Cara Mengontrol Emosi Pendidik Ala Nabi Muhammad

0
907

BincangSyariah.Com – Pendidik atau yang secara umum disebut dengan guru. Guru dapat dikatakan sebagai orang yang mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada peserta didik. Selain mentransferkan ilmunya, guru juga merupakan panutan bagi peserta didik. Oleh karena itu guru merupakan orang yang yang digugu dan ditiru

Karena guru sebagai panutan, maka seorang guru harus memiliki kualitas diri seperti kewibawaan, kedisiplinan, tanggung jawab, memiliki jiwa motivator, memahami karakter peserta didik, psikologi yang terkontrol serta memiliki komunikasi yang baik. Pada dasarnya keberhasilan proses pembelajaran salah satunya dilihat dari kiprah seorang guru dalam mengajar. Oleh karena itu untuk memperoleh keberhasilan dalam pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, maka yang hendaknya terlebih dahulu dilakukan adalah meningkatkan kualitas guru.

Dalam proses pembelajaran guru selain menyiapkan informasi ataupun materi yang akan disampaikan kepada peserta didik, maka yang perlu dipersiapkan pula adalah psikologi atau emosional seorang guru ketika berhadapan dengan peserta didik. Karena yang demikian  merupakan salah satu indikator untuk mengetahui kualitas guru. Guru yang memiliki emosi yang terkontrol, maka dengan mudah guru dapat mengendalikan kondisi di dalam kelas. Namun ironisnya masih banyak di antara kita yang menjadi guru belum dapat mengontrol emosi saat proses pembelajaran. Alhasil suasana kelas menjadi tidak terkendali, gaduh, bahkan dapat menurunkan kewibawaan guru di mata peserta didik.

Maka sebagai seorang guru, ia perlu mencari formula untuk dapat mengendalikan emosi. Untuk itu, kita sebagai seorang muslim dapat berkaca dan meneladani sifat-sifat Rasulullah dalam mengendalikan emosi. Karena pada dasarnya Rasulullah adalah teladan yang terpuji untuk kaum muslimin. Adapun cara mengontrol emosi pendidik yang bercermin dari sikap Rasulullah adalah dengan: (1) membaca Ta’awudz, (2) diam, (3) berwudhu, (4) memaafkan.

Baca Juga :  Ini Alasan Sebaiknya Anak Dimasukkan ke Pesantren

Adapun yang pertama adalah membaca Ta’awudz atau a’udzubillahi min asy-Syaithaani ar-Rajiim. Ketika guru merasa jengkel dan marah kepada peserta didik atas sikap yang telah dilakukan di kelas, terhadap sikap peserta didik yang tidak mau memperhatikan guru saat menerangkan, atau bahkan membantah serta tidak menghargai guru. Maka dalam hal ini guru harus bersabar dan mampu mengendalikan diri, agar dapat mempertahankan kualitas sebagai guru serta ilmu yang guru sampaikan kepada peserta didik menjadi berkah. Dalam pengendalian amarah atau emosi, guru dapat membaca ta’awudz, karena membaca ta’awudz dapat meredamkan amarah atau emosi. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “

Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah SAW. Ketika itu, ada orang yang saling memaki. Salah satunya telah memerah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian, Rasulullah Bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui ada satu kalimat, yang jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika ia membaca ta’awudz , a’udzubillahi min asy-Syaithaani ar-Rajiim, marahnya akan hilang,”

Kedua, Diam. Saat guru tidak lagi dapat menenangkan kondisi peserta didik yang sulit untuk dikendalikan, sehingga memancing amarah guru, maka yang perlu dilakukan adalah diam. Mendiamkan peserta didik sejenak, bukan malah mencaci, mengumpat, dan memaki peserta didik. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi kepribadian dan psikologi peserta didik. Berdiam untuk menghilangkan marah dijelskan pula oleh Rasulullah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Syuaib al-Arnauth,

Baca Juga :  Bulan Ramadan sebagai Momentum Pendidikan Muslimin

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, maka diamlah”

Ketiga, Berwuhu. Jika dengan membaca ta’awudz dan berdiam seorang guru belum pula dapat mengontrol emosinya terhadap peserta didik yang bertingkah keterlaluan, maka yang perlu dilakukan guru adalah meluangkan waktu sebentar keluar kelas untuk berwudhu. Karena pada dasarnya marah itu datangnya dari setan, dan setan terbuat dari api. Dan api akan padam dengan air. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya, marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api itu dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya berwudhu.”

Keempat, adalah memaafkan. Peserta didik merupakan sosok manusia yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan untuk menjadi pribadi yang dewasa. Maka tidak heran jika peserta didik melakukan kesalahan, yang seringkali membuat guru tersinggung hingga marah. Maka dalam hal ini, sifat Rasulullah yang perlu diteladani oleh seorang guru adalah pemaaf. Sebagai guru harus memiliki jiwa pemaaf. Karena sifat pemaaf sangat menjadi penentu kesuksesan proses belajar mengajar. Pemaaf dalam pandangan psikologi adalah perilaku yang positif.

Dalam hal ini, guru tidak boleh berputus asa dalam menghadapi karaker peserta didik yang bermacam-macam dan perilaku peserta didik yang keterlaluan. Semua kesalahan dan karakter peserta didik dapat dijadikan pembelajaran untuk menjadikan proses pembelajaran dan pendidkan lebih baik lagi. Karena pada dasarnya di tangan guru pemaaflah, perilaku peserta didik dapat diperbaiki, dan berada di tangan guru pemaaflah proses pembelajaran akan berlangsung secara harmonis.

Dengan meneladai sifat Rasulullah terutama dalam mengontrol emosi, semoga kita yang berkedudukan sebagai orang tua ataupun guru dapat memperoleh keberkahan dalam mendidik serta dapat  menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Wa Allahu a’lamu bi ash-Showaab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here