Ini Cara Identifikasi Musibah sebagai Hukuman, Penghapus Kesalahan atau Pengangkat Derajat Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

0
1005

BincangSyariah.Com – Manusia hidup di dunia pasti mendapatkan ujian dari Allah Swt. Ujian itu beraneka ragam. Ada yang diuji dengan harta melimpah. Ada yang diuji dengan kekurangan harta. Ada yang diuji dengan meninggalnya orang yang disayang. Ada pula yang diuji dengan musibah banjir. Tentu ujian yang diberikan Allah kepada manusia masih kalah dahsyat dibandingkan ujian yang diberikan Allah kepada para Nabi.

Allah berfirman dalam Al-Quran surah al-Baqarah ayat 155-156

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ , ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“.

Reaksi manusia terhadap musibah yang diberikan Allah bermacam-macam. Mulai dari mengeluh, marah, hingga ada yang bunuh dari gara-gara (merasa) tak mampu menghadapinya. Padahal reaksi terhadap musibah menentukan apakah cobaan tersebut sebagai hukuman atau bahkan bisa jadi pengangkat derajat seseorang.

Disebutkan dalam kitab At-Tabaqatul Kubra karya Syekh Abdul Wahhab As-Sya’roni, Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

علامة الابتلاء على وجه العقوبة، والمقابلة عدم الصبر عند وجود البلاء والجزع،  والشكوى الى الخلق، وعلامة الابتلاء تكفيرا، وتمحيصا للخطيءات، وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر،ولا ثقل فى اداء الاوامر، والطاعات، وعلامة البتلاء لا رتفاعالدرجات، وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس والسكون للأقدار حتىى تنكشف

”Tandanya  musibah sebagai hukuman dan pembalasan adalah orang yang menerimanya tidak bisa bersabar, malah bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tandanya musibah sebagai penebus dan penghapus kesalahan-kesalahan adalah kesabaran yang bagus tanpa mengeluh , tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melakukan ketaatan – kataatan. Sedangkan tanda musibah sebagai pengangkat derajat adalah ridha, jiwanya tenang serta tunduk, patuh terhadap ketetapan ketetapan Allah hingga musibah hilang.“

Dengan demikian, berpedoman pada pendapat Syekh Abdul Qadir al-Jailani di atas, musibah itu tergantung kita apakah hendak kita jadikan sebagai hukuman atau justru sebagai pengangkat derajat kita. Karena seyogianya cobaan dan musibah yang Allah berikan pastilah kita mampu menghadapinya.

Baca Juga :  Doa Nabi Ketika Mengunjungi Orang yang Tertimpa Musibah

Wallahu ta’ala a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here