Cara Memahami Hadis: Isbal (Pakaian di Bawah Mata Kaki) Menjadikan Masuk Neraka?

0
4436

BincangSyariah.Com – Isbal adalah menjulurkan pakaian ke bawah sampai melewati mata kaki bahkan hingga menyentuh tanah. Sampai hari ini, memakai celana di bawah mata kaki (isbal) untuk kaum lelaki masih menjadi perdebatan di sebagian masyarakat muslim, apakah ia diperbolehkan atau tidak dalam Islam. Perdebatan ini muncul karena ada sebagian ulama yang memahami hadis terkait isbal dengan menggunakan satu riwayat hadis saja, sedangkan ulama yang lain memahami persoalan isbal dengan menggunakan banyak riwayat yang lain.

Alhasil, ulama yang memahami hadis terkait isbal ini dengan merujuk pada satu riwayat saja cenderung melarang bahkan mengharamkan isbal itu. Dan ulama lainnya membolehkan selama tidak ada rasa sombong dalam hati ketika berpakain isbal.

Berikut ini riwayat hadis yang pertama:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Dari Abu Hurairah Rasulullah  SAW bersabda: Orang yang memakai sarung di bawah mata kaki, akan berada di dalam api neraka. (HR. Al-Nasa’i)

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال بينما رجل يجر إزاره إذ خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya Rasulullah  SAW bersabda: Ketika seorang lelaki menyeret kainnya karena rendah  (menutupi mata kaki), maka dia berbuat sombong di muka bumi hingga hari kiamat”. (HR. Al-Bukhari)

Dalam dua riwayat di atas Nabi Muhammad Saw menyampaikan secara umum terkait isbal, dimana beliau menjelaskan bahwa siapapun di antara umatnya lelaki yang berpakian panjang melebihi mata kaki maka nerakalah tempatnya. Hadis di atas tidak menjelaskan secara rinci terkait apa alasan dan motif larangan berpakaian isbal. Maka, bila dua hadis di atas dipahami secara lahiriyah pemahaman yang muncul adalah seseorang yang memakai sarung atau celana yang panjangnya melebihi mata kaki, dia akan dimasukkan ke dalam neraka sebagai hukuman atas perbuatannya.

Baca Juga :  Ancaman Dosa Enggan Zakat Karena Pelit

Namun bila kita mengakaji lebih dalam dengan membaca dan mengumpulkan semua hadis yang berkenaan dengan hal tersebut, maka kita akan mengetahui apa yang ditarjihkan oleh Imam an-Nawawi  (676 H), Ibn Hajar (852 H) dan lain-lainnya. Bahwa yang dimaksud dalam hadis di atas adalah sikap sombong yang menjadi motivasi seseorang dalam menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras. Demikian dapat dilihat bahwa Al-Nawawi (676 H) dalam kitabnya Riadhus al-Shalihin memasukkan hadis-hadis tentang isbal  pada bab Tahrim al-Kibar wa al- I’jab bab “keharaman bersikap sombong dan membanggakan diri. dan tidak meletakkan hadis tersebut pada bab haram berpakaian isbal.

Untuk memahami lebih lanjut tantang keharaman isbal  karena termotivasi oleh sikap sombong, mari kita perhatikan beberapa riwayat hadis yang kedua berikut ini.

al-Bukhari meriwayatkan hadis pada bab “barangsiapa menyeret sarungnya bukan karena sombong”.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة قال أبو بكر: يا رسول الله، إن أحد شقي إزاري يسترخي، إلا أن أتعاهد ذلك منه؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست ممن يصنعه خيلاء.

“Rasulullah bersabda: Barangsiapa menjulurkan sarungnya sampai menyentuh atau hampir menyentuh tanah karena kesombongan, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat, Abu Bakar berkata kepadanya: Ya Rasulullah, salah satu sisi sarungku selalu terjulur ke bawah, kecuali bila aku sering membetulkan letaknya. Rasulullah berkata kepadanya: engkau tidak termasuk orang-orang yang melakukannya karena kesombongan”. (HR. Al-Bukhari).

