Cara Memahami Hadis: Metode Menyelesaikan Hadis-hadis yang Kontradiktif

0
311

BincangSyariah.Com – Sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya, hadis menjadi salah satu sumber primer dalam ajaran Islam. Maka pada prinsipnya hadis yang sahih tidak mungkin bertentangan dengan dalil lainnya seperti Al-Qur’an, sesama hadis dan rasio. Namun dalam praktek mencari makna dalam suatu hadis sering dijumpai hadis yang saling bertentangan secara zahir.

Seperti dalam satu riwayat hadis dikatakan haram dalam suatu kasus, tetapi dalam riwayat hadis yang lain dibolehkan padahal kasusnya sama. Sehingga terkesan adanya hadis yang saling berlawanan dan itu sering muncul dalam matan-matan hadis setelah dilakukan takhrij dan I’tibar al-hadis.

Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya mengutip pendapat Imam al-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya, al-Taqrib wa al-Taisir li ma’rifah sunan al-Basyir al-Nadzir mengatakan: al-hadis al-Mukhtalaf (hadis yang kontradiksi) itu terbagi dua:

Pertama, hadis yang dapat dikompromikan di antara keduanya sehingga statusnya jelas dan wajib diamalkan dua-duanya.

Kedua, hadis yang tidak dapat dikompromikan karena alasan lain maka dalam hal ini bila kita mengetahui salah satunya adalah sebagai hadis yang nasikh (menghapus hukum sebelumnya), maka hadis ini yang kita kedepankan. Jika kita tidak mengetahuinya, maka mengamalkan hadis yang rajih (unggul) setelah mentarjihnya dengan melihat sifat-sifat rawinya dan keunggulan mereka dalam lima puluh bidang tarjih (kualifikasi).

Lebih jelasnya terdapat empat metode dalam menyelesaikan hadis-hadis yang saling bertentangan, metode tersebut yaitu al-Jam‘u, al-Naskh, al-Tarjih, dan al-Tawaquf.

Pertama, metode al-Jama’ adalah menggabungkan dua hadis atau lebih yang saling bertentangan dengan cara yang dapat menghindarkan pertentangan tersebut, sehingga bersifat kompromistis dan akhirnya kesemuanya dapat diamalkan.

Kedua, metode al-Nasakh yaitu mengangkat, menghapuskan hukum syariat dengan dalil hukum syariat yang lain. Nasakh juga dapat diartikan dengan pembatalan, penghapusan, pemindahan dari satu sarana kepada sarana yang lain. Naskh, dalil yang menghapus sedangkan mansukh dalil yang dihapus.

Baca Juga :  Kriteria Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

Ketiga, metode al-Tarjih adalah upaya untuk menguji keunggulan hadis-hadis yang berlawanan dengan memenangkan salah satunya maka dalil yang rajih itulah yang diamalkan sedangkan yang marjuh dibuang.

Keempat, at-Tawaqquf, merupakan cara menangguhkan pengamalan prinsip ajaran pada kedua hadis yang saling kontradiksi. Metode ini ditempuh bila tiga metode di atas tidak dapat dilalui.

Namun ulama berbeda pendapat dalam urutan metode yang digunakan saat menyelesaikan hadis tersebut, kepada dua pendapat.

Pertama, menurut jumhur ulama hadis, di antaranya Imam al-Suyuthi, al-Syafiiyah, al-Zaidiyah, al-Hanabilah, dan al-Malikiyah. Kelompok ini berpendapat langkah yang dipilih dalam menyelesaikan hadis yang saling bertentangan adalah dengan melakukan metode Jama’ terlebih dahulu, lalu al-Nasakh, kemudian al-Tarjih dan terakhir bila juga tetap tidak bisa menggunakan beberapa metode tersebut barulah digunakan metode al-Tawaquf.

Sedangkan kelompok kedua, yang diwakili oleh ulama al-Hanafiyah, menurut mereka metode dalam menyelesaikan hadis-hadis kontradiktif adalah dengan mendahulukan al-Nasakh, lalu al-Tarjih, kemudian al-Jama’ dan yang terakhir barulah menggunakan metode al-Tawaquf sebagai alternatif.

Bagaimana jika kita menemukan hadis yang kontradiksi terhadap Al-Qur’an? Praktiknya, hadis tersebut dapat dikompromikan, maka kita amalkan hasil kompromi tersebut. namun jika tidak dapat dikompromikan maka kita gunakan metode nasakh (penghapusan hukum sebelumnya). Artinya, adakalanya me-nasakh hadis dengan al-Quran atau menasakh al-Quran dengan hadis. Ini menurut kalangan yang membolehkan adanya nasakh pada dalil-dalil tersebut.

Apabila hadis bertentangan dengan akal, maka kemungkinan jangkauan akal kita tidak mampu memahami makna hadis, karena pemahaman logika terhadap hadis adalah relatif. Bagi yang tidak memahami makna hadis, ia wajib bertanya kepada orang yang lebih mumpuni darinya dalam pemahaman hadis, atau membaca buku-buku mereka yang mu’tabar. Dia tidak boleh lancang menghukumi hadis tersebut bahwa ia tidak sahih atau palsu hanya karena ia tidak memahami maksudnya dengan dalih bahwa hadis tersebut kontradiksi dengan akal.

Baca Juga :  Setiap Rabu Jam 20.00-20.30, Live Streaming Pengajian Shahih al-Bukhari

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

[rujukan utama, al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here