Cara Memahami Hadis: Contoh Penggunaan Metode Hadis Tematik

0
2924

BincangSyariah.Com – Kemarin, penulis sudah menjelaskan beberapa hal terkait dengan, apa itu hadis tematik dan bagaimana cara ia bekerja dalam langkah memahami hadis nabi. Berikut ini adalah di antara penggunaan metode hadis tematik sebagai bagian dari cara memahami hadis,

Penetapan awal Ramadhan

Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis menemukan beberapa hadis tentang penetapan awal masuknya bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Hadis ini ditemukan di dalam beberapa kitab hadis seperti yang terdapat dalam kutub as-Sittah. Adapun Hadis-hadis tentang penetapan awal bulan ramadhan dalam kalender hijriyah diriwayatkan dalam beberapa bentuk, seperti dalam bentuk perintah, hashr  (pembatasan) dan dalam bentuk khabar (berita).  Berikut ini riwayatnya:

  1. Dalam bentuk perintah

يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Rasulullah bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah kalian karena melihatnya. Jika hilal itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari. (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah).

  1. Hadis ini juga diriwayatkan dalam bentuh hashr (membatasi)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوهُ

Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal dan jangan pula kalian berbuka hingga melihat hilal dan jika terhalangi oleh mendung maka tentukanlah bulan itu. (HR. al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud). Di dalam riwayat yang lain disebutkan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

Baca Juga :  Inilah Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadan

Rasulullah bersabda, “(Hitungan) bulan itu dua puluh sembilan malam, maka janganlah berpuasa hingga kalian melihat hilal, jika penglihatan kalian tertutupi maka ganapkanlah hitungan bulan menjadi tiga puluh hari. (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

  1. Diriwayatkan dalam bentuk berita dari Aisyah RA berkata:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ.

Artinya: Bunda Aisyah RA. Berkata, “Rasulullah memantau bulan Sya’ban tidak seperti memantau bulan yang lainnya. Kemudian beliau berpuasa karena melihat hilal ramdhan, jika penglihatan beliau tertutupi, meka beliau menghitung Sya’ban menjadi tiga puluh hari, kemudian beliau berpuasa. (HR. Abu Dawud).

Beberapa riwayat hadis di atas sering sekali kita dengar ketika hendak masuknya bulan suci Ramadhan kerena hadis-hadis tersebut berbicara tentang penetapan awal masuknnya bulan suci Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Redaksi matan hadis dalam riwayat di atas ada yang mengandung makna yang jelas dan adapula yang tidak jelas maknanya sehingga butuh pada penafsiran dan penjelasan.

Perlu diketahui bahwa hadis-hadis yang terkait dengan penentuan awal bulan Ramadhan semuanya adalah shahih, muhkam (maknanya pasti), maqbul (diterima) dan ma’mul bih (dapat diamalkan) dan tidak ada yang mansukh. Meski demikan hadis-hadis di atas beraneka ragam jenisnya, ada yang bersifat mujmal (global) dan adapula yang mubayyin (menjelaskan). Maka dalam hal ini hadis yang mujmal atau yang tidak jelas maknanya harus dipahami dengan riwayat lain yang sudah jelas maknyanya. Dalam hal ini dalam memahami hadis secara baik dan benar dapat ditempuh dengan metode tematik (al-hadis al-maudhu’i).

Adapun redakasi yang mujmal atau yang belum jelas maknanya dalam matan hadis penetapan awal ramadhan di atas adalah kalimat “faqduru>h” sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud dari Abdullah bin Umar RA. Tepat pada hadis no 2. Kalimat “faqduru>h”  berasal dari kata qadara-yaqduru  yang memiliki ragam arti seperti membuat perkiraan, mengatur sesuatu, dan mempersempit rizki seperti makna ayat al-Quran dalam (Qs. al-Fajr: 16). Makna lainnya juga diungkapkan oleh Imam al-Khattabi (w. 388 H) pensyarah kitab Sunan Abu Daud bahwa makna lafaz hadis “faqduru>lah” menjadi jelas setelah ditambahi lafazd “tsalasi>na”  yaitu tentukanlah  ukurannya (bulan tersebut) dengan menggenapkan bilangan hari menjadi tiga puluh hari. dengan ini maka hilanglah ketidakjelasan makna.

Baca Juga :  Mengubah Cara Kita Memandang Atribut Keagamaan

Cara lainnya dalam memahami redaksi matan hadis “faqduru>h”  adalah dengan melihat hadis lainnya yang satu tema atau metode tematik dalam hal dapat dilihat pada riwayat hadis yang no 1 dan 3 bahkan sebenarnya dalam kasus ini lebih dari dua puluh riwayat yang menjelaskan tentang penentuan awal Ramadhan dalam yang menjelaskan makna “faqduruuh” . Di antaranya seperti.

  1. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العدة ثَلَاثِينَ

Jika kalian tertutupi, maka sempurnakan jumlah (bukan) menjadi tiga puluh (hari). Sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari dan an-Nasa’i

2. فَإِنْ غم عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا شعبان ثَلَاثِينَ

Jika kalian tertutupi, maka sempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh (hari). hadis ini sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari dari Ibn Abbas.

3. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فصوموا ثَلَاثِينَ يوما

Jika kalian tertutupi, maka puasalah selama tiga puluh hari. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

Dan banyak lagi riwayat lainnya dengan redaksi lafaz matan yang berbeda namun memiliki makna yang sama yaitu perintah untuk menggenapkan bulan menjadi tiga puluh hari apabila terjadi mendung dan hilal tidak terlihat. Setelah riwayat-riwayat yang menjelaskan itu semuanya disebutkan dan riwayatnya shahih, maka tidak ragu lagi bahwa yang dimaksud dengan lafalz faqduruuh adalah menyempurnakan jumlah hari pada bulan yang sedang berjalan menjadi tiga puluh hari. baik bulan yang sedang berjalan tersebut adalah Syaban atau Ramadhan. Demikian Ali Mustafa Yaqub menjelaskan dalam bukunya.

Hadis Nabi saw di atas mengisyaratkan bahwa cara rukyah merupakan metode yang dipraktekkan langsung oleh Nabi saw dan para sahabatnya, mereka tidak menyerahkan penetapan awal bulan Ramadan dan Syawal kepada ahli hisab dan bila bulan tidak nampak maka menggunakan metode istikmal (penyempurnaan) sebagai alternatifnya. Ulama pada masa awal Islam sepakat penggunaan rukyah untuk penetapan awal bulan Ramadan, Syawal. Dan metode istikmal digunakan ketika terjadi mendung yaitu menggenapkan bulan tersebut menjadi tiga puluh hari seperti yang dijelas dalam banyak riwayat di atas. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

[rujukan utama, al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.]

Baca Juga :  Ragam Hukum Bunga Bank Menurut Ulama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here