Bolehkah Salat Idulfitri pada Tanggal Dua Syawal?

0
1348

BincangSyariah.Com – Menjelang Idulfitri, sebagian penduduk Indonesia mudik atau pulang ke kampung halamannya. Mudik identik dengan tradisi tahunan bagi umat Muslim. Terkadang saat hari raya Idulfitri sebagian umat Muslim ada yang masih dalam perjalanan mudik sehingga berhalangan salat Idulfitri. Pertanyaannya bolehkah melaksanakan salat Idulfitri pada hari kedua Syawal?

Imam Nawawi mengatakan ada beberapa keadaan di mana seorang Muslim dibolehkan melaksanakan salat Idulfitri di hari kedua Syawal.

Pertama, jika seorang muslim tertinggal melakukan salat Idulfitri karena lupa, atau karena terhalang situasi yang tidak memungkinkannya melaksanakan salat Idulfitri pada 1 Syawal sekalipun halangan tersebut telah hilang setelah matahari terbenam, sedangkan dia tidak dalam kondisi yang memudahkannya untuk salat. Seperti kondisi saat kita masih dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.

Kedua, jika hilal Idulfitri baru terlihat saat matahari tenggelam berdasarkan kesaksian dua atau tiga orang yang adil dan jujur namun untuk melaksanakan salat sulit baginya pada saat itu karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah berikut ini

عن أبي عمير بن أنس عن عمومة له من الأنصار قالوا: أغمي علينا هلال شوال فأصبحنا صياماً، فجاء ركب من آخر النهار فشهدوا عند النبي صلى الله عليه وسلم أنهم رأوا الهلال بالأمس، فأمرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفطروا، وأن يخرجوا إلى عيدهم من الغد.

Diriwayatkan dari Abu ‘Umair bin Anas dari paman-pamannya yang juga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa suatu rombongan datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka (masyarakat) untuk berbuka puasa, dan keesokan harinya, mereka berpagi-pagi menuju ke tempat salat (untuk melaksanakan salat hari raya.”

Baca Juga :  10 Dampak Negatif Alkohol dalam Pandangan Islam

Imam Ibnu Qudamah menjelaskan tata-cara meng-qadla salat Idulfitri ada dua macam, pertama orang yang meninggalkan salat Idulfitri menggantinya dengan salat empat rakaat menurut golongan yang menakwilkan salat Id sama dengan salat Jumat karena pada kedua salat tersebut memiliki khutbah.

Pendapat tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud

من فاته العيد فليصل أربعاً

Barang siapa yang meninggalkan salat Id maka hendaklah salat empat rakaat

Syaikh Albani menghukumi hadis di atas sebagai hadis maqtu atau terputus sanadnya sehingga tidak tepat dijadikan sandaran hukum.

Pendapat kedua yang mengatakan cukup menggantinya sebagaimana salat Idulfitri yaitu dua rakaat dengan ditambah takbir setelah membaca doa Iftitah dan sebelum Al Fatihah, yaitu tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua. Pendapat ini yang dipegang mayoritas ulama, sebab menganalogikan salat Id dengan salat Jumat kurang tepat karena mengganti empat rakaat bagi orang yang meninggalkan salat Jumat maksudnya adalah salat zuhur.

Bagi yang salat Id sendiri tidak ada khutbah setelah salat, sebab khutbah disyariatkan bagi yang salat Id berjamaah.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here