Bom Bunuh Diri bukan Jihad

0
600

BincangSyariah.Com – Indonesia kembali digoncangkan dengan peristiwa yang memalukan dan pilu. Beberapa orang masuk ke dalam tiga gereja yang berbeda lalu meledakkan diri di sana. Peristiwa yang terjadi minggu lalu di Surabaya, saat saudara-saudara kita yang Kristen sedang melaksanakan ibadah minggunya.

Dari berita yang paling mutakhir, korban mencapai 13 orang dengan 43 orang luka-luka. Polisi menemukan bahwa pelaku peledakan bom di gereja kemarin adalah satu keluarga (suami istri dan empat orang anak). Suami dari keluarga tersebut, disinyalir merupakan ketua JAD (Jamaah Ansharud Daulah) Surabaya yang baru saja pulang dari wilayah ISIS di Suriah

Sekali lagi, pelaku pengeboman bunuh diri -bahkan sampai melibatkan anak-anak- menggunakan simbol yang potensial diidentikkan dengan budaya ke-Islaman (istrinya menggunakan cadar saat beraksi) saat beraksi. Tindakan terorisme ini berulang kali mereka klaim sebagai sebuah jihad. Mereka mengklaim bahwa tindakan ini disebut sebagai praktik mensyahidkan diri (al-‘amaliyyah al-istisyhaadiyyah) ke wilayah musuh. Pandangan ini diperparah ketika para pendukung ISIS tersebut, menerima fatwa dari pemimpin mereka, Abu Bakar al-Baghdadi yang menyatakan bahwa setiap pendukung ISIS bisa melakukan bom bunuh diri di mana saja, tanpa harus berangkat ke Suriah.

Ekses pandangan keagamaan yang menyesatkan ini segera kita rasakan dampaknya. Padahal, sekali lagi Indonesia adalah negara damai. Islam, sebagai agama mayoritas di negara berpenduduk mencapai 250 juta orang ini, diberikan ruang yang sangat luas. Islam terwujud dalam bentuk struktural seperti peraturan perundangan sampai acara seremonial negara, maupun kultural dimana masyarakat dapat mengeskpresikan ke-Islamannya dengan baik, meski kita tidak menjadkan Islam sebagai ideologi resmi negara.

jIka ditanya, apa dalilnya kita dilarang melakukan bunuh diri, adalah ayat Quran surah Albaqarah: 195,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)

Baca Juga :  Membincang Hadis Wajib Jihad

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Syaikh Muhammad Thahir al-Qadri, salah seorang ulama asal Pakistan dalam bukunya Fatwa on Terrosism and Suicide Bombings (Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri). Ia mengatakan ayat ini menjadi dalil dilarangnya seseorang untuk membunuh dirinya sendiri, termasuk dengan bom. Penafsiran demikian juga disampaikan oleh al-Razi dan al-Baghawi.

Bahkan kalaupun masih ada yang berpikir kalau meledakkan bom tersebut adalah jihad, ia pun tetap dikategorikan sebagai ahli neraka karena dalam proses jihad, ia telah melakukan sesuatu yang berlebihan. Apalagi, seseorang melakukannya bukan di medan perang. Dalam sebuah hadis yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari, dikisahkan seseorang yang berperang sangat semangat dalam sebuah jihad, tapi Rasulullah Saw. mengatakan “dia adalah penghuni neraka.”

التَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُشْرِكُونَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَاقْتَتَلُوا، فَمَالَ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي المُسْلِمِينَ رَجُلٌ لاَ يَدَعُ مِنَ المُشْرِكِينَ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا فَضَرَبَهَا بِسَيْفِهِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَجْزَأَ أَحَدٌ مَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ، فَقَالَ: «إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»، فَقَالُوا: أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: لَأَتَّبِعَنَّهُ، فَإِذَا أَسْرَعَ وَأَبْطَأَ كُنْتُ مَعَهُ، حَتَّى جُرِحَ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ، فَوَضَعَ نِصَابَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ، وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَجَاءَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ». فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»

