Cara Islam Meluruskan Konsep Kejantanan

0
989

BincangSyariah.Com – Perubahan cara pandang atas kedirian manusia yang diajarkan Islam berpengaruh pada perubahan cara pandang atas beberapa konsep.  Di antaranya adalah konsep kejantanan laki-laki dan kesucian perempuan. Seperti apa konsep ini diubah Islam?

Ketika manusia hanya dipandang sebatas makhluk fisik, maka standar kejantanan dan kesucian juga sebatas biologis. Kejantanan diukur oleh sekuat apa laki-laki bisa salurkan syahwat libidonya. Sementara kesucian diukur oleh seutuh apa alat kelamin perempuan.

Dalam cara pandang seperti ini, laki-laki dibuat terobsesi untuk menaklukkan sebanyak mungkin perempuan supaya jantan. Sebaliknya, perempuan dituntut untuk mempunyai selaput dara seutuh mungkin sebagai bukti kesuciannya.

Laki-laki terdorong untuk menaikkan libido ke titik tertinggi. Sebaliknya, perempuan disalahkan saat selaput dara rusak dengan alasan apapun. Termasuk karena terbentur ketika belajar naik sepeda atau bahkan saat robek karena dipaksa menjadi sasaran tingginya libido laki-laki.

Islam mengubah cara pandang pada manusia hanya sebatas makhluk fisik ini. Berbeda dengan hewan, manusia dikaruniai akal dan hati. Bahkan dimensi non-fisik, yakni intelektual dan spiritual manusia ini justru menjadi jati diri mereka yg utama.

Nilai kualitas manusia bukan ditentukan oleh jenis kelamin yang bersifat fisik itu. Tapi, oleh ketakwaan yang bersifat intelektual sekaligus spiritual menggunakan akal budi secara maksimal dalam tiap tindakan agar beri maslahat bagi diri sendiri & pihak lain seluas-luasnya atas dasar iman pada Allah.

Kejantanan laki-laki dengan demikian tidak ditentukan oleh sekuat apa mampu menyalurkan libido, tapi sebaliknya oleh sekuat apa mampu kendalikannya untuk hanya salurkan secara halal, baik (thayyiban), lagi pantas (ma’rufan) sebagai makhluk yang berakal budi.

Hanya dengan cara yang bermartabat (halal, thayyib, ma’ruf) seperti inilah laki-laki dan perempuan mampu memberi kemaslahatan pada diri sendiri dan pihak lain seluas-luasnya dalam melakukan aktifitas seksual.

Laki-laki dan perempuan beriman sama-sama diminta kontrol cara pandang (ghoddhul al-bashar): melihat lawan jenis tidak hanya secara biologis sehingga seperti pejantan-betina tapi juga sebagai makhluk intelektual & spiritual yang berakal budi sehingga bisa sinergi lahirkan kemaslahatan seluas-luasnya.

Dengan cara pandang pada manusia yang tidak sebatas makhluk biologis tapi juga intelektual dan spiritual ini pulalah laki-laki dan perempuan sama-sama bisa menjaga alat kelamin dan libidonya (hifzhul furuj) dengan baik. Kapankah? Seumur hidup! Baik ketika single maupun saat punya suami/istri.

Smg kita mampu mengasah iman agar bisa lulus ujian “kejantanan” dan “kesucian” di berbagai aspek kehidupan.Aamiin yra. Smg bermanfaat. Wallahu A’lam bish-Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here