Buntut Terorisme di Masjid Christchurch: Pelajar Muslimah Takut Meninggalkan Rumah

1
127

BincangSyariah.Com – Ketika sebagian besar masyarakat Selandia Baru bersatu menggalang solidaritas untuk komunitas Muslim, di sisi lain aksi terorisme yang terjadi pada dua masjid di Cristhchurch itu ternyata masih menyisakan mimpi buruk bagi sebagian warga Muslim di sana.

Sejak penembakan pada hari Jumat lalu (15/2) itu,  para Muslimah merasa tidak aman saat mengenakan jilbab mereka di luar rumah. Menurut informasi yang dihimpun dari Asosiasi Mahasiswa Muslim di Universitas Auckland, Otago dan Christchurch, saat ini banyak anggota perempuan berjilbab  melaporkan merasa takut dan rentan setelah teror penembakan.

“Saya tahu banyak siswa perempuan memutuskan untuk tidak datang ke universitas dalam beberapa hari ke depan karena rasa takut,” kata Asosiasi Mahasiswa Muslim Universitas Auckland, Sohail Din, Rabu (20/3), sebagaimana dilansir dalam nzherald.co.nz

Sementara itu, Wakil ketua Asosiasi Mahasiswa Muslim Universitas Otago, Naser Tamiri, mengatakan di Christchurch, para pelajar Muslimah juga melaporkan terlalu takut untuk keluar dengan jilbab mereka sehingga Pasukan Sukarelawan harus mengawal para pelajar Muslimah itu ke supermarket dan tempat-tempat lain. Beberapa wanita yang memberanikan diri keluar dan memilih mengenakan jilbab juga dalam hati selalu ada perasaan, ‘apakah mereka akan menjadi korban, apakah mereka akan diserang’.

Merespons hal itu, Presiden  Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru, Tahir Nawaz, mengatakan sebagian besar masyarakat memiliki pandangan positif terhadap komunitas Muslim sebab semua lapisan masyarakat di negara itu memberikan dukungan yang sangat besar. Tapi, dia sadar penembakan itu membuat beberapa kelompok takut akan serangan dan pelecehan lebih lanjut.

“Orang-orang yang lahir di sini, orang-orang yang bersekolah di sekolah-sekolah lokal, orang-orang yang merupakan bagian dari komunitas Muslim Kiwi pasti kaget. Ini ketakutan nasional – apakah itu akan terjadi di sini di kota ini, apakah itu akan terjadi di sekolah kita? ”

Baca Juga :  Bom Bunuh Diri bukan Jihad

Tetapi di sisi lain, kata Nawaz, sebagian besar masyarakat percaya bahwa hari paling gelap dalam sejarah Selandia Baru ini akan menyatukan semua lapisan masyarakat sebagai satu keluarga.

“Kami mendapat dukungan dari semua komunitas agama – gereja, sinagoge, kuil, apa saja. Saya pikir kita akan memiliki ikatan yang lebih kuat dan kita akan menjadi lebih kuat sebagai satu bangsa.” katanya.

Serangan itu juga mendorong Yayasan Hak Asasi Manusia Selandia Baru bersama dengan komunitas Muslim, untuk membuat situs web Laporan Islamophobia yang memungkinkan warga berbagi pengalaman rasisme dan saling mendukung.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here