Cara Menyucikan Air Sumur yang Terkena Najis

0
432

BincangSyariah.Com – Air sumur merupakan salah satu sumber air yang dikategorikan sebagai air yang suci dan menyucikan, dan merupakan salah satu sumber air yang banyak dimiliki masyarakat di perkampungan. Selain memiliki air yang jernih nan segar, sumur bisa dibilang sumber air yang sangat ekonomis dan praktis.

Pasalnya, kita tidak harus mengeluarkan biaya bulanan guna untuk membayar iuran pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), namun di balik kemudahan menggunakan air sumur biasanya terdapat berbagai macam masalah, seperti air yang keruh, kemasukan tikus sehingga dapat mempengaruhi terhadap warna, bau, serta rasa dari air tersebut.

Jika air sumur terkena bangkai tikus atau semacamnya, apakah air tersebut berubah menjadi air najis, jika demikian, bagaimana cara menyucikannya?

Jika air tersebut tergolong sedikit, yakni kurang dari ukuran dua kulah dalam istilah fukaha, maka diambil bangkainya (‘ainun najasah) terlebih dahulu, lalu airnya jangan dikuras, melainkan harus didiamkan sampai air tersebut menjadi banyak.

Hal itu bisa jadi jernih dengan sendirinya atau dengan alternatif lain, di antaranya menambahkan air sebanyak mungkin ke dalam sumur sampai menempuh batas minimal air dua kulah, setelah air menjadi banyak, lalu tidak ada perubahan yang signifikan baik secara warna, bau, maupun rasanya, maka air tersebut sudah kembali lagi menjadi air suci yang menyucikan.

Apabila air sumur yang terkena bangkai tersebut tergolong air yang banyak, maka jika tidak ada perubahan yang signifikan pada warna, bau, dan rasa, maka air tetap dalam keadaan suci dan menyucikan.

Tapi apabila air berubah dengan sebab bangkai tersebut, maka air dihukumi najis. Air akan kembali menjadi suci jika perubahan tersebut telah hilang, baik hilang dengan sendirinya maupun dengan alternatif lainnya.

Baca Juga :  Macam-Macam Air yang Boleh Digunakan untuk Berwudhu

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in

اذ تنجس ماء البئر القليل بملاقة النجس لم يطهر بالنزح, بل ينبغي ان لا ينزح ليكثر الماء بنع او صب ماء فيه, او الكثير بتغير به لم يطهر الا بزواله.

“Apbila air sumur yang sedikit terkena najis, maka tidak akan suci dengan sebab mengurasnya, melainkan harus menjadikan air tersebut banyak (dua kulah), dengan sebab keluar dari sumber air tersebut, atau dengan cara menambahinya. atau air banyak yang (terkena najis), dan air tersebut berubah karenanya, maka tidak akan suci kecuali perubahan tersebut telah hilang”( Fathul mu’in: 13). Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.