Cara Mewujudkan Islam yang Kafah

0
774

BincangSyariah.Com Kemunduran umat Islam di abad 21 ini memunculkan banyak ijtihad dari para pemikir muslim. Satu diantaranya jargon “Islam yang kafah”. Persoalannya kemudian ialah pemaknaan yang bagaimana dalam memahami dan menerjemahkan Islam yang kafah itu. Dia antara pemaknaan itu, ada beberapa kelompok Islam tertentu memahami Islam yang kafah sebagai upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk negara.

Asumsinya, dengan mewujudkan negara Islam, kehidupan umat Islam akan diatur sedemikian rupa dengan cara-cara yang Islami. Pemahamannya, Islam tidak sekedar agama, melainkan juga negara. Al-Islamu dinun wa daulatun. Maka, merebut kepemimpinan negara dan mengubah bentuk dasar negara menjadi negara Islam adalah agendanya. Ini bisa dilihat dari kampanye-kampanye seperti khilafah, NKRI bersyariah dan seterusnya.

Namun, nampaknya usaha-usaha yang bersifat top-down semacam itu mengalami ketersendatan. Sehingga, ada pola baru yang dimainkan untuk menuju apa yang mereka sebut sebagai “Islam yang kafah”. Pola ini lebih bersifat buttom-up dibanding yang awal. Sehingga yang terjadi ialah “islamisasi” dari bawah. Mengislamkan setiap lini dan aspek kehidupan sosial masyarakat.

Imajinasinya semua aspek kehidupan manusia akan menjadi “ter-islam-kan”. Maka di sekitar kita muncul fenomena hotel syar’i, bank syar’i, perumahan syariah, wisata syar’i dan label-label syariah lainnya. Semua ini adalah upaya dalam rangka islamisasi kehidupan sosial untuk menuju Islam kafah. Berbeda dengan model merebut kepemimpinan dan kekuasaan, mereka lebih fokus pada basis sosial yang bisa “diislamkan”.

Problemnya kemudian, apakah yang dimaksud Islam yang kafah tersebut ialah cukup dengan mengislamkan negara beserta perangkat dan aparaturnya ataukah memberi label islami pada setiap sektor kehidupan masyarakatnya. Hemat penulis, untuk menjawab pertanyaan ini, ada sebuah hadis Nabi yang perlu kita ketengahkan. Hadis ini terekam dalam kitab Arba’in Nawawi. Bunyinya sebagai berikut:

Baca Juga :  Vladimir Putin Kutip Surat Ali Imran Ayat 103 saat Serukan Perdamaian di Yaman

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ

وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ،

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ  قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رواه مسلم

 

Hadis ini mengisahkan tentang dialog antara Nabi Muhammad dengan Jibril tentang agama Islam. menurut hadis ini, Islam sebagai agama terdiri dari tiga aspek utama. Ketiganya yaitu Islam, iman, dan ihsan. Di akhir hadis ini, Nabi menegaskan bahwa ketiganya merupakan (aspek) agama yang telah diajarkan kepada umat Islam danoleh karenanya harus diamalkan sebaik mungkin.

Islam ialah apabila kita telah mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad ialah utusanNya, melakukan salat, membayar zakat, berpuasa dan haji bagi yang mampu. Kemudian Iman yaitu meyakini dan memepercayai Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, utusan-utusanNya, hari akhir dan ketentuanNya baik ynag baik ataupun yang buruk. Sedangkan ihsan merupakan hidup dengan beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allah melihatmu. Sehingga dampaknya, dalam situasi apapun akhlak kita akan terjaga karena selalu diawasi oleh Allah.

Baca Juga :  Hukum Membaca Shalawat Sebelum Azan

Oleh karena itu, bagi penulis, menuju Islam yang kafah ialah proses penyempurnaan ketiga aspek agama ini. Jika hendak menjadi muslim yang kafah tentulah kita harus melaksanakan rukun Islam dengan baik seperti menunaikan zakat misalnya. Dengan membayarkan zakat, muncul kesadaran bahwa sesuatu yang kita miliki sejatinya terdapat bagian dari orang lain yang membutuhkan. Maka akan terjadi pemerataan kesejahteraan. Dan di dalam masyarakat yang adil dan sejahtera-lah, Islam yang kafah benar-benar hadir.

Di dalam aspek ihsan yang begitu menaruh perhatian pada akhlak misalnya, sudahkah kita menempatkan akhlak sebagai panglima dalam realitas kehidupan kita. Perilaku para elit yang belakangan tidak menunjukan etikanya adalah sedikit contoh bagaimana kondisi keberadaban masyarakat kita. Hal-hal semacam ini yang seharusnya menjadi fokus perhatian umat Islam.

Jadi, untuk menuju Islam yang kafah, semestinya bukan malah berangkat dari hal-hal yang parsial seperti aspek politik kekuasaan atau labelisasi Islam atas sektor-sektor tertentu yang malah menjerumuskan pada kepentingan bisnis belaka. Sudah semestinya kita merefleksikan cara beragama kita. Sudahkah kita mengamalkan ajaran-ajaran agama yang termuat dalam rukun Islam, iman dan ihsan. Jikalau sudah, apakah cara beragama kita sudah berdampak di kehidupan masyarakat. Disanalah arah untuk menuju Islam yang kafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here