Bolehkah Sahur Sebelum Jam Dua Belas Malam?

0
792

BincangSyariah.Com – Dalam pelaksanaan ibadah puasa, banyak kesunahan yang berhubungan dengannya, di antaranya adalah sahur. Kesunahan sahur didasarkan pada hadis Rasulullah Saw:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ وَبِالْقَيْلُولَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. bersabda, “Tolonglah dirimu dengan makan sahur untuk puasa di siang hari, dan dengan tidur siang untuk ibadah malam hari” (HR. Ibnu Majah)

Juga didasarkan pada sabda Rasulullah:

عَنْ أَنَسٍ -رضى الله عنه- قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السُّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sahurlah! Sesungguhnya di dalam sahur terdapat keberkahan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keberkahan yang didapatkan dari sahur banyak sekali, diantaranya: mengikuti sunah Rasulullah, mendapatkan pahala akhirat, dan bisa menguatkan fisik sehingga puasa yang dilakukan esok harinya tidak terlalu berat.

Keberkahan lainnya adalah, menjelang sahur, terlebih dahulu kita bangun malam, yaitu pada waktu yang mulia dan baik untuk memanjatkan doa. Sehingga selain melakukan sahur, kita juga bisa melakukan berbagai macam ibadah sambil menunggu masuknya waktu salat subuh.

Makanan yang sunah dikonsumsi ketika sahur adalah kurma, sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Ni’ma sahuurul mu’min at-tamru” (sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah dengan kurma). Namun jika tidak ada, maka kesunahan sahur bisa tetap didapat walau hanya dengan minum seteguk air, karena ada hadis, “Tasahharu walau biju’ati maa’in” (sahurlah walau hanya dengan seteguk air).

Waktu melakukan sahur mulai masuk saat pertengahan malam, dan berakhir sampai terbit fajar shadiq. Ada juga yang mengatakan, waktu sahur mulai masuk setelah seper enam malam sampai terbit fajar shadiq. Dari penjelasan ini, Sayyid Bakri dalam I’anatuth Thalibin menyimpulkan:

Baca Juga :  Doa Nabi untuk Umatnya yang Makan Sahur

وَالْحَاصِلُ أَنَّ السَّحُوْرَ يَدْخُلُ وَقْتُهُ بِنِصْفِ اللَّيْلِ