Cara Memahami Hadis: Memahami Hadis yang Bertentangan dengan Al-Qur’an (1)

1
2321

BincangSyariah.Com – Kita sering mendengar beberapa penceramah atau pemahaman yang beredar di masyarakat bahwa Rasulullah SAW melarang seseorang untuk menangisi keluarganya yang mati. Karena tangisan tersebut akan menyebabkan mayat disiksa oleh Allah SWT di dalam kuburnya. Pemahaman seperti ini bersumber dari pemahaman terhadap sebuah hadis yang shahih yang diriwatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Umar bin Khattab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه

“Sesungguhnya orang meninggal akan disiksa karena tangisan keluarga terhadapnya”.

Lalu pertanyaannya, apakah pemahaman terhadap hadis tersebut di atas itu sudah benar? Hemat kami pemahaman seperti itu kurang tepat adanya. Karena ia bertentangan dengan ayat al-Quran (QS. Al-An’am [6]: 164) yang menjelaskan tentang seseorang yang tidak akan memikul dosa orang lain. Mari perhatikan bagaimana sikap bunda Aisyah RA ketika mendengar hadis tersebut.

إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه

“Sesungguhnya orang meninggal akan disiksa karena tangisan keluarga terhadapnya”.

Beliau memprotesnya bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan seperti itu. Untuk menguatkan argumennya beliau berkata “dimanakah posisi kalian tentang firman Allah,

لا تزر وازرة وزر أخري

Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain (QS. Al-An’am [6]: 164).

Ayat ini menjelaskan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain begitu pula sebaliknya. Melalui ayat ini dapat dimengerti bahwa tidak ada kaitannya antara tangisan keluarga si mayat dengan siksa kubur yang dialami oleh si mayat. Karena siksa yang diterima mayat dalam kubur adalah murni karena dosanya sendiri selama hidup di dunia.

Oleh karena itu dengan tegas bunda Aisyah menolak hadis yang bertentangan dengan Al-Quran di atas. Meskipun hadis ini ditolak oleh Aisyah, ia tetap tercantum di dalam kitab hadis-hadis shahih. Menurut Muhammad al-Ghazali, pengarang kitab as-Sunnah baina Ahl al-Fiqh wa al-Hadis, hadis di atas telah menyalahi al-Qur’an dan hadis lainnya yang serupa yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah RA, bahwa Rasulullah bersabda.

Baca Juga :  Perempuan-perempuan di Dalam Al-Qur'an (IV)

إن الميت الكافر يعذب ببكاء أهله عليه

Sesungguhnya orang meninggal dalam keadaan kafir akan disiksa karena tangisan keluarga terhadapnya

Kedua hadis di atas adalah sama-sama shahih dan hadis yang diriwayatkan oleh Umar secara zahir bertentangan dengan ayat al-Qur’an. Maka para ulama mencoba memahaminya dengan menggunakan metode Jama’ (kompromi) antara dua hadis tersebut yaitu riwayat Aisyah RA dan Umar dengan ayat al-Qur’an.

Setelah dipahami ternyata tidak ada yang saling bertentangan di antara keduanya karena hadis dari Sahabat Umar di atas sebenarnya dikhususkan kepada orang yahudi, sebagaimana disampaikan oleh Imam Syafi’i dalam Kitab Ikhtilaf al-Hadis miliknya. Para ulama dalam memahami hadis tersebut mengatakan, bahwa orang kafir yang meninggal itu akan ditambah azabnya karena tangisan keluarganya. Adapun orang mukmin yang meninggal, ia akan diazab jika sebelum meninggal ia berwasiat kepada keluarganya untuk meratapinya.

Pembahasan hadis di atas ini (hadis niyaahah: meratapi mayit) selain dibahas di dalam kitab hadis-hadis yang kontradiktif (mukhtalaf al-hadits), ia juga dibahas dalam kajian kritik hadis, yaitu membandingkan hadis dengan ayat-ayat al-Quran untuk melihat keotentikan dan validitas hadisnya.

Berikut ini kisah utuhnya terkait hadis di atas. Bunda Aisyah RA melakukan kritik hadis di atas ketika Umar bin Khattab wafat terbunuh. Ibn Abbas mengatakan kepada Aisyah bahwa menjelang menghembuskan nafas terakhir, Umar berpesan agar tidak ada seorangpun dari keluarganya yang menangisinya. Alasannya, karena Umar pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “mayat itu akan disiksa karena ia ditangisi keluarganya”.

Mendengar berita tersebut Aisyah langsung berkomentar, “semoga Umar dirahmati Allah, rasulullah SAW tidak pernah bersabda bahwa mayat orang mukmin itu akan disiksa karena ia ditangisi keluarganya. Beliau bersabda, ”sesungguhnya Allah akan menambah siksa manyat orang kafir yang ditangisi keluarganya.” Kata bunda Aisyah RA selanjutnya, “cukuplah bagi kalian sebuah firman Allah yang mengatakan bahwa “seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain” (QS. Al-An’am: 164). Melihat Asbab Wurud al-Hadits tersebut, waktu itu Rasulullah melewati rumah seorang yahudi yang sedang meratapi keluarganya yang meninggal lalu rasul pun bersabda dengan hadis di atas.

Baca Juga :  Menelusuri Dalil Halal Bihalal dalam Islam

Dalam kisah di atas, bunda Aisyah telah melakukan kritik materi hadis yaitu dengan mencocokkan kembali dengan apa yang pernah beliau dengar sendiri dari nabi SAW. Kemudian dengan membandingkannya dengan al-Qur’an. Dari sini kemudian timbul dua versi periwayatan dalam hadis tersebut. menurut versi Umar, seorang yang mati akan disiksa apabila ia ditangisi keluarganya, baik yang mati itu muslim atau kafir. Sementara menurut versi Aisyah, mayat yang disiksa itu apabila ia kafir, sedangkan mayat muslim tidak disiksa.

Karena, baik sahabat Umar maupun Aisyah tidak mungkin berdusta maka kedua versi ini tetap diterima sebagai hadis shahih, hanya saja para ulama menjama’ hadis tersebut dengan al-Quran dalam memahaminya, sebagaimana telah di jelaskan di atas.

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

[rujukan utama, al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here