Bolehkah Tenaga Medis Covid-19 Membatalkan Puasa Ramadhan?

1
10

BincangSyariah.com- Hingga kini pandemi Covid-19 tak juga usai di Indonesia. Jumlah penderita Covid-19 sekitar 1.510.000 orang. Di sisi lain bulan Ramadhan tinggal hitungan hari. Umat Islam akan diwajibkan untuk berpuasa. Nah, menurut hukum Islam, bolehkah Tenaga Medis Covid-19 Membatalkan Puasa Ramadhan?

Menurut Dar Ifta Mesir, pasien yang terinfeksi Covid-19, tenaga medis (perawat dan dokter) bagi mereka ada keringan hukum. Tenaga medis boleh hukumnya berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Keringan hukum ini untuk memudahkan mereka yang bekerja dan menguatkan mereka dalam bekerja menangani Covid-19.

Pada sisi lain, Lembaga Fatwa Mesir mengatakan wajib hukumnya tenaga medis Covid-19 berbuka puasa. Keadaan wajib itu, apabila pasien Covid-19 terus bertambah, dan mereka membutuhkan perawatan, pengobatan dan penyelamatan jiwa pasien tersebut, dan itu tak bisa dilakukan oleh tenaga medis Covid-19 tanpa berbuka puasa, maka ketika itu mereka wajib berbuka. Pasalnya, berbuka puasa ketika itu untuk menyelamatkan jiwa manusia.

Dar Ifta Mesir berkata;

وإن احتيج إلى الإفطار لكفاءة العمل والاستمرار على الكشف والعلاج والرعاية المتواصلة للمرضى، وتعين على الطبيب ذلك -بعدم وجود من يحلّ محلّه- وجب الإفطار رعايةً لحق المرضى، واستنقاذًا لهم من الهلكة

Artinya: Dan jika tujuan berbuka itu , untuk memaksimalkan pekerjaan mereka, dan ntuk melanjutkan pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan berkelanjutan bagi yang sakit, dan itu tugas dokter karena –tak ada orang yang menggantikanny—,  maka wajib baginya berbuka puasa, untuk menjaga hak passien sakit, menghindakannya dari kebinasaan.

Menurut Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi as-Syafi’i, dalam kita Hasiyah I’anatuth Tholibin, Jilid II, boleh hukumnya seseorang berbuka puasa jika ia khawatir  bila ia terus berpuasa, maka akan membuat dirinya celaka.

Dalam Hasiyah I’anatuth Tholibin, Jilid II, halaman 267 termaktub;

ويباح الفطر لخوف هلاك بالصوم أي على نفسه أو عضوه أو منفعته

Artinya: dan dibolehkan berbuka puasa, karena khawatir celaka atau binasa dirinya, atau anggota tubuhnya, atau maanfaat dirinya, ketika terus berpuasa.

Dan Adapun terkait konsekuensi hukum sebab berbuka puasa Ramadhan tenaga medis Covid-19,  maka mereka wajib mengqadha puasa tersebut di lain waktu. Perawat dan dokter Covid-19, wajib mengganti puasa tersebut, sebanyak yang ia batalkan.

Syekh Syatho ad-Dimyathi berkata;

ويجب قضاء) ما فات ولو بعذر من الصوم الواجب)

Artinya: Wajib Qadha (ganti) puasa Ramadhan, bagi orang yang membatalkan puasa (baca; tak berpuasa) meskipun karena ada uzur (kesulitan) pada saat

(Baca: Bolehkah Tidak Berpuasa Bagi Penderita Covid-19?)

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here