Cara Jitu Mendapatkan Buah Takwa yang Sempurna

0
1491

BincangSyariah.Com – Kondisi seseorang yang rela beramal dengan menaati Allah di atas cahayaNya, dan tidak bermaksiat kepadaNya disebut dengan takwa. Tetap konsisten di atas jalan takwa memang tidaklah mudah, namun itulah yang menyebabkan buah takwa nyaris sempurna dibandingkan buah yang lain. Sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu Furqaan dan akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Buah takwa yang disebutkan ayat tersebut adalah hanya satu dari sekian banyak yang dianugerahkan Allah kepada setiap hamba yang takwa. Furqan tersebut adalah pembeda antara yang haq dan batil. Furqan menjadi kunci selamat di dunia, apalagi jaman sekarang di mana kebenaran dan kesalahan sudah tidak begitu kentara. Banyak manusia yang terperosok ke dalam perilaku maksiat karena pada awalnya dia tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah salah, apalagi kemasannya  begitu indah mempesona.

Dengan begitu bijak, Ibn Atha’illah menuliskan dalam karyanya Al-Hikam sebagai berikut:

اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْحُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ

“Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya.”

Secara bahasa, al-humuul artinya adalah kosong, lemah, bodoh, tidak aktif, tidak dikenal; yang dalam konteks ini bermakna “kerendahan” atau “ketiadaan”. Sementara wujud atau eksistensi manusia pada dasarnya ingin diakui, dikenal, mahsyur, terpandang, paling hebat, dan semacamnya. Dalam istilah psikologi, manusia diatur oleh ego yang ada dalam dirinya.

Dalam Al-Hikam, Ibn Atha’illah mengungkap cara jitu untuk mendapatkan buah takwa yang sempurna adalah dengan mengubur eksistensi dan ego kita dalam bumi ketiadaaan. Kita tidak akan mampu mengenal siapa diri kita, buah takwa apa yang harus kita hasilkan, kecuali Allah memberi petunjuk dan perlindungan. Selama ini ego diri kita yang mengatur siapa diri kita dan apa yang kita inginkan padahal Allah lah yang lebih mengetahui diri kita yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Kualitas Hadis-Hadis tentang Malam Nisfu Sya’ban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here