Bom Bunuh Diri Terjadi di Polrestabes Medan, Ini Penjelasan Hukum Bom Bunuh Diri

0
1797

BincangSyariah.Com – Bom bunuh diri kembali terjadi sekitar jam 08.45 yang lalu di Polrestabes Medan. Kejadian bom yang diduga bom bunuh diri ini meledak disekitar tempat pengurusan SKCK dan kantin yang sedang cukup ramai. Mengutip berbagai sumber seperti disebut CNN Indonesia, disebutkan bahwa pelaku yang diduga melakukan bom bunuh diri mengendarai sepeda motor dan menggunakan jaket ojek online. Berapa korban sampai saat ini belum diketahui pasti.

Jika ditanya, apa dalilnya kita dilarang melakukan bunuh diri, adalah ayat Quran surah al-Baqarah [2]: 195,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik

Syaikh Muhammad Thahir al-Qadri, salah seorang ulama asal Pakistan dalam bukunya Fatwa on Terrosism and Suicide Bombings (Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri). Ia mengatakan ayat ini menjadi dalil dilarangnya seseorang untuk membunuh dirinya sendiri, termasuk dengan bom. Penafsiran demikian juga disampaikan oleh al-Razi dan al-Baghawi.

Bahkan kalaupun masih ada yang berpikir kalau meledakkan bom tersebut adalah jihad, ia pun tetap dikategorikan sebagai ahli neraka karena dalam proses jihad, ia telah melakukan sesuatu yang berlebihan. Apalagi, seseorang melakukannya bukan di medan perang. Dalam sebuah hadis yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari, dikisahkan seseorang yang berperang sangat semangat dalam sebuah jihad, tapi Rasulullah Saw. mengatakan “dia adalah penghuni neraka.”

التَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُشْرِكُونَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَاقْتَتَلُوا، فَمَالَ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي المُسْلِمِينَ رَجُلٌ لاَ يَدَعُ مِنَ المُشْرِكِينَ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا فَضَرَبَهَا بِسَيْفِهِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَجْزَأَ أَحَدٌ مَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ، فَقَالَ: «إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»، فَقَالُوا: أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: لَأَتَّبِعَنَّهُ، فَإِذَا أَسْرَعَ وَأَبْطَأَ كُنْتُ مَعَهُ، حَتَّى جُرِحَ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ، فَوَضَعَ نِصَابَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ، وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَجَاءَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ». فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»

Baca Juga :  Hukum Menunda Ibadah Haji Padahal Sudah Mampu

“Nabi Saw. dan orang-orang bermusyrik pernah bertemu di beberapa peperangan, lalu mereka pun berperang. Setiap orang loyal kepada kelompoknya (muslim bersama muslimin dan musyrik bersama musyrikin). Di kelompok muslimin, ada seorang (prajurit) yang tidak meninggalkan orang musyrik satupun yang tua maupun yang muda kecuali ia mengejar dan menebasnya dengan pedang. Lalu orang berkata tentangnya: ‘Ya Rasul, orang itu sempurna sekali (dalam berjihad)’. Rasulullah Saw. berkata: ‘Dia itu termasuk golongan penghuni neraka’.

Para sahabat waktu itu tercengang dengan jawaban Nabi dan berkata, ‘siapa yang dari kita kalau begitu yang menjadi penghuni surga, kalau orang seperti tadi saja masuk golongan neraka ?!’. Lalu, ada seorang dari sahabat yang berinisiatif, ‘saya akan coba buntuti dia !’

Lalu dia bersegera mengikutinya, mengendap-ngendap dan berada di dekatnya. Ia lalu terluka, dan mencoba mempercepat kematiannya. Ia meletakkan pangkal pedang di tanah dan mata pedang di hadapkan ke dadanya. Ia tidak kuat lagi lalu membunuh dirinya sendiri. Orang yang mengamati prajurit tadi kembali menemui Nabi Saw. lalu berkata: ‘Aku bersaksi kalau engkau adalah Rasulullah Saw.’ Nabi Saw.: ‘mengapa kau berkata demikian !’

Orang itu lalu menceritakan yang dia lihat. Nabi Saw. kemudian berkata: ‘sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga’.”

Pelaku peledakan bom lebih dari pada itu. Ia merasa sedang berperang, padahal kondisi negara saat ini sedang damai. Mereka berulang kali mengatakan kalau siapa yang pendukung mereka adalah orang yang tidak beriman (baca: kafir).

Baca Juga :  Menegaskan Bahwa Rahmat adalah Prinsip Beragama (1)

Sebagian mereka yang masih merasa apa yang dilakukan mereka benar, berpandangan kalau kondisi sekarang tidak memungkinkan lagi kita melakukan perang terbuka antar negara atau antar kelompok, karena gerakan itu akan mudah dihentikan keamanan negara. Maka, satu-satunya cara adalah dengan melakukan peledakan-peledakan perseorangan seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here