Buya Syakur Yasin: Orang yang Paling Dekat dengan Allah itu yang Paling Paham Firman-Nya

0
1096

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah ceramah, Buya Syakur Yasin menyampaikan pendapat linguis modern Ferdinand de Saussure. Menurutnya, Ferdinand de Saussure menggagas bahwa kata sebenarnya tidak memiliki makna atau arti yang pasti sebab hanya simbol-simbol saja. Makna datang setelah kata berdampingan dengan kata yang lain dan membentuk kalimat yang sempurna. Setelah kalimat menjadi sempurna, belum tentu maknanya bisa dicerna dan utuh.

Kajian-kajian teks sering mengalami kegagalan sebab teks tidak pernah menunjukkan makna yang pasti. Terjadilah subjektivitas pada bentuk teksnya, pembicaranya, pendengarnya, situasi, kondisi, ruang dan waktu, dan lain sebagainya sangat menentukan sekali. (Baca: Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu)

Bisa saja seseorang berkata dan satu orang berbeda lainnya berbicara dengan kata yang sama tapi maknanya jauh berbeda. Diucapkan di tempat yang berbeda, kata bisa memiliki makna yang berbeda. Begitu juga saat diucapkan di dua atau lebih ruang yang berbeda. Saat kata dilontarkan atau dibicarakan pada lawan bicara yang berbeda juga akan bermakna berbeda. Bahasa hanya simbol saja.

Santri yang pintar, santri yang bodoh, santri yang rajin, santri yang malas, santri yang dekat, santri yang jauh, ketika mendengarkan ucapan kiainya pasti memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Menagih hutang di tempat umum berarti menghina tapi jika menarih di rumah maka akan dijawab dengan tenang.

Persoalannya, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dan diucapkan pada masa perang digunakan untuk Indonesia yang damai. Indonesia negara yang cinta damai kenapa menggunakan ayat-ayat perang? Kata seperti habiskan, bunuh, bakar, cincang adalah bahasa perang, tidak bisa diucapkan di masa damai.

Kesalahan kita adalah tidak memahami konteks. Pada akhirnya, siapa orang yang paling paham siapa yang saya katakan adalah orang yang paling mengenal saya, mengerti saya sehingga paham apa yang saya maksudkan. Diam saja bisa diartikan sebagai izin padahal bisa jadi artinya adalah marah.

Baca Juga :  Apel Kebangsaan, Habib Luthfi: Warga Indonesia Harus Jaga NKRI

Buya Syakur menutup dengan sebuah analogi: “Siapa orang yang paling paham dengan firman Tuhan? Ia adalah orang yang sudah paham (paling dekat) dengan Tuhan.”

Saat surat An-Nasr turun, Sayyidina Ali, Umar, dan Abu Bakar menangis. Ayat tersebut menandakan bahwa sebentar lagi mereka semua akan ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. Para sahabat pun paham makna ayat tersebut sebab merekalah yang paling dekat dengan Rasulullah Saw.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here