Cara Membaca Nun Washal dalam Mushaf Standar Indonesia

0
307

BincangSyariah.Com – Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja kami mendengar seorang kawan kurang tepat dalam membaca Al-Qur’an pada bagian bacaan gharib. Secara pengetahuan, kami yakin seharusnya ia dapat membacanya dengan benar karena ia cukup lama belajar di pesantren. Mungkin karena suatu hal, bisa jadi ia lupa.

Setelah menyelesaikan tadarus, kami coba melihat mushaf yang ia baca dan mengonfirmasi bacaannya. Terjadilah diskusi kecil di antara kita. Ia lalu mengakui bacaannya pada Q.S. Al-Hajj/22: 11 tidak tepat karena lupa, bukan karena tidak tahu kaidah bacaannya. Sebab ia membaca Al-Qur’an dengan mushaf cetakan luar negeri dimana tidak ada rambu peringatan nun washal pada ayat tersebut hingga ia terobos saja.

Mushaf pada dasarnya adalah media untuk memudahkan umat islam  membaca kitab sucinya, kalamullah. Pada masa sepeninggal Rasul, kesadaran untuk membukukan Al-Qur’an menjadi suatu mushaf muncul akibat banyaknya penghafal Al-Qur’an gugur di medan perang. Setelah mushaf hadir, timbul problem salah bunyi bacaan.

Inovasi naqth al-I’rab Abul Aswad ad-Duali tampil menjadi solusi pembeda bunyi suatu bacaan. Lalu di kemudian hari muncul lagi kejadian salah baca huruf. Gagasan naqth al-I’jam Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi atas perintah Hajjaj bin Yusuf datang sebagai solusi pembeda huruf. Begitu seterusnya, setiap ada kasus kesalahan baca Al-Qur’an, akan lahir pula solusinya, hingga mushaf Al-Qur’an yang sekarang kita baca penuh dengan tanda dan simbol yang memandu kita agar tidak salah dalam membaca Al-Qur’an.

Di kehidupan modern ini, beberapa negara menerapkan standar khusus untuk penulisan mushaf Al-Qur’an mereka. Standar tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi penduduk dan tingkat kemampuan mereka dalam membaca kitab suci. Di Indonesia, kita mengenal mushaf Al-Qur’an standar Indonesia yang cara penulisan (rasm), harakat, tanda baca, dan tanda-tanda waqafnya dibakukan sesuai kesepakatan musyawarah kerja ulama Al-Qur’an Indonesia. Mushaf Standar tersebut kemudian ditetapkan pemerintah sebagai pedoman dalam penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.

Baca Juga :  Opini: Kiprah NU terkait Desakan Pengesahan RUU PKS

Kembali kepada kasus kawan kami, berkenaan dengan rambu peringatan bacaan nun washal, pemerintah melalui Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an pada tanggal 22 Februari 1979 telah membakukan tanda nun kecil sebagai simbol bacaan nun washal. Ketentuan pemberian simbol nun kecil ini dilakukan apabila terdapat tanwin bertemu huruf bersukun dan di antara keduanya terdapat hamzah washal. Penulisannya ada dua macam; nun kecil dan nun kecil berharakat. Sedangkan sistem pemberian harakatnya dilakukan dengan tiga ketentuan berikut:

Apabila harakat tanwinnya berupa dammatain atau kasratain, maka harakat tanwin tersebut berubah menjadi dammah atau kasrah, sedangkan nun washal diberi harakat kasrah. Contoh:

Apabila harakat tanwinnya berupa fathatain, maka tidak ada perubahan pada bentuk tanwinnya, sedangkan nun washal ditulis tanpa harakat, kecuali jika huruf yang berharakat fathatain adalah ta’ marbuthah, maka penulisannya seperti ketentuan pertama, fathatain ditulis fathah dan nun washal diberi harakat kasrah. Contoh:

Apabila huruf yang berharakat tanwin berada di akhir ayat yang memiliki tanda waqaf shala dan la kemudian diikuti huruf bersukun pada awal ayat berikutnya, maka nun washal ditulis tanpa harakat. Contoh:

Simbol nun kecil tersebut adalah pengganti tanwin yang diucapkan ketika washal untuk menghindari lompatan bacaan. Bagi orang arab atau orang yang mengerti kaidah bahasa arab, ketiadaan simbol ini mungkin tak jadi masalah. Namun bagi masyarakat awam,

فِتْنَةٌ انْقَلَبَ

tanpa nun kecil bisa jadi terbaca fitnatung qolaba. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here