Buya Hamka Melarang Ucapan Selamat Natal? Ini Klarifikasi Keluarga Beliau

3
5988

BincangSyariah.Com – Perayaan natal mungkin sudah berakhir, bersama dengan kehangatan dan kesukacitaan umat kristiani dan beberapa perdebatan hangat di kalangan muslim yang selalu muncul setiap menjelang perayaan kelahiran Nabi Isa itu, sosok yang diyakini sebagai “Tuhan” bagi kaum kristiani namun hanya Nabi dan sama sekali bukan Tuhan bagi umat muslim. SOal perdebatan hangat, ya seperti biasa yang muncul adalah dua kelompok yang saling bertentangan. Salah satu debatnya adalah soal bolehkah umat muslim mengucapkan selamat Natal kepada kaum Kristiani. Perdebatan yang kini lebih banyak terjadi di dunia virtual itu semakin hangat menjelang hari natal, dan setelah selesai hilang perlahan begitu saja, dan mungkin di dunia nyata sebenarnya yang saling berdebatan itu tidak saling mengenal.

Tapi kemarin, selama perdebatan boleh tidak, kaum yang bilang boleh seringkali mengutip nama Buya Hamka. Ulama besar Minangkabau, penulis tafsir al-Azhar (salah satu karya yang tidak banyak dihasilkan orang, bahkan ulama sekalipun, adalah tafsir), dan ketua Majelis Ulama Indonesia pertama, pernah menyampaikan fatwa bahwa merayakan selamat Natal itu hukumnya haram. Kelompok yang menyatakan tidak boleh menggunakan informasi itu untu mendukung pendapat bahwa mengucapkan selamat natal kepada kaum Nasrani hukumnya haram.

Bukan bermaksud memperpanjang perdebatan, tapi yang menarik lagi adalah nama Buya Hamka selalu ditarik muncul jika berbicara hukum selamat natal. Utamanya, untuk mendukung pendapat tidak boleh. Tapi, di tahun ini, muncullah penjelasan yang menyatakan bahwa yang diharamkan Buya Hamka adalah mengikuti perayaan natal bersama, di dalam gereja, dan mengikuti misa. Sementara mengucapkan selamat natal, apalagi jika kita bertetangga dengan yang Nasrani, itu tidak ada masalah.

Mengejutkan mungkin, baik bagi yang mendukung diharamkannya muslim mengucapkan selamat natal. Tapi, informasi ini paling tidak tidak muncul dari orang lain, tapi dari anak cucu beliau sendiri. Irfan Hamka, seperti dikutip dari Republika mengatakan bahwa yang dimaksud ayahnya bukan mengucapkan selamat, tapi mengikuti kegiatan natal di dalam gereja (misa) yang posisinya setara dengan wudhu dan shalat dalam Islam demi alasan toleransi. Sementara, kalau mengucapkan, Buya Hamka mencontohkan sendiri dengan mengatakan « selamat untuk natal kalian » kepada tetangganya yang Nasrani. Disebutkan tetangganya bernama Reneker dan Ong Liong Sikh. Pernyataan « natal kalian » ini untuk menegaskan batal “bagimu agamamu bagimu agamaku” karena kata itu menunjukkan kalau itu adalah natal yang diyakini umat Kristiani, bukan yang diyakini umat Islam.

Baca Juga :  Biografi Buya Hamka: Mufassir Sastrawan yang Memaafkan Ir. Soekarno

Selain pendapat Irfan Hamka ini, ada pendapat lain yang disampaikan dari pihak keluarga. Beredar sebuah unggahan berasal dari Naila Fauzia, yang menyebut sebagai cucu Buya Hamka dari anaknya yang ke-7. Saya coba tracking posting-an ini selain yang diunggah oleh akun Prof. Dr. Azyumardi Azra , profesor sejarah UIN Jakarta dan pernah menjadi wartawan Panji Masyarakat di akhir tahun 70-an, tapi saya tidak menemukannya. Posting-an itu juga intinya selaras dengan yang disampaikan Irfan Hamka. Bahkan, menurut cerita Naila dulu Siti Raham, istri Buya selalu membuat rendang untuk dibagikan kepada tetangga-tetangga yang merayakan natal.