Dalam hadis yang lain pada bab yang sama diceritakan bahwa Abu Bakrah berkata yang artinya: ketika terjadi gerhana matahari dan kami sedang berada bersama Nabi, beliau berdiri lalu berjalan menuju masjid sambil menyeret sarungnya karena tergesa-gesa… Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: Allah SWT tidak akan melihat kepada siapa saja yang menyeret sarungnya kerena sombong. Kemudian dalam hadis lainnya Rasulullah  bersabda:

Baca Juga :  Dai Tak Pak Paham Alquran dan Hadis, Bolehkah Berdakwah?

سمعت أبا هريرة يقول: قال النبي صلى الله عليه وسلم أو قال أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: «بينما رجل يمشي في حلة، تعجبه نفسه، مرجل جمته، إذ خسف الله به، فهو يتجلجل إلى يوم القيامة»

“Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda: Seorang lelaki yang sedang berjalan dengan berpakaian sangat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, dan rambutnya tersisir rapi. Tiba-tiba ia ditelan oleh longsoran tanah maka ia pun terus menerus berteriak ketakutan sampai hari kiamat. (HR. Al-Bukhari).

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis tentang isbal yang dilarang karena termotivasi oleh kesombongan.

ابن عمر قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم بأذني هاتين، يقول: من جر إزاره لا يريد بذلك إلا المخيلة، فإن الله لا ينظر إليه يوم القيامة.

“Ibn Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang menjulurkan sarungnya tidak ada suatu tujuan kecuali untuk kesombongan, maka Allah SWT tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. (HR. Muslim).

Keterangan tambahan pada beberapa hadis di atas disampaikan dengan redaksi yang berbeda namun memiliki makna yang sama. Menurut ulama yang membolehkan meriwayatkan hadis dengan makna, secara jelas dalam hadis ini Nabi Muhammad SAW menekankan soal “takabbur atau membanggakan diri ” sebagai satu-satunya alasan mengapa dilarang memakai baju panjang, sarung, atau celana hingga di bawah mata kaki atau isbal.

Melihat riwayat-riwayat Hadis tentang isbal di atas ternyata dalam sebagian riwayat ia bersifat muthlaq (tanpa keterangan) seperti riwayat yang pertama. Sementara dalam beberapa riwayat yang lain bersifat muqayyad (diberi keterangan) seperti riwayat yang kedua di atas. Maka bila ada dua dalil yang satu tanpa keterangan dan satunya lagi diberi keterangan, maka kita mengambil yang muqayyad atau yang diberi keterangan. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh ulama ushul fikih bahwa.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Mengenal Istillah "Illat" Dalam Memahami Hadis (2-Habis)

اذا ورد دليلان في موضع واحد. الأول منهما مطلقا والثاني مقيد. فلا بد من حمل المطلق على المقيد

jika terdapat dua dalil yang muncul secara bersamaan dalam satu bahasan satu di antaranya berbentuk mutlaq (umum) dan yang lain berbentuk muqayyad (disertai penjelasan), maka hukum yang terdapat pada ayat yang muqayyad harus diberlakukan pada ayat yang mut}laq (humila al-Mutlaq ‘ala al-Muqayyad), karena ayat yang muqayyad dinilai lebih detail dan mempunyai dalalah atau petunjuk terhadap hukum yang lebih dari pada ayat yang bersifat mutlaq.

Ali Mustafa Yaqub kembali menjelaskan terkait persoalan isbal dengan memberi kesimpulan bahwa  menurunkan kain di bawah mata kaki berada di neraka apabila pelakunya itu berniat untuk sombong, jika tidak sombong, maka ia tidak berada di neraka atau tidak apa-apa. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dengan mengutip pandangan imam al-Nawawi, menyatakan bahwa teks-teks hadis tentang orang yang menyeret kain dengan sombong menunjukkan bahwa keharaman tersebut khusus bagi yang sombong.

Jadi intinya, penyebab orang masuk neraka dalam perihal isbal adalah karena sifat sombong pemakainya. Sehingga apabila ada orang yang tidak berpakaian isbal atau berpakain dengan pakaian yang ada di atas mata kaki (kebalikan isbal) lalu disertai dengan kesombongan ketika memakainya, maka neraka juga tempatnya. Berpakaian isbal ataupun tidak sama saja dibolehkan asal tidak disertai kesombongan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here