Cara Menghitung Zakat Profesi dan Ketentuan Pembayarannya

2
1039

BincangSyariah.Com – Profesi, menurut makna terminologinya, diartikan sebagai suatu bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan sejenisnya). Orang yang terampil dalam menjalankan profesi yang dimilikinya diistilahkan sebagai profesional. Jadi, profesional di sini merupakan sebuah istilah lain dari “pengakuan akan kemahiran,” atau biasa disebut sebagai reputasi (jah).

Ingat dengan terminologi “jah” (reputasi), kita jadi ingat kembali dengan salah satu bentuk kemitraan produsen – konsumen (syirkah wujuh). Kita juga diingatkan kembali dengan istilah lain dari kemitraan modal usaha (syirkah abdan). Keduanya merupakan bentuk syirkah, yang dalam hukum asalnya adalah bermakna sebagai percampuran modal.

Jika hukum dua akad syirkah (kemitraan) di atas dipandang sah secara fikih, maka itu artinya dua komponen reputasi dan profesi penyusun “syirkah” di atas, seharusnya juga dipandang sah sebagai modal (ra’su al-mal). Alhasil, baik “jah” (reputasi), maupun “abdan” (profesi), dua-duanya menduduki maqam “mal” (harta).

Karena dalam akad syirkah (kerjasama), disyaratkan berkumpulnya dua komponen harta, baik harta fisik (ain al-mal) maupun harta non fisik (ain al-manfaat), maka yang jadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara mengukur nilai wujud dari harta manfaat (ainu al-manfaat) tersebut? Untuk harta fisik (ain al-mal), mudah cara mengukurnya disebabkan bisa dihitung. Namun, jika harta itu berupa harta manfaat, maka inilah yang sulit ditetapkan.

Ada sebuah paradigma berpikir demikian, bahwa baik “reputasi” maupun “profesi,” dua-duanya merupakan “kelompok modal” dan ini adalah mu’tamad dalam dua contoh akad kemitraan di atas. Sebagai modal, maka “reputasi” dan “profesi” bisa diqiyaskan dengan ‘urudl al-tijarah (modal dagang). Dan karena dalam nishab ‘urudl al-tijarah, standar yang berlaku adalah standar emas, maka demikian pula dengan nishab bagi reputasi dan profesi di atas.

Baca Juga :  Menurut Imam Abu Hanifah, Semua Komoditas Agraria Mesti Dizakati

Dengan demikian, nishab hasil usaha berbasis “profesi” dan “reputasi” adalah mengikut pada standar “harga” satu nishab emas, yaitu sebesar 20 dinar, atau sama dengan (20 x 4.25) gram = 85 gram. Jika, nilai tersebut dirupiahkan dengan acuan harga jual emas saat ini adalah kisaran 700 ribu rupiah / gram, maka 1 nishab emas adalah setara dengan 700 ribu rupiah dikalikan 85 gram, sama dengan 59.500.000 rupiah.

Persoalannya kemudian adalah, kapan zakat profesi itu bisa diambil?

Ada dua pendapat mengenai cara pembayaran zakat profesi, antara lain: 1) mengikuti aturan pengeluaran zakat tijarah dan 2) mengikuti zakat pertanian.

Pertama, mengikuti ketentuan zakat tijarah

Jika konsisten mengikuti ketentuan zakat tijarah, semestinya zakat ini adalah diambil setiap tahun tutup buku. Mengapa? Karena syarat dari zakat ‘urudl al-tijarah, adalah bila modal itu telah diputar selama satu haul. Dengan mengikut ketentuan zakat tijarah, maka cara menghitung besaran zakat “reputasi” atau “profesi” dapat dilakukan melalui rumus berikut:

Besaran zakat = 2.5% x (uang simpanan yang diperoleh dari penghasilan selama 12 bulan niaga profesi + piutang lancar di akhir tahun – utang modal)

Misalnya:

Uang simpanan selama 12 bulan niaga profesi          = 100 juta

Piutang lancar di akhir tahun                                      = 20 juta+

Total aset lancar                                                          = 120 juta

Utang modal                                                               = 15 juta

Total Aset Terakhir                                                  = 105 juta

Dengan demikian, besaran zakat profesi yang harus dikeluarkan adalah sebesar: 2.5% x 105 juta rupiah, yaitu sama dengan 2.625.000 rupiah.

Kedua, mengikuti Ketentuan Zakat Pertanian

Bilamana zakat profesi ini dianalogikan dengan kelompok zakat pertanian, maka sebenarnya juga ada masalah fikih di dalamnya. Masalah itu berkutat pada seputar ikut model pertanian irigasikah atau ikut model pertanian tadah hujan? Jika ikut model pertanian irigasi berbayar, maka apa yang dijadikan dasar illat penyamaannya? Hal yang sama juga berlaku bila profesi itu dianalogikan dengan model pertanian tadah hujan. Lalu apa standar nishabnya?

Baca Juga :  Doa Ketika Mengusap Kepala Anak Kecil

Katakanlah misalnya, bahwa standart nishab pertanian adalah disesuaikan dengan nishab padi seberat 653 kg. Permasalahannya, adalah zakat pertanian adalah wajib dibayar berupa hasil pertanian dan tidak boleh dirupakan uang (qimah).

Dari sini kemudian timbul pemikiran dari para sarjana syariah bahwa ketentuan zakat profesi itu dipungut bilamana hasil gaji dari kerja profesi setiap bulannya adalah mencapai harga 1 nishab padi. Jadi, misalnya gabah per kilogramnya memiliki harga sebesar 7 ribu rupiah, maka, satu nishab gabah memiliki harga sebesar 7 ribu x 653 kg = 4.561.000 rupiah. Jadi, bilamana gaji bulanan kerja profesi ini mencapai nilai 4.56 juta rupiah, maka ia menjadi wajib mengeluarkan zakat, yang kemudian disebut sebagai zakat profesi.

Masalah yang muncul kemudian adalah, mau distandartkan dengan pertanian mana? Para sarjana syariah kemudian memutuskan bahwa distandartkan dengan pertanian irigasi berbayar, karena pertimbangan faktor promosi terhadap kerja profesi agar reputasinya terjaga. Akhirnya, dari sini ditetapkan besaran prosentase zakat yang harus dibayarkan adalah senilai 5%. Jadi, dari angka sebesar 4.56 juta, jika dikalikan dengan 5%, maka besaran zakat yang harus dikeluarkan setiap bulannya adalah senilai 228.050 rupiah.

Walhasil, karena zakat profesi ini tidak terdapat dalam teks turats sebelumnya, maka ketentuan yang terdapat dalam zakat profesi ini berbeda-beda antara lembaga zakat satu dengan lembaga zakat lainnya. Masing-masing memiliki kecondongan hasil ijtihad sendiri. Tapi, secara hukum positif, ketentuan zakat profesi telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Pasal 4 Ayat 2 huruf (h) dari UU Nomor 23 Tahun 2011, menjelaskan bahwa zakat mal itu meliputi zakat pendapatan dan jasa. Itulah landasan dari zakat profesi di Indonesia. Wallahu a’lam bi al-shawab

 

2 KOMENTAR

  1. Aslamualaikum
    Sya seorng driver online
    1.Bgmna hitungan cara berzakat ?
    Penghasilan /hari 200rb,
    Hutang aktif/ bln 3500.000
    Kebutuhan RT/bln 4500.000
    2.Bolehkan byr zakat nya kami alihkan dgn kencleng setiap subuh?
    Terimakasih
    Wassalmualikum

  2. […] BincangSyariah.Com – Zakat profesi adalah zakat yang diberikan oleh setiap orang yang menyangkut imbalan profesi yang diterima, seperti gaji dan honorarium. Apabila Anda bertanya, apa perbedaan zakat profesi ini dengan zakat uang yang nisab zakatnya disamakan dengan emas lantas kemudian dikeluarkan zakatnya setiap tahun? Maka penjelasannya adalah sebagai berikut: jika kita memiliki sejumlah uang yang nilainya mencapai nisab zakat emas, maka uang tersebut wajib kita keluarkan zakatnya. Namun di luar itu, apabila pendapatan tetap/gaji dari profesi dijumlahkan hasilnya selama setahun juga mencapai nisab emas, maka pendapatan tetap tersebut juga dikenakan kewajiban zakat. (Baca: Cara Menghitung Zakat Profesi dan Ketentuan Pembayarannya) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here