Cara Membentuk Kepribadian Muslim

0
35

BincangSyariah.Com – Kepribadian Muslim bisa dilihat dari kepribadian orang per orang atau secara individu dan kepribadian dalam kelompok masyarakat yang kerap disebut sebagai ummah.

Kepribadian individu adalah ciri khas seseorang. Ciri khas tersebut tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Selain sikap dan tingkah laku, ada pula kemampuan intelektual yang dimiliki seorang manusia.

Karena ada unsur kepribadian khas yang dimiliki oleh setiap orang, maka sebagai individu seorang Muslim sudah pasti akan menampilkan ciri khasnya masing-masing. Perbedaan kepribadian antara seseorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah hal yang biasa. Perbedaan yang mesti diterima.

Secara fitrah, perbedaan tersebut diakui keberadaanya. Sebab, Islam memandang setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Oleh sebab itulah Islam menuntut setiap orang untuk menunaikan perintah agamanya. Tuntutan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.

Hal tersebut tercantum dalam Q.S. al-An’am (6) Ayat 152 sebagai berikut:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ ۖ وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَٱعْدِلُوا۟ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddah, wa auful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭ, lā nukallifu nafsan illā wus’ahā, wa iżā qultum fa’dilụ walau kāna żā qurbā, wa bi’ahdillāhi aufụ, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tażakkarụn

Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Baca Juga :  Ngaji Kitab Shahih Al-Bukhari Vs Pergi ke Bulan

Jika individu adalah unsur terkecil dari sebuah tatanan masyarakat, maka pasti dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai umat akan sulit dipenuhi. Pasti akan selalu ada perbedaan dalam upaya-upaya untuk membentuk kepribadian Muslim baik secara individu atau sebagai suatu ummah.

Dalam kenyataannya, untuk membentuk keribadian seorang Muslim memang akan ada unsur keberagaman atau heterogenitas dan homogenitas atau kesamaan. Maka, meskipun sebagai individu masing-masing kepribadian berbeda, namun dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai ummah, perbedaan itu perlu dipadukan. Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.

Dasar pembentukan adalah Al-Qur’an dan hadist, sementara itu tujuan yang akan dicapai menjadi adalah untuk menjadi pengabdi Allah Swt. yang setia sebagai Tuhan yang wajib disembah. Hal tersebut tercantum dalam Quran Surat Az-Zariyat Ayat 56 sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budụn

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Sementara itu pengabdian yang dimaksud didasarkan atas tuntutan untuk menyembah kepada Tuhan yang satu yakni Allah Swt. sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-An’am (6) Ayat 102) sebagai berikut:

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

żālikumullāhu rabbukum, lā ilāha illā huw, khāliqu kulli syai`in fa’budụh, wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl

Artinya: (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.

Dalam buku Teologi Pendidikan (2001), Jalaluddin menuliskan bahwa pernyataan wahyu tersebut adalah kerangka acuan untuk membentuk kepribadian Muslim sebagai ummah. Acuan ini berisi pernyataan.

Baca Juga :  Sebagai Manusia, Kita Perlu Merenungi Tiga Pertanyaan Ini

Pernyataan tersebut adalah setiap Muslim wajib menunjukkan ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya. Maka, secara keseluruhan, kaum Muslimin mesti mengacu pada pembentukan sikap kepatuhan yang sama. Dengan begitu, diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap yang secara umum adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian Muslim.[] (Baca: Hakikat Kepribadian Seorang Muslim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here