Bolehkah Tidak Berpuasa Bagi Penderita Covid-19?

3
15

BincangSyariah.Com– Menurut hukum Islam, bolehkah tidak berpuasa bagi penderita Covid-19? Nah berikut penjelasan hukum Islam terkait masalah tersebut.

Tak terasa, bulan Ramadhan akan segera datang. Bila tak ada aral melintang, pada Selasa (13/4) mendatang umat Islam Indonesia akan memulai puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam.

Puasa Ramadhan kali ini, tampaknya tak berbeda jauh dengan puasa 2020 tahun lalu. Indonesia masih dilanda Covid-19. Jumlah korban positif terjangkit virus Corona kian bertambah. Berangkat dari fenomena ini, muncul persoalan fiqih Islam, bolehkah tidak berpuasa bagi penderita Covid-19 dalam hukum Islam?

Menurut Syekh Dr. Syauqi Ibrahim Alam dari Lembaga Fatwa Mesir, bagi penderita Covid-19 boleh hukumnya tidak berpuasa. Ada pun keringan hukum berupa kebolehan tidak berpuasa bagi penderita Covid-19, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman;

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

artinya: Barang siapa yang sakit atau dalam keadaan perjalanan (musafir), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Dan juga firman Allah dalam Al-Qur’an Q.S Al-Baqarah ayat 184;

فَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

artinya: Barang siapa yang dalam keadaan sakit, atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.

Menurut Syekh Sauqi Alam ada dua manfaat terkait bolehnya tidak berpuasa bagi penderita Covid-19. Pertama, manfaat khusus, yaitu bagi si pasien penderita Covid-19 akan memudahkannya dalam pengobatan dokter, dan juga akan besar harapan untuk sembuh.  Manfaat kedua, itu merupakan usaha untuk memutus mata-rantai penyebaran wabah Covid-19. Dan merupakan ikhtiyar untuk memperkecil indeks penularan Covid-19.

Syekh Syauqi Alam berkata;

مَن أصابتهم عدوى وباء كورونا بالفعل فهم أولى الناس برخصة الإفطار للمرض

artinya: Orang yang terjankit infeksi wabah Covid-19 , maka mereka tergolong manusia yang diprioritaskan dengan keringanan berbuka puasa, karena mereka masuk kategori orang yang sakit.

Di sisi lain, Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni, Jilid 4, mengatakan orang yang terkena penyakit yang berat, kemudian ia berpuasa, maka perbuatannya tersebut hukumnya makruh. Pasalnya, ia membuat dirinya tertimpa dalam kemudharatan (kesulitan). Padahal Allah memberikan keringanan berupa bolehnya tak berpuasa bagi orang yang sakit.

Ibn Qudamah al-Mughni, Jilid 4,halaman 404 berkata;

فإن تحمل المريض وصام مع هذا ، فقد فعل مكروهاً ، لما يتضمنه من الإضرار بنفسه ، وتركه تخفيف الله تعالى ، وقبول رخصته

artinya; maka barangsiapa yang terkena penyakit, dan ia pun berpuasa dalam keadaan akit tersebut, maka sesungguhnya ia telah memperbuat sesuatu yang makhruh, karena telah menjatuhkan dirinya dalam kemudharatan, dan ia meninggalkan kemudahan yang diberikan oleh Allah.  Hendaknya ia memilih kemudahan tersebut (tidak berpuasa karena sakit).

Pun pendapat ini berlaku bagi pasien Covid-19, bila khawatir akan berdampak buruk penyakitnya ketika berpuasa, maka ia boleh tidak puasa. Ini berupa keringan hukum baginya. Dan juga akan mempermudah dokter dan tenaga medis dalam bekerja untuk mengobatinya.

Demikian penjelasan fiqih Islam terkait, bolehkah tidak berpuasa bagi penderita Covid-19? Semoga bermanfaat bagi kita semua.

(Baca: Bolehkah Pasien Penderita Covid-19 Tidak Shalat?)

100%

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here