Bukti-Bukti Keesaan Allah Menurut Ar-Razi

0
101

BincangSyariah.Com – Ada bukti-bukti keesaan Allah Swt. dalam surat Al-An’am Ayat 1-83 menurut Fakhruddin Ar-Razi (Fakhr al-Din Ar-Razi) dalam Tafsir al-Kabir. Ia menjelaskan bahwa surat al-An’am mempunyai dua keutamaan atau kekhususan apabila dibandingkan dengan surat-surat lain dalam kitab suci al-Qur’an.

Pertama, surat al-An’am diturunkan sempurna sebelum hijrah dan termasuk surat Makkiyah terkecuali enam ayat yang Madaniyah.

Yang menyertai pada saat diturunkannya surat ini adalah bahwa ada tujuh puluh ribu malaikat yang menyertainya. Hal ini disebabkan karena kandungan dalam surat al-An’am yang menyangkut tentang dalil tauhid, keadilan, kenabian, kebangkitan, dan aliran-aliran sesat dan mulahhidin.

Kedua, Ar-Razi mengungkapkan bahwa turunnya surat al-An’am dengan cara satu kali ini menunjukkan betapa sangat tinggi kedudukannya dalam Ilmu Ushuluddin.

Karena itu pulalah pengetahuan tentang ilmu dasar agama atau ilmu tauhid segera menjadi kewajiban untuk diketahui oleh umat Islam dibandingkan dengan ilmu hukum yang penerapan dan pengaturannya oleh al-Qur’an dilakukan secara bertahap. Hal ini sangat disesuaikan dengan kondisi umat pada saat itu.

Ar-Razi menambahkan bahwa kandungan dalam surat al-An’am menampakkkan betapa Allah Swt. menunjukkan bahwa Allah Maha Esa. Sebab dalam surat ini, keesaan Allah Swt. menjadi ulasan yang paling utama. Qur’an Surat Al-An’am [6]: 1,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Al-ḥamdu lillāhillażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa ja’alaẓ-ẓulumāti wan-nụr, ṡummallażīna kafarụ birabbihim ya’dilụn

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Tentang awal surat yang dimulai dengan kata “al-Hamdu lillah”, menurut Ar-Razi, hal ini adalah pernyataan yang sangat jelas bahwa sesungguhnya yang menciptakan dan yang menentukan adanya alam ini adalah “Yang Maha Pencipta”. Allah Swt. yang mencipta segalanya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya.

Baca Juga :  Heboh Prank Sampah Ferdian Paleka, Bagaimana Hukum Prank dalam Islam?

Selain itu, tidak ada satu sebab pun yang mewajibkan Allah Swt. untuk mewujudkan diri-Nya dan tidak ada pula keraguan dan sangkalan akan faedah yang begitu besar dari apa yang diciptakan oleh-Nya bagi agama.

Dalam surat ini diuraikan pula bahwa karena kehendak dan keEsaan-Nya itulah mengapa pada awal surat ini bukan dimulai dengan kata “syukur” atau terima kasih, sebab Allah Swt. “mencipta” bukan untuk kebutuhanNya kepada apa yang Ia ciptakan.

Apabila seorang hamba ingin berterima kasih atau bersyukur kepadaNya atas sampainya nikmat ciptaan Allah Swt. kepada manusia, hal tersebut menunjukkan bahwa memang manusialah sesungguhnya yang butuh kepadaNya.

Kata “hamdalah” memang wajar diucapkan oleh seorang hamba untuk memberikan pujian kepada Allah Swt. Sebab, Dia-lah yang Maha Haq untuk dipuji, bukan karena Dia telah menyampaikan suatu nikmat kepada hambaNya. Tapi, kata “Hamdalah” semestinya lebih menjadi suatu perwujudan rasa keikhlasan yang sempurna.

Ar-Razi menambahkan, ada beberapa hal yang menyebabkan penggunaan kata “khalaqa” dalam ayat ini yang bermakna tentang penciptaan langit dan bumi yang merupakan suatu gambaran akan kemahakuasaan Allah Swt., dan kemahatahuan Allah Swt. dari segala yang ada. Allah Swt. mengetahui segalanya, termasuk yang dalam bentuk mujmal atau terperinci, sebab kata “khalaqa” menunjukkan suatu sifat ilmu.

Kata khalaqa bermakna gambaran kemahakuasaan Allah Swt. dan berarti tentang kemahatahuan-Nya dengan segala yang diketahui-Nya. Allah Swt. telah jauh mengetahui tentang langit dan bumi sebelum Ia menciptakannya.

Beberapa hal lain yang diungkap oleh Ar-Razi dalam ayat pertama Al-An’am ini, adalah kata as-Samaa’ dan al-Ardh, dengan mengkaji kenapa kata as-Samaa’ didahulukan dari kata al-Ardh, dan menurutnya, bahwa kata “as-Samaa’ laksana suatu lingkaran, sementara al-Ardh laksana markas, berhasilnya suatu putaran mewajibkan adanya suatu markaz, dan bukan sebaliknya.

Baca Juga :  Peran Perempuan dalam Pemberantasan Korupsi

Di sisi lain, Ar-Razi juga mengungkapkan bahwa ayat pertama dalam surat al-An’am ini adalah suatu isyarat yang menunjukkan adanya pencipta alam. Kenyataan adanya wujud langit dan bumi yang telah ditetapkan dalam suatu hal tertentu dengan sesuatu yang tertentu pula menimbulkan pernyataan bahwa tidak mungkin sukses jikalau tidak ada “aktor” yang Maha Khusus pula.

Sedangkan apa yang terjadi di alam raya ini, baik pada diri manusia ataupun pada yang lainnya, baik yang disembunyikan dan yang ditampakkan, sesungguhnya Tuhan Maha Tahu dan Maha Berkuasa atas segalanya.

Hal ini pulalah yang menjadi prinsip-prinsip tauhid, di mana segalanya hanyalah milik Allah Swt. dan segalanya berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya, segalanya di bawah pengetahuan-Nya, sehingga tiada satupun yang alpa dari-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here