Cara Introspeksi Diri dalam Islam Menurut Imam al-Ghazali

0
34

BincangSyariah.Com – Introspeksi diri dalam bahasa Arab biasa dikenal dengan kata Muhasabah An-Nafs. Introspeksi diri adalah refleksi (perenungan) terhadap segala perbuatan yang telah kita lakukan apakah berkualitas atau tidak. Ini dilakukan supaya apa yang telah kita pilih dan lakukan bernilai positif bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah maha mengetahui atas apa yang kalian perbuat.” (Q.S. al-Hasyr: 18)

Ayat ini menyerukan kepada manusia agar senantiasa bertakwa. Selanjutnya merenungkan atas segala amal perbuatan yang akan dibawa kelak dihadapan ilahi. Kalau ternyata perilakunya baik, maka hendaknya bersyukur dan menekuni kebaikan tersebut.

Sebaliknya, jika terdapat perbuatan yang tidak baik, maka hendaknya mencela diri sendiri dan bertaubat. Lantas kita harus mempunyai komitmen yang kuat untuk memperbaiki diri. lantaran orang yang tidak mempunyai kesungguhan dan upaya yang keras dalam instropeksi diri dalam meneliti kesalahannya, niscaya sia-sia amal perbuatan yang dia lakukan. (Baca: Tanda Allah Menghendaki Kebaikan pada Seseorang)

Sebenarnya, introspeksi diri merupakan salah satu dari beberapa rangkaian yang harus dilakukan dalam membentuk amal perbuatan yang baik dan membuang jauh-jauh sikap-sikap yang dicela. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin menyebutkan ada beberapa cara introspeksi diri yang harus ditempuh untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat:

Pertama, Musyaratah yaitu komitmen yang kuat sebelum mulai melakukan aktivitas untuk selalu berbuat baik setiap waktu dan meninggalkan segala perbuatan yang tidak terpuji.

Baca Juga :  Manusia yang Menjadi Kunci Kebaikan dan Kunci Keburukan

Kedua, pada saat kita melakukan aktivitas kita harus merasakan bahwa Allah swt. selalu hadir dalam diri kita. Allah selalu memantau diri kita setiap waktu. Hal ini yang biasa kita sebut dengan Muraqabah.

Ketiga, Muhasabah (instropeksi diri) dilakukan setelah selesai melakukan aktivitas sebagai langkah evaluasi terhadap perbuatan yang telah dilakukan. Dalam melakukan instropeksi diri, kita harus mengenal mana yang Haq (benar) dan mana yang Bathil (salah), karena pada zaman yang penuh kesyubhatan (kesangsian) antara halal dan haram, kita sering terjebak dalam kesesatan karena kurangnya pengetahuan kita terhadap apa yang kita lakukan .

Dengan melakukan Muhasabah secara konsisten dapat membentuk perilaku yang luhur, baik yang berhubungan langsung dengan tuhan atupun yang bersentuhan dengan sesama manusia. Dengan melakukan Muhasabah juga dapat membentuk pribadi kita agar selalu bertakwa, mengerti akan kewajiban kita di dunia ini dan tidak akan melalaikannya. Disamping itu, dapat menumbuhkan kesalehan dalam jiwa kita. Sehingga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang menyesal di akhirat kelak. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam al-Quran:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Wahai tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh terhadap apa-apa yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya (permohonan itu) hanyalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (pemisah) sampai hari mereka dibangkitkan.” (Q.S. Al-Mu’minun: 99-100)

Ayat tersebut menggambarkan tentang nasib manusia yang menemukan dirinya dalam “kesadaran yang terlambat” setelah mengahadapi kenyataan yang tidak mungkin lagi terelakkan. Ibarat kata pepatah yang tidak asing kita dengar “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.” Suatu penyesalan yang sama sekali tidak sanggup lagi mengubah kenyataan.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Paham "Wahdatul Wujud"

Semoga kita senantiasa diingatkan oleh Allah swt. untuk selalu instropeksi diri dan memperbaiki diri, serta menjadikan kita hamba-Nya yang taat mematuhi segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here