Bumi pun Heran Melihat Tingkah Dua Orang Ini

0
1382

BincangSyariah.Com – Allah sering mengingatkan kita melalui firman-Nya bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara. Kita yang manusia, bisa tiada kapan saja. Persinggahan yang sementara ini cukup kita jadikan kesempatan dalam meraih kerahmatan untuk kehidupan yang kekal. Tidak cukup berinvestsi, namun juga suka berbagi. Layaknya orang yang sedang di bandara, ia hanya fokus pada keperluan dan bekal menuju tujuan utamanya saja. Begitu pun dengan kita yang sedang di dunia, kepentingan akhirat layak diutamakan.

Namun ada yang menarik dari kisah yang diceritakan kitab Tanbihul Mughtarrin, di dalamnya diceritakan sebuah  keheranan sosok bumi ketika melihat tingkah dua orang. Seperti apakah dua orang tersebut? Keterangan tersebut menjelaskan:

تعجب الأرض من رجلين ممن يمهد مضجعه للنوم ويوطئ فراشه تقول له الأرض يابن أدم لم لا تذكر طول بلاك في بلا فراش وتعجب ممن تشاجر مع أخيه في قطعة منها تقول له الأرض لم لا تتفكر في أربابها قبلك فكم مضى من الناس رجل ملكها ولم يقم فيها

Bumi pun heran melihat dua orang: seseorang  yang menyiapkan kasurnya untuk tidur  berkatalah bumi padanya, “Hai Anak Adam, kenapa kau tak mengingat kebinasaanmu di dalam diriku tanpa ada kasur?” dan yang kedua adalah orang yang memutus silaturrahmi sebab sebidang tanah, bumi berkata padanya “tidakkah kau ingat, para pemilik sebelumnya sekarang tak lagi hidup di atasnya?” (Maksud Hadis Silaturahim Memperpanjang Umur)

Orang pertama yang membuat bumi terheran adalah orang yang lebih menyiapkan kasurnya untuk tempat tidur di dunia daripada mengingat dan menyiapkan dirinya untuk berjumpa dengan hari akhir. Sebagai seorang muslim, tentu sudah mengerti bahwa kehidupan di akhirat itu kekal dan lebih utama. Namun mengapa orang tersebut justru sibuk dengan perangkat tidurnya di dunia? Jauh lebih baik jika ia berburu kebaikan untuk kelayakan hidupnya kelak.

Baca Juga :  Mengambil Hikmah dari Nabi Musa dan Fir'aun

Adapun orang kedua yang membuat bumi terheran adalah orang yang memutus tali silaturahmi hanya karema sebidang tanah. Tentu bumi masih bertanya-tanya, ini orang kenapa bisa memutuskan tali silaturahmi? Padahal perkaranya hanyalah sebidang tanah. Bukankah manusia tidak kekal hidup di atas hunian tanahnya?

Fenomena seperti ini memang terbilang aneh, namun nyatanya masih banyak terjadi di kalangan keluarga dekat, kerabat, atau lingkungan sekitar. Cukuplah hadis di bawah ini sebagai pengingat, bahwa pemutus silaturahmi itu terbilangan sebagai golongan yang tidak akan masuknya Allah. Dalam kitab Bulughul Maram disebutkan:

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍرضي الله عنهقَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ – يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim. (HR. Bukhari Muslim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here