Terakhir, informasi yang juga dikutip Prof. Azyumardi Azra dalam facebook-nya dari disertasi yang ditulis oleh Mujiburrahman (kini rektor UIN Banjarmasin). Mujiburrahman menelusuri bahwa di tahun 70-an Buya Hamka sudah ditanya persoalan ini ketika ada sesi tanya jawab di Radio. Waktu itu, keterbatasan waktu membuat Buya tidak menjawab langsung, dan menjawabnya di Panji Masyarakat, majalah yang beliau asuh. Beliau menjawab, seperti dikutip oleh Mujiburrahman,

“in his answer, HAMKA explained that it was acceptable for Muslims to say “Merry Christmas, to Christian neighbours as an expression of religious tolerance, but they were not allowed to participate in the celebration itself. He compared Christmas with Idul Fitri for the Muslims: the Christians often sent Happy Idul Fitri cards to their Muslim friends but never participated in the Idul Fitri prayer in the mosque or square.”

Dalam jawabannya, Hamka menjelaskan bahwa dibolehkan bagi muslim untuk mengucapkan “Selamat Natal”/Merry Christmas kepada tetangga-tetangga muslim sebagai sebuah ekspresi toleransi, tetapi umat muslim tidak boleh ikut berpartisipasi dalam perayaannya. Beliau (Buya Hamka) membandingkan mengucapkan natal dengan mengucapkan idul Fitri kepada umat Muslim. Orang-orang Kristen sering mengirimkan kartu ucapan “Selamat Idul Fitri” kepada rekan-rekan muslimnya, tapi tidak pernah berpartisipasi (dalam arti beribadah) dengan shalat idul Fitri di masjid atau lapangan.

Lebih lanjut, dalam kutipan Mujiburrahman tersebut, Buya Hamka menolak jika bentuk toleransi di hari Natal itu umat muslim ikut misa, karena itu sudah persoalan akidah. Hamka juga mencoba menjelaskan kalau posisi Natal adalah memperingati kelahiran Isa As., layaknya umat Muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw., meski ada perbedaan pendapat soal itu.

Baca Juga :  Empat Alasan Mengapa Toleransi dalam Islam Unik

Dalam sejarah, tahun 70-80an memang aktivitas Kristenisasi sedang menunjukkan perkembangan positif (karena mungkin waktu itu setelah peristiwa PKI, orang harus menegaskan identitas formal agamanya, jadilah yang lebih dekat dengan Kristen memilih menjadi Kristen). Buya Hamka memang mengkritik keras kegiatan itu dan menegaskan itu tidak bisa disebut toleransi. Menurut penulis, sangat wajar beliau berkata demikian karena posisinya sebagai tokoh Islam di masa itu, selain kondisi masyarakat yang masih bergejolak.

Terakhir, penjelasan ini mungkin belum cukup meyakinkan bagi mereka yang tetap mengharamkan mengucapkan selamat Natal untuk kaum kristiani. Tapi paling tidak, tulisan ini bisa membantu menjelaskan bahwa yang benar dari pendapat Buya Hamka adalah mengikuti ibadah Kristiani pada hari natal secara aktif di gereja dengan alasan toleransi, itu yang haram. Tapi tidak dengan mengucapkan selamat natal kepada kaum Kristiani, apalagi dengan niat menjaga hubungan baik jika kita memang dekat dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu al-Musta’aan.

3 KOMENTAR

  1. Natal itu hari kelahiran Jesus Kristus atw Isa Almasih.
    Mau dianggap Tuhan yg menjadi manusia ataupin Cuma seorang Nabi , yg pasti Jesus sudah lahir. Mau dianggap benar atw salah tanggal kelahirannya , yg pasti Jesus sudah lahir dan DISEPAKATI 25 Desember sebagai tanggal kelahirannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here