Bolehkah Tunanetra Menjadi Imam Shalat Berjemaah?

0
1349

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, apakah disyaratkan untuk menjadi imam shalat berjemaah harus sempurna secara fisik? Bagaimana hukum tunanetra menjadi imam shalat berjemaah?

Dalam Islam, untuk menjadi imam shalat berjemaah tidak disyaratkan harus lengkap dan sempurna secara fisik. Siapa pun yang layak menjadi imam shalat berjemaah, baik karena alim dalam hukum fiqih, bacaan al-Qurannya bagus, dan lainnya, meskipun secara fisik dia tidak sempurna, maka dia boleh untuk menjadi imam shalat berjemaah.

Termasuk orang yang boleh menjadi imam shalat berjemaah adalah orang buta atau tuna netra. Bagi tuna netra tidak ada larangan untuk menjadi imam shalat berjemaah selama dia layak untuk menjadi imam. Bahkan Nabi Saw pernah mengangkat Ibnu Ummi Maktum yang buta untuk menjadi imam shalat berjemaah di Madinah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bazzar dari Ibnu Abbas, dia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ على المدينة يصلي بالناس

“Sesungguhnya Nabi Saw mengangkat Ibnu Ummi Maktum untuk kota Madinan dan mengimami orang shalat.”

Juga disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Anas bin Malik, dia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ يَؤُمُّ النَّاسَ وَهُوَ أَعْمَى

“Sesungguhnya Nabi Saw mengangkat Ibnu Ummi Maktum untuk menjadi imam bagi masyarakat padahal beliau buta.”

Selain Ibnu Ummi Maktum, ada sahabat Nabi Saw yang bernama ‘Itban bin Malik. Beliau menjadi imam shalat berjemaah bagi masyarakatnya padahal dia buta. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Mahmud bin al-Rabi’ al-Anshari, dia berkisah;

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ وَهْوَ أَعْمَى، وَأَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا تَكُونُ الظُّلْمَةُ وَالسَّيْلُ، وَأَنَا رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ، فَصَلِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي بَيْتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلًّى. فَجَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ؟ فَأَشَارَ إِلَى مَكَانٍ مِنَ الْبَيْتِ، فَصَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Baca Juga :  Benarkah Imam Shalat Harus Tuan Rumah?

“Sesungguhnya ‘Iban bin Malik mengimami kaumnya padahal dia buta. Dia berkata kepada Rasulullah Saw, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya terjadi kegelapan dan banjir padahal saya seorang yang buta. Maka shalatlah wahai Rasulullah di rumahku di suatu tempat yang akan aku jadikan sebagai tempat shalatku.’ Rasulullah Saw datang dan bertanya, ‘Kamu menginginkan saya shalat di mana?’ ‘Itban memberi isyarat ke suatu tempat di rumahnya. Kemudian Rasulullah shalat di sana.’”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here