Bolehkah Sa’i Menggunakan Sepatu Roda Listrik?

0
364

BincangSyariah.Com – Dalam kondisi normal, umumnya para jemaah haji melakukan ibadah sa’i dengan berjalan kaki, tanpa menaiki kendaraan atau alat bantu lainnya. Hanya jemaah haji yang berhalangan saja yang banyak dijumpai melakukan ibadah sa’i dengan menggunakan kursi roda. Namun bagaimana jika ada jemaah haji yang melakukan ibadah sa’i dengan menggunakan sepatu roda lisrik padahal dia mampu berjalan dan tidak ada uzur, apakah boleh?

Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai kebolehan melakukan sa’i dengan menggunakan kendaraan atau alat bantu lainnya seperti sepatu roda listrik bagi jemaah haji yang mampu melakukannya dengan berjalan kaki. Setidaknya, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, ulama Syafiiyah berpendapat bahwa boleh melakukan sa’i dengan menggunakan kendaraan, sepatu roda listrik, atau lainnya. Kebolehan bersifat mutlak, artinya berlaku bagi jemaah haji yang sedang ada uzur atau tidak. Hanya saja jika tidak ada uzur, sebaiknya melakukan sa’i dengan berjalan kaki.

Kedua, boleh tapi makruh melakukan ibadah sa’i dengan menggunakan kendaraan, sepatu roda listrik, atau alat bantu lainnya. Ini adalah pendapat Sayidah Aisyah, ‘Urwah, Imam Ahmad dan Imam Ishaq.

Ketiga, menurut Imam Abu Tsaur, tidak boleh melakukan sa’i dengan kendaraan, sepatu roda listrik, atau alat bantu lainnya. Jika mampu berjalan kaki namun menggunakan sepatu roda listrik, maka ibadah sa’inya wajib diulangi.

Penjelasan ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

ذكرنا أن مذهبنا أنه لو سعى راكباً جاز، ولا يقال مكروه، لكنه خلاف الأولى ولا دم عليه، وبه قال أنس بن مالك وعطاء ومجاهد قال ابن المنذر وكره الركوب عائشة وعروة وأحمد وإسحاق، وقال أبو ثور لا يجزئه ويلزمه الإعادة

Baca Juga :  Ini Dalil Larangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Kami telah menyebutkan bahwa mazhab kami berpendapat bahwa jika seseorang melakukan ibadah sa’i dengan menggunakan kendaraan, maka hukumnya boleh, dan tidak boleh dikatakan makruh. Ia hanya menyalahi perbuatan yang lebih utama saja dan tidak ada denda (dam) baginya. Ini yang dikatakan oleh Anas bin Malik, Atha’, Mujahid. Ibnu Al-Mundzir berkata, ‘Aisyah, Urwah, Ahmad, dan Ishaq tidak senang pada sa’i yang dilakukan dengan menggunakan kendaraan. Abu Tsaur berkata, ‘Sa’i dengan menggunakan kendaraan tidak mencukupi bagi orang yang melakukannya dan ia wajib mengulangi ibada sa’i tersebut.

Selanjutnya menurut Imam Nawawi, pendapat yang membolehkan melakukan sa’i dengan kendaraan berdasarkan hadis shahih bahwa Nabi Saw melakukan sa’i dengan berkendara. Beliau berkata dalam kitab Al-Majmu;

دليلنا الحديث الصحيح السابق أن النبى صلى الله عليه وسلم ” سعى راكباً “

Dalil kami adalah hadis shahih di depan, bahwa Nabi Saw melakukan sa’i dengan berkendara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here