Cara Menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar Menurut Ulama

0
89

BincangSyariah.Com – Kalau bukan karena sensitifitas Nabi untuk melakukan perbaikan atas kondisi yang terjadi pada kaumnya ketika itu, tentu Islam tidak mendapatkan momentumnya sebagai pembaharu dan agama yang solutif menawarkan perbaikan.

Untuk itulah sebenarnya agama Islam dihadirkan ke muka bumi, sebagai seperangkat ajaran yang membawa manusia menuju perbaikan.

Allah Swt berfirman dalam surah al-Isra’ [17]: 105,

وَبِٱلۡحَقِّ أَنزَلۡنَـٰهُ وَبِٱلۡحَقِّ نَزَلَۗ وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا مُبَشِّرࣰا وَنَذِیرࣰا

“Dan Kami turunkan (al-Qur’an) itu dengan sebenarnya dan (al-Qur’an) itu turun dengan membawa kebenaran. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”

Di antara cara Islam merawat misi ini adalah dengan pembakuan syariat Amar Makruf Nahi Munkar sebagai salah satu ajarannya. Amar Makruf Nahi Munkar, sebagaimana diuraikan oleh Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim, bermakna sikap seorang muslim untuk menyeru pada penegakkan perintah Allah dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dan karena itulah kita disebut sebagai sebaik-baiknya umat.

Rasulullah Saw. bersabda seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim,

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudry ra bahwasanya saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan tangan, jika tidak bisa maka dengan hati. Itulah selemah-lemahnya iman. (H.R. Muslim)

Imam Ibn Daqiq al-‘Id dalam Syarh Arbain an-Nawawi, mengomentari hadis ini bahwa amar makruf nahi munkar merupakan hal yang wajib dilakukan berdasarkan kesepakatan umat. Selain mendasarkan pendapatnya pada hadis di atas, beliau juga menggunakan al-Qur’an surat al-Dzariyat [51) ayat 55 sebagai pijakan,

Baca Juga :  Tiga Adab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Allah berfirman :

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Maka berilah mereka peringatan (wahai Muhammad), karena sesungguhnya peringatan itu berguna bagi orang yang beriman.”

Etika Amar Makruf Nahi Munkar

Ada beberapa catatan dari Imam Ibn Daqiq al-Id mengenai cara-cara menerapkan amar makruf nahi munkar.

Pertama, mengetahui duduk perkara yang sedang dihadapi. Seseorang yang ingin menyerukan suatu ajaran atau mencegah dari hal-hal yang dirasa menyimpang dari ajaran agama haruslah paham subtansi hal yang tengah diserukan. Ibarat penjual produk, ia mesti paham detail barang yang hendak dipromosikan kepada pelanggan (objek dakwah).

Kedua, amar makruf harus menyangkut hal-hal prinsipil yang disepakati, tidak pada hal-hal yang masih diperdebatkan status hukumnya, terutama dalam kaitannya dengan keragaman pandangan mazhab-mazhab dalam Islam. Seseorang sah-sah saja menegur orang yang tidak shalat sebagai upaya amar makruf nahi mungkar. Tapi tidak etis jika diterapkan dalam hal perbedaan bacaan qiraat (ragam riwayat bacaan Al-Quran). Karena, sebagaimana kita ketahui, qioat itu beragam. Dan semuanya memiliki landasan dalil dari Rasulullah Saw. Begitupun dalam cabang ibadah (furu’) lain, yang kendati berbeda semua memiliki landasan dalil yang kuat.

Ketiga, amar makruf harus pada hal-hal yang bersifat lahiriah, yang tampak, tidak pada hal-hal yang batiniah seperti perasaan dan kondisi jiwa. Kita boleh menyeru orang untuk bersedekah sebanyak-banyaknya, tapi sangat tidak dibenarkan jika kita mempermasalahkan kondisi hati orang yang bersedekah, dengan asumsi bahwa orang tersebut bersedekah semata-mata hanya ingin memamerkan kekayaan semata. Tugas kita adalah menilai hal-hal lahiriah, biarlah hak Allah yang menentukan hal-hal yang sifatnya rahasia.

Keempat, dilakukan dengan cara yang santun. Salah satunya adalah dengan menasihati objek dakwah secara personal, tidak mengumbar aibnya. Dalam hal ini Imam As-Syafi’i pernah berujar: “Barangsiapa menasehati seseorang secara tertutup, maka ia telah menasehati dan berbuat kebaikan padanya. Barangsiapa yang menasehatinya secara terang-terangan, maka ia telah mengumbar aib orang tersebut dan menghilangkan kehormatannya.”

Kendati demikian, dalam hal-hal tertentu, aib orang boleh dibicarakan jika memang sudah menjadi rahasia publik dan dengan tujuan sebagai ibrah untuk yang lain, serta sebagai peringatan bagi orang-orang lain agar tidak terperdaya kejahatannya, jika ia memang pelaku kejahatan. Demikian yang kerap kita dapati dalam kajian para perawi hadis. Beberapa ahli hadis tidak segan mengatakan perawi tertentu sebagai pembohong dengan tujuan tidak ada orang yang meriwayatkan hadis darinya, serta agar tidak tersebar luas pemalsuan ujaran atas Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Hukum Membangunkan Orang di Waktu Salat Tiba

Kelima, amar makruf harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah Swt. Bagaimanapun upaya kita untuk menyeru orang lain melakukan kebaikan dan mencegahnya untuk tidak melakukan keburukan, akan ada beberapa yang tidak mengindahkan seruan kita. Saat itulah kita perlu bertawakkal, menyerahkan hasil jerih yang kita upayakan kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam surah al-Qashash [28]: 56,

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak mampu memberikan hidayah kepada siapa saja yang engkau kehendaki, melainkan Allah-lah yang memberi hidayah pada siapa yang dikehendaki-Nya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here