Cara Memahami Hadis: Bagaimana Memahami Hadis-Hadis yang Bertentangan?

0
956

BincangSyariah.Com – Dalam kajian hadis terdapat beberapa istilah yang masih kabur maknanya, di antara istilah-istilah tersebut adalah ikhtilaf al-Riwayah atau ikhtilaf al-hadis. Kedua istilah di atas terlihat hampir sama, padahal ia memiliki makna yang berbeda. Ikhtilaf al-riwayah atau juga dikenal dengan istilah ikhtilaf al-alfazh memiliki arti adanya redaksi matan hadis yang berbeda-beda tetapi memiliki makna yang sama. Hal ini tentu menurut para ulama yang membolehkan meriwayatkan hadis dengan makna.

Mengenai hal ini dapat dideteksi ketika ada ulama yang mengatakan misalnya. “ini menurut lafaz (redaksi) Imam al-Bukhari”; atau juga terkadang menggunakan istilah wa fi lafzhin (dalam sebuah lafadz dikatakan) dan lainnya. Perbedaan redaksi matan hadis dapat saja terjadi kerena terkadang nabi menyampaikannya pada kasus yang sama namun di beberapa kesempatan yang berbeda dengan menggunkan lafaz yang berbeda pula. Atau juga bisa dikarenakan para rawi hadis yang meriwayatkan hadis secara makna.

Sedangkan ikhtilaf al-hadis adalah hadis yang menyalahi al-Quran atau hadis lainnya atau juga bisa menyalahi logika. Di antara para ulama ada yang memasukkan bab ini kedalam pembahasan bab al-Ta‘arudh, yaitu pertentangan antara satu dalil dengan dalil yang lain. Sementara imam an-Nawawi (w 676 H) sendiri mendefinisikannya dengan adanya dua buah hadis yang secara zahir maknanya saling bertentangan, kemudian keduanya dikompromikan atau ditarjih (dipilih riwayat atau pendapat yang lebih kuat) dari salah satunya. Istilah lainnya yang dipakai oleh ulama untuk istilah ikhtilaf al-hadis adalah musykil al-Atsar (riwayat-riwayat yang memiliki permasalahan).

Sebagaimana diutarakan oleh imam an-Nawawi, pada dasarnya kontradiksi dalam hadis hanyalah terjadi pada makna zahirnya saja. Karena ternyata setelah dibaca hadis tersebut secara mendalam maka tidaklah ditemukan adanya kontradiksi antara dua buah hadis atau hadis dengan Al-Qur’an. Karena keduanya hakikatnya adalah wahyu dari Allah Swt. Bilapun ada maka hal tersebut hanyalah kekeliruan seseorang dalam memahami teks, sebab kurangnya ilmu yang dimiliki.

Baca Juga :  Kata Nabi, Pengadu Domba Tak Masuk Surga

Ilmu ikhtilaf al-hadis sangat penting untuk didalami dan dikaji. Karena banyak orang tanpa menguasai ilmu ini menghukumi hadis shahih menjadi maudhu’ (palsu) hanya dikarenakan hadis tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis, dan akal secara zahir. Maka Imam al-Suyuti pun menganggap ilmu ini sangatlah urgen. Semua ulama mengharuskan untuk mengetahuinya sebelum memahami hadis dan mengambil sebuah keputusan hukum melalui hadis nabi.

Tentu untuk mengetahui ilmu ikhtilaf al-hadis ini, dapat dibaca di dalam beberapa kitab yang sudah dikarang oleh ulama-ulama terdahulu. Seperti Imam al-Syafi’I (w. 204 H) misalnya, beliau adalah salah satu ulama pionir, yang pertama kali menuliskan pembahasan ikhtilaf al-hadis secara umum ada di dalam kitab fikihnya, bernama al-Umm. Di dalamnya beliau menjelaskan cara penyelesaian hadis-hadis yang bertentangan dengan mengompromikan hadis-hadis tersebut. Dan, untuk saat ini pembahasan tentang ikhtilaf al-Hadis dalam al-Umm tersebut sudah dicetak dalam bentuk kitab tersendiri berjudul Ikhtilaf al-Hadis yang disandarkan kepada Imam Syafi’I sebagai pengarangnya.

Selanjutnya adalah Imam Ibn Qutaibah (w. 276 H) dengan kitabnya Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits. Ada juga kitab yang ditulis oleh Ibn Jarir al-Thabari. Kemudian kitab Musykil al-Atsar yang ditulis oleh Imam al-Thahawi. Begitu pula Ibn Khuzaimah termasuk ulama yang pernah menulis tentang hadis-hadis yang bertentangan. Namun hingga hari ini penulis sulit dalam mengaksesnya, ia pernah berkomentar. “aku tidak mengetahui ada dua hadis yang saling bertentangan. Jika ada yang menemukannya maka bawalah kepadaku untuk aku satukan di antara keduanya”.

Wallahu A’lam

Diolah dari al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah karya Prof. Ali Mustafa Yaqub. MA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here