Cara Memahami Hadis: Shalat Awal Waktu Miliki Keutamaan, Tapi Kenapa Nabi Pernah Mengakhirkan Shalat Isya?

2
4605

BincangSyariah.Com – Shalat merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Setiap Muslim diwajibkan untuk menunaikan shalat sehari semalam sebanyak lima waktu. Tidak ada alasan bagi siapapun yang sudah baligh dan berakal untuk meninggalkan rukun Islam yang ke dua ini baik dia sedang sakit, musafir, dan lainnya. Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja atau menolak kewajiban shalat maka dia telah kafir secara nyata.

Di dalam Al-Qur’an dan Hadis banyak sekali disebutkan berita gembira berupa ganjaran pahala bagi orang yang melaksanakan shalat dan peringatan berupa siksaan bagi yang mengabaikannya. Ganjaran pahala akan diberikan bagi siapa saja yang mengerjakan shalat secara berjamaah dan mendapatkan juga keutamaan bila ia melaksankan diawal waktu.

Dalam sebuah hadis yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dijelaskan tentang keutamaan melaksanakan shalat pada awal waktu. Rasulullah bersabda.

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الاعمال أفضل ؟ قال :  “الصلاة في أول وقتها “

Artinya:“Suatu ketika rasulullah pernah ditanya perihal ibadah apa yang paling afdhal?, rasulullah menjawab menunaikan shalat diawal waktunya”

Melalui hadis ini sangat jelas dapat dipahami bahwa ibadah yang paling utama untuk dilakukan adalah mengerjakan shalat pada awal waktu. Keutaaman  ini akan lebih lengkap bila dilaksanakan di masjid secara berjamaah. Akan tetapi hadis ini bila dilihat lebih jauh ia bertentangan dengan hadis shahih lainnya. Yaitu hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah menunda shalat Isya hingga pertengahan malam. Berikut hadisnya:

عن أنس قال اخر النبي صلى الله عليه وسلم صلاة العشاء إلى نصف الليل ثم صلى ثم قال قد صلى الناس وناموا اما انكم في صلاة ما انتظرتموها.

Baca Juga :  Maksud Hadis Silaturahim Dapat Perpanjang Umur

Dari sahabat Anas berkata:“Nabi Muhammad SAW menunda shalat Isya sampai tengah malam, kemudian beliau shalat lalu bersabda: “orang-orang sudah melaksanakan shalat dan tidur. Sedangkan kalian masih dalam keadaan shalat selama kalian menunggunya”.

Hadis shahih ini terlihat kontradiksi dengan hadis yang pertama di atas, padahal sebagaimana kita pahami sebelumnya hadis yang shahih tidak mungkin saling bertentangan dengan hadis shahih lainnya. Maka untuk menyelesaikan kontradiksi ini perlu bagi kita untuk mengkompromikan kedua hadis di atas, sehingga kita mendapatkan pemahaman yang benar.

Menurut Ali Mustafa Yakub bentuk kompromi  di antara dua hadis di atas ini adalah: bahwa keutaman melaksanakan shalat diawal waktu itu terjadi ketika tidak ada amal ibadah lainnya yang wajib dikerjaan secara syar’i pada saat itu. Namun apabila bertepatan dengan amal wajib secara syar’I lainnya seperti menerima tamu, sebagaimana juga pernah dihadapi rasulullah tatkala menyambut malaikat Ibril As, maka pada saat seperti ini mendahulukan yang wajib dari pada yang sunnah atau yang afdhal hukumnya adalah wajib. Artinya seseorang boleh menunda shalat di awal waktu karena menyambut tamu terlebih dahulu yang hukumnya wajib. Perihal ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan oleh ulama ushul fikih bahwa perkara yang wajib tidak boleh ditinggalkan kecuali untuk melakukan yang wajib. Wallahualam

[rujukan utama, al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]

2 KOMENTAR

  1. bukannya dalil hadis menunda sholat isyak sudah di cantumkan pada artikel diatas? sholat isyak termasuk wajib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here