Cara Mengembalikan Kesehatan Mental dari Psikolog Muslim

1
78

BincangSyariah.Com – Masih dari pandangan Abu al-Qasim al-Balkhi dalam karyanya Mashalih al-Anfus wa al-Abdan (Kemaslahatan Jiwa dan Raga) (h. 122-124), dalam bab ke-3 nya, ia mengulas tentang bagaimana cara mengembalikan kesehatan mental. Tentu, di bagian ini perlu ditelaah apa perbedaan mental dan jiwa ini. Untuk bagian ini, saya lebih memilih istilah mental dibandingkan jiwa. Tapi ini pun masih terbuka untuk dikritik.

Kata al-Balkhi, ia memulai dengan penjelasan, sebenarnya tidak ada seorangpun di dunia ini yang selalu akan berada dalam kondisi stabil. Penjelasannya, karena tidak ada seorangpun yang di dunia ini selalu bisa membuat dirinya stabil padahal ada banyak aktivitas yang mempengaruhinya dan sedikit banyak emosinya terpengaruh. Karena itu, di dunia ini, pasti semua orang, kata al-Bakhi, pernah marah, kaget, atau sedih. Layaknya juga fisik, semua orang pasti pernah menderita sakit

Tiga hal itu dan perasaan negatif lainnya seluruhnya disebabkan oleh faktor luar yang bertentangan dengan apa yang ia sukai atau kehendaki. Andaipun orang tidak terdampak serius dari faktor luar, paling tidak pasti biar sedikit orang pernah terpengaruh juga mentalnya karena faktor eksternal. Bahkan, faktor luar yang kecil-kecil itu umumnya lebih lebih intens dihadapi seseorang sakit yang mengenai fisik.

Lalu bagaimana cara mengobati atau mengembalikan kesehatan mental agar misalnya, tidak berprasangka negatif atau khawatir berlebihan ? Seperti biasa, al-Balkhi selalu menganalogikannya dengan tubuh. Jika tubuh sakit, ia bisa diobati baik dari faktor dalam semisal istirahat, atau faktor luar dengan meminum obat, maka jiwa juga begitu.

Secara sederhana, “pengobatan” dari dalam itu berupa apa yang disebut sebagai positive thinking (berpikir positif), sehingga ia bisa menenangkan dirinya. Sementara penyembuhan dari luar adalah berupa mendapatkan nasihat atau saran dari orang lain ; atau memperbaiki yang tidak baik dari potensi dirinya sendiri. Menurut al-Balkhi, yang disebut potensi diri adalah akal, jiwa (an-nafs), dan kepahaman (al-fahm). Jika tidak diobati, faktor kesehatan mental yang tidak normal atau tidak stabil dalam waktu yang panjang.

Baca Juga :  Doa Ketika Melihat Orang Lain Tertawa Karena Bahagia

Kenapa meminta saran atau pertimbangan dari orang lain itu penting ? Kata al-Balkhi, ada dua alasan. Pertama, manusia umumnya lebih banyak menerima input dari luar dibandingkan dari dirinya sendiri. Alasannya mungkin karena kalau kalau orang seorang diri, sisi emosional lebih kuat dibandingkan sisi rasional. Alasan kedua, dalam kondisi psikis sedang tidak normal, seseorang sulit berpikir jernih. Karenanya, ia perlu meminta saran atau bantuan dari orang lain. Menurut penulis, rekomendasi al-Balkhi kalau di masa sekarang kira-kira sama dengan beliau berkata, “tanyalah ke psikolog yang handal untuk memahami masalahmu itu!”

Tapi, kata al-Balkhi, meskipun faktor dari luar mempengaruhi dalam tingkat yang besar, mengobati “dari dalam” juga penting. Seseorang perlu mengenali dirinya sendiri, dengan berdialog sewaktu-waktu dengan diri, agar mampu mengendalikan emosi ketika sewaktu-waktu emosi itu tidak stabil. Wallahu A‘lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here