasi ibu dengan anaknya sehingga istri memiliki status tugas ganda yaitu sebagai istri dan ibu.

Baca Juga :  Inilah Penawar Pedihnya Cobaan Menurut Ibnu Athaillah

Apabila tugas dalam sebuah rumah tangga dibebankan kepada suami, tentulah memberatkan. Suami juga manusia yang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu, tugas-tugas dalam rumah tangga hendaknya ditanggung bersama antara suami dan istri.

Kebutuhan dalam rumah tangga semakin hari kian bertambah, bergerak mengikuti perubahan strata sosial, kemajuan peradaban IPTEK, serta permasalahan atau realita sosial. Ketika kebutuhan rumah tangga semakin kompleks, maka keluarga tidak cukup jika hanya mengandalkan nafkah kepada suami yang memiliki penghasilan kurang dari cukup.

Akhirnya semakin banyak pula para wanita atau istri ikut bekerja membantu suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tak sedikit pula dijumpai istri berperan membantu ekonomi keluarga. Sehingga pada akhirnya perempuan atau istri harus menerima konsekuensi logis, tugas atau kerja ganda sebagai istri. Di samping harus mengurusi suami dan ank-anaknya, istri juga harus ikut bekerja. Ketentuan diperbolehkannya istri ikut membantu suami dalam mencari nafkah sekiranya dalam kondisi darurat. Syarat tersebut juga disebutkan oleh para ulama ahli fikih.

Agama Islam memang tidak melarang perempuan atau para isteri untuk bekerja. Hanya saja persoalan tersebut juga tidak dianjurkan. Agama Islam membenarkan perempuan atau istri bekerja diluar rumah dengan catatan dalam keadaan darurat. Keterlibatan seorang istri dalam mencari nafkah atau bekerja untuk membantu suami dalam mencukupi kehidupan rumah tangga, akan membawa dampak positif. Dengan istri ikut bekerja, maka beban suami akan lebih ringan. Namun disisi lain, ada akibat negatif yang sangat fatal apabila tidak dipikirkan dengan matang. Kesibukan istri bekerja atau berkarir akan menyita waktunya di rumah akan semakin berkurang.

Permasalahan perempuan yang bekerja atau berkarir di ranah sosial dan ekonomi akan semakin pelik bilamana dihadapkan pada permasalahan aurat dan di dampingi oleh mahram. Persoalan pembentukan keluarga sakinah juga termasuk permasalahan yang tidak dapat dihindarkan oleh perempuan atau para istri yang ingin berkarir. Apapun motivasi atau alasannya, ketika wanita atau istri ikut bekerja akan mebawa dampak negatif bagi rumah tangga seperti urusan anak yang terlantarkan, terjerumus pada hal-hal negatif, dan memungkinkan terjadinya perceraian. Jika semua itu sampai terjadi, maka akan sulit mewujudkan keluarga yang sakinah.

Baca Juga :  Laki-Laki Terbaik Menurut Rasulullah

Sudah menjadi keharusan bahwa istri mempunyai kewajiban dalam rumah tangga ketika ia sudah menikah. Persoalan tersebut akan berbenturan jika ia juga berprofesi sebagai wanita karir. Keadaan semacam ini akan berpengaruh terhadap upaya mewujudkan keluarga sakinah. Di satu sisi seorang wanita sebagai istri atau ibu, di sisi lain ia juga sebagai wanita karir.

Berhubungan dengan hal ini, beberapa upaya harus dilakukan demi mewujudkan keluarga sakinah dalam keluarga karir di antaranya:

Pertama, suami dan istri laksana dua sayap burung yang tidak mungkin terbang tanpa salah satunya, oleh karena itu keduanya harus saling melengkapi, saling menopang, dan saling kerjasama. Dalam ungkapan al-Quran, suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami. Firman Allah sebagai berikut:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka …” (QS al-Baqarah: 187)

Kedua, perkawinan adalah ikatan yang kokoh “mitsaqan ghalizhan” (QS an-Nisa’: 21), sehingga harus bisa menyangga seluruh sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Kedua pihak diharapkan menjaga ikatan ini dengan segala upaya yang dimiliki. Tidak bisa yang satu menjaga dengan erat sementara yang lainnya melemahkannya.

Ketiga, perkawinan harus dipelihara melalui sikap dan perilaku saling berbuat baik “mu’asyarah bil ma’ruf” (QS an-Nisa’: 19). Seorang suami harus selalu berpikir, berupaya, dan melakukan segala yang terbaik untuk istri. Begitupun sang istri berbuat hal yang sama kepada suaminya.

Keempat, perkawinan mesti dikelola dengan musyawarah. Terlebih ketika dihadapkan oleh permasalah, suami dan istri harus bisa menemukan solusinya, bukan dengan cara mendiamkannya, tetapi dengan cara musyawarah. Karena musyawarah adalah cara yang sehat untuk berkomunikasi, meminta masukan, menghormati pandangan pasangan, dan mengambil keputusan yang terbaik. Dan jangan sampai luput berdo’a meminta petunjuk atas segala permasalah yang dihadapi.

Baca Juga :  Suami Pelit, Bolehkah Istri Mengambil Nafkah darinya Tanpa Izin?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here