Cara Menguji Ketersambungan Sanad Hadis

0
6468

BincangSyariah.Com- Dalam khazanah keilmuan Islam, sebuah hadis tidak serta merta mendapatkan derajat Shahih atau Hasan begitu saja. Untuk mengetahui derajat sebuah hadis para ulama banyak yang meneliti hingga rela jalan bermil-mil jauhnya demi sebuah sanad hadis yang benar-benar tersambung hingga Baginda Rasul Saw.

Bagi kita yang hidup jauh dari zaman dan peradaban pada masa Nabi Saw. tentu sulit bagi kita menentukan dan mempercayai benarkah hadis ini berasal dari Rasulullah Saw. Bagaimana cara kita membuktikan bahwa para perawi sebuah hadis benar-benar bertemu sehingga terjaga ketersambungan sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad Saw.?

Para ulama ahli hadis telah mewariskan kepada kita khazanah keilmuan yang disebut dengan ilmu hadis. Yang mana dengan menyelaminya kita akan sampai pada petunjuk tatacara penelitian yang dengannya kita bisa tahu kevalidan sebuah hadis sebagai sandaran hukum kedua setelah Alquran.

Dalam ilmu hadis ada tiga cabang Ilmu Hadis yang harus kita pelajari, yaitu pengetahuan tentang istilah-istilah Ilmu Hadis (Musthalah Hadis), Ilmu Takhrij al-Hadits (metode penelitian hadis), serta Ilmu Pemahaman Hadis (Thuruq Fahm al-Hadits).

Nah, pada cabang Ilmu Takhrij al-Hadits lah akan kita pelajari beberapa cara untuk membuktikan apakah seorang perawi (penyampai redaksi hadis) mengambil langsung riwayat hadis yang disampaikannya dari orang sebelumnya (gurunya) atau tidak. Faktor-faktor berikut ini nanti akan berimplikasi terhadap ittishal (baca; tersambung) atau inqitha’nya (baca; terputus) sebuah rangkaian sanad.

Pertama, Mengenal Tahun Wafat Perawi Hadis.  Jika jarak wafat antara dua orang perawi sangat jauh, maka berkemungkinan ada sanad yang terputus antara keduanya atau boleh jadi sang perawi menyembunyikan nama gurunya dan menisbatkan riwayatnya ke guru dari gurunya secara langsung (dalam Ilmu Hadis perawi yang seperti ini disebut juga dengan rawi mudallis), maka bisa diasumsikan bahwa sanad tersebut adalah inqitha’. Tapi jika jarak wafat keduanya masih berdekatan, maka ada kemungkinan sanad hadis tersebut ittishal.

Mengenal tahun wafat antar perawi hanya salah satu dari beberapa metode untuk menguji ketersambungan sanad. Tidak serta merta dengan tahun wafat yang berdekatan dua orang perawi sudah dianggap otomatis bertemu antar satu sama lain, tapi itu hanya satu dari beberapa indikator ittishal .

Kedua. Selain tahun wafat yang berdekatan, indikasi ittishal atau inqitha’  sanad juga bisa diidentifikasi lewat hubungan guru-murid antara satu perawi dengan perawi yang lain. Biasanya hal ini bisa diteliti lewat kitab-kitab biografi perawi yang masyhur disebut dengan kutub al-rijal (baca; ensiklopedi perawi hadis).

Bukti ketersambungan itu disebutkan dengan redaksi روى عن dan روى عنه dalam kitab-kitab rijal tersebut. Istilah روى عن menunjukkan guru-guru dari perawi yang disebutkan, sedangkan istilah روى عنه menunjukkan murid-murid dari yang bersangkutan.

Ketiga. Indikator selanjutnya adalah penggunaan lafadz _ada’_ (lafadz periwayatan hadis seperti حدثنا – أنبأنا – أخبرنا – عن dan lain sebagainya). Masing-masing lafadz ada yang menunjukkan pertemuan langsung antara dua orang perawi seperti lafadz حدثنا – أخبرنا dan lain-lain serta ada juga yang mengandung kemungkinan inqitha’ seperti عن – أن dan lain-lain (bahasan ini insyaAllah akan kita bahas secara lebih detail di materi-materi sekolah hadis El-Bukhari Institute berikutnya).

Selanjutnya yang keempat, faktor rihlah ilmiah (perjalanan intelektual) perawi. Biasanya dalam kitab-kitab rijal, sebagian penulisnya menyebutkan catatan perjalanan seorang perawi dan daerah-daerah apa saja yang pernah disinggahinya. Nah melalui hal-hal itu kita dapat meneliti pertemuan-pertemuan para perawi tersebut. Wallahu a’lam bi al-ashshawab.

*[Catatan Hasil Kajian Sekolah Hadis yang dibentuk oleh Grup Kajian Hadis El-Bukhari Institute]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here