Bulan Ramadan sebagai Momentum Pendidikan Muslimin

0
902

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadan yang penuh berkah ini banyak sekali kesempatan-kesempatan yang bisa dijadikan ladang untuk mendapatkan pahala berlipat-lipat. Karena dibulan ini Allah sangat jelas memberikan sebuah pencapaian lebih dalam amal kebaikan kita. Namun kadang kita lupa akan pentingnya hal semacam ini. Boleh jadi kita terlalu euforia akan datangnya bulan suci Ramadan ini, yang mana dengan sekadar hanya euforia saja kita belum bisa sampai pada titik terang esensi bulan Ramadan.

Bulan Ramadan yang sering banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim pada umumnya seharusnya dijadikan momen dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitas amal baik yang konsisten sampai pada bulan-bulan berikutnya. Sehingga jika hal semacam ini terus ditanamkan dalam diri seorang yang menjalankan puasa, pasti mereka tidak hanya sekadar menyambut bulan Ramadan sebagai bentuk euforia saja. Namun dalam euforia tersebut ditopang dengan amal kebaikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitas amal baik sampai pada bulan-bulan berikutnya.

Jadi bulan Ramadan ini adalah bulan syahrul tarbiyah atau bisa dikatakan bulan pendidikan. Namun ruang lingkup pendidikan ini tidak terbatas pada pendidikan jasadiyah saja atau pendidikan badan dan anggota untuk menahan makan, haus dan hubungan seksual. Namun lebih dari itu bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk mendidik pola berpikir kita atau disebut dengan pendidikan fikriyah dan momentum untuk menyucikan hati dari kotoran-kotoran yang menempel yang disebut dengan pendidikan qolbiyah.

Pendidikan jasadiyah merupakan pendidikan yang mendasar dalam menempuh perjalanan puasa selama bulan Ramadan penuh. Ketika sebelum-sebelumnya jasad atau raga kita secara bebas untuk melakukan apapun, makan, minum, berhubungan intim dengan istri. Namun dalam kesempatan berpuasa ini hal tersebut dilarang, tidak boleh makan, minum, dan melakukan seksual dengan pasangannya. Tatkala tidak berpuasa, artinya dimalam hari bulan Ramadan itu boleh-boleh saja melakukan hal tersebut. Maka dibulan yang penuh berkah ini segala aktivitas yang berhubungan dengan jasad atau raga ada batas-batas tertentu yang harus kita perhatikan betul oleh seorang yang melakukan puasa.

Baca Juga :  Puasa dan Pembangunan Kepedulian Sosial

Terkadang kita lupa akan pentingnya pendidikan jasadiyah ini. Karena pendidikan jasadiyah ini terus dihantui oleh keinginan lebih atau nafsu yang menggebu-gebu untuk melakukan sesuatu, tak terkecuali urusan makan, minum dan hubungan seksual itu. Kesempatan-kesempatan itu kadang muncul tak terduga dalam diri kita. Dalam hal makanan, semua makanan yang halal saja dilarang apalagi yang haram. Dan yang tak kalah penting adalah ketika kita hendak berbuka puasa dan sahur, keinginan untuk melebihi batas normal dalam mengisi perut cenderung dibuat ajang balas dendam karena seharian sudah dalam keadaan kosong tidak makan. Padahal perbuatan semacam ini sangat riskan sekali terhadap tubuh kita, bisa membawa malapetaka dan penyakit. Sahur dan buka puasa sebenarnya ada keberkahan yang tak bisa kita tebak akan datangnya. Disamping itu sahur dan buka puasa seharus mampu menutrisi otak nafsu dan hati dalam upaya memperbaiki kualitas hidup.

Selanjutnya pendidikan fikriyah. Dalam pendidikan ini seseorang dituntut untuk berpikir, mengasah otak. Karena terus terang saja berdasarkan pengalaman dan bukti empirisnya ketika perut lagi kosong dan tidak kenyang maka otak kita cenderung bisa dan mampu melahirkan dan memunculkan pemikiran-pemikiran tajam dan mendalam. Berpikir positif tentu menjadi prioritas utama dalam bulan Ramadan. Bagaimana menempatkan diri kita ini sebagai hamba yang mampu menjalankan ibadah puasa yang baik di sisi Allah SWT dan diterima di sisiNYA.

Seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, Tafakkaru fi kholqillah wala tafakkaru fi dzatillah. Berpikirlah tentang ciptaan-ciptaan Allah SWT dan jangan berpikir tentang dzat-dzat Allah SWT. Berpikir akan ciptaan Allah SWT merupakan manifestasi dari dzikrullah. Mampu melahirkan imajinasi-imajinasi akan ciptaan Allah SWT yang mulia. Sedangkan berdzikir yang disertai dengan berpikir merupakan tingkat level atas dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di bulan Ramadan ini.

Baca Juga :  Trading Saham Menurut Tinjauan Hukum Islam

Kemudian pendidikan hati atau tarbiyah qolbiyah. Jelas dalam pendidikan ini seseorang dituntut untuk membersihkan hati dari segala macam kotoran yang bersemi di dalamnya. Bulan Ramadan bulan yang penuh ampunan dan pahala dilipat gandakan. Namun pada pendidikan ini jelas sangat menentukan akan hasilnya puasa selama satu bulan penuh. Pada hakikatnya pendidikan hati ini merupakan pangkal dari segala pendidikan di atas. Raga kita baik karena ada hati kita yang baik. Otak kita baik karena ada hati kita yang baik pula. Jadi dalam ketiga pendidikan ini jelas memiliki korelasi penting yang tidak bisa dipisahkan.

Pendidikan hati atau tarbiyah qolbiyah dibulan Ramadan ini dalam upaya membersihkan hati dari segala macam penyakit seperti ghibah, hasut, iri dan zolim menjadi hal sangat penting dalam meraih pahala puasa. Maka dari itu, kita harus pintar-pintar mengatur hati ini untuk tidak terjebak pada hal-hal yang tidak baik.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan ini, bulan Ramadan merupakan bulan paling efektif dan efisien untuk melakukannya. Puasa yang dilakukan dengan sabar dan ikhlas dalam berjuang dalam mematuhi perintah Allah SWT maka akan menjadi manusia yang mampu melahirkan amal kebaikan di bulan-bulan berikutnya dan pendidikan-pendidikan di atas jelas akan memberikan efek positif pula dibulan-bulan berikutnya.

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani puasa ini.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here