Cairan Bening dari Luka Najis Atau Suci?

1
849

BincangSyariah.Com – Ketika ada bagian anggota tubuh kita yang terluka, biasanya setelah beberapa saat mengeluarkan cairan bening dari luka tersebut. Apakah cairan bening yang keluar dari luka tersebut dihukumi najis sehingga harus dibasuh, atau dihukumi suci sehingga tidak perlu dibasuh?

Menurut ulama Syafiiyah, ada dua kondisi dan dua hukum mengenai cairan yang keluar dari luka. Kondisi pertama cairan yang keluar dari luka tersebut sudah berubah warna atau baunya. Jika cairan tersebut warnanya sudah berubah, dari bening ke coklat misalnya, atau sudah bau, maka dihukumi najis.

Dalam kondisi sudah berubah warnanya atau baunya, ulama sepakat bahwa cairan dari luka hukumnya najis. Ia seperti nanah, sama-sama najis.

Sebaliknya kondisi kedua cairan tersebut warnanya tidak berubah dan tidak bau, maka cairan tersebut dihukumi suci, tidak najis. Selama tidak berubah dan tidak bau, ia dihukumi sama seperti keringat dan air mata.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab berikut;

واما القيح فهو نجس لانه دم استحال الي نتن فإذا كان الدم نجسا فالقيح أولي واما ماء القروح فان كان له رائحة فهونجس كالقيح وان لم يكن له رائحة فهو طاهر كرطوبة البدن

Adapun nanah, maka hukumnya najis karena ia merupakan darah yang sudah busuk. Jika darah najis, maka nanah lebih najis lagi. Adapun air luka, jika sudah bau, maka ia dihukumi najis seperti nanah. Jika tidak bau, maka ia suci seperti cairan tubuh yang lain.

Dalam kitab Al-Majmu, Imam Nawawi mengatakan sebagai berikut;

الْقَيْحُ نَجِسٌ بِلَا خِلَافٍ وَكَذَا مَاءُ الْقُرُوحِ الْمُتَغَيِّرُ نَجِسٌ بِالِاتِّفَاقِ وَأَمَّا غَيْرُ الْمُتَغَيِّرِ فَطَاهِرٌ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَآخَرُونَ

Baca Juga :  Sepuluh Macam Najis yang Dimaafkan

Nanah hukumnya najis tanpa perbedaan pendapat (di kalangan para ulama). Begitu juga dengan air luka yang sudah berubah, hukumnya najis menurut kesepakatan para ulama. Adapun jika belum berubah, maka hukumnya suci menurut pendapat ulama madzhab. Ini juga yang ditegaskan oleh Imam Al-Qadhi Abu Al-Thayyib, Syaikh Abu Hamid dan ulama yang lain.

1 KOMENTAR

  1. […] Diriwayatkan bahwa Qatadah bin Nu’man matanya terkena senjata pada saat perang Badar hingga bola matanya bergelantungan di pipinya. Semula para sahabat hendak memotongnya. Untungnya, mereka menanyakannya lebih dahulu kepada Rasulullah. Dan beliau pun melarang; Jangan dipotong. Kemudian beliau memanggil Qatadah dan mengembalikan bola matanya dengan telapak tangan beliau. Sampai-sampai Qatadah pun tidak tahu mata mana yang sebelumnya terluka. (Baca: Cairan Bening dari Luka Najis Atau Suci?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here