Baca Juga :  Rukyah Hilal Idul Fitri

“Nabi Saw. dan orang-orang bermusyrik pernah bertemu di beberapa peperangan, lalu mereka pun berperang. Setiap orang loyal kepada kelompoknya (muslim bersama muslimin dan musyrik bersama musyrikin). Di kelompok muslimin, ada seorang (prajurit) yang tidak meninggalkan orang musyrik satupun yang tua maupun yang muda kecuali ia mengejar dan menebasnya dengan pedang. Lalu orang berkata tentangnya: ‘Ya Rasul, orang itu sempurna sekali (dalam berjihad)’. Rasulullah Saw. berkata: ‘Dia itu termasuk golongan penghuni neraka’.

Para sahabat waktu itu tercengang dengan jawaban Nabi dan berkata, ‘siapa yang dari kita kalau begitu yang menjadi penghuni surga, kalau orang seperti tadi saja masuk golongan neraka ?!’. Lalu, ada seorang dari sahabat yang berinisiatif, ‘saya akan coba buntuti dia !’

Lalu dia bersegera mengikutinya, mengendap-ngendap dan berada di dekatnya. Ia lalu terluka, dan mencoba mempercepat kematiannya. Ia meletakkan pangkal pedang di tanah dan mata pedang di hadapkan ke dadanya. Ia tidak kuat lagi lalu membunuh dirinya sendiri. Orang yang mengamati prajurit tadi kembali menemui Nabi Saw. lalu berkata: ‘Aku bersaksi kalau engkau adalah Rasulullah Saw.’ Nabi Saw.: ‘mengapa kau berkata demikian !’

Orang itu lalu menceritakan yang dia lihat. Nabi Saw. kemudian berkata: ‘sungguh, seseorang (kadang) beramal dengan amalan penghuni surga di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni neraka. (Sebaliknya), Seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka di mata manusia, padahal sesungguhnya ia adalah penghuni surga’.”

Pelaku peledakan bom lebih dari pada itu. Ia merasa sedang berperang, padahal kondisi negara saat ini sedang damai. Mereka berulang kali mengatakan kalau siapa yang pendukung mereka adalah orang yang tidak beriman (baca: kafir).

Baca Juga :  Apakah Mengeluarkan "Madzi" Membatalkan Puasa?

Sebagian mereka yang masih merasa apa yang dilakukan mereka benar, berpandangan kalau kondisi sekarang tidak memungkinkan lagi kita melakukan perang terbuka antar negara atau antar kelompok, karena gerakan itu akan mudah dihentikan keamanan negara. Maka, satu-satunya cara adalah dengan melakukan peledakan-peledakan perseorangan seperti ini.

Percayalah, jika anda masih berpikir demikian dalam beragama, berarti anda sedang tidak mensyukuri pencapaian panjang ke-Islaman yang telah ada di Indonesia saat ini. Bahkan Nabi Saw. dalam riwayat lain, menolak menyolatkan jenazah orang yang menghabisi nyawanya sendiri. Apalagi, seorang pelaku teror tidak hanya membunuh dirinya, tapi membunuh orang lain. Jika alasannya adalah beda agama, Nabi Saw. pernah bersabda kalau orang yang membunuh non-muslim yang berdamai dengan muslim (seperti di Indonesia ini), ia tidak akan mencium bau surga. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra., dan disebutkan dalam Sunan Ibn Majah,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فلا يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَتوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا

Siapa yang membunuh kafir mu’ahad (yang ada perjanjian) yang memiliki jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, ia tidak akan mencium bau surga. Dan sesungguhnya baunya dapat dicium dari jarak tujuh puluh tahun.”

Anda saya sarankan untuk membaca khazanah Islam yang masih sangat luas. Bahkan, banyak ulama yang menyampaikan kalau Indonesia ini sudah bisa disebut negara Islam. Apakah anda lebih menuruti hawa nafsu anda, atau pandangan perseorangan saja tentang Islam dibandingkan pendapat sekian ulama lain yang menyalahkan pendapat hawa nafsu anda. Wallahu A’lam. Semoga tidak ada lagi aksi teror atas nama Jihad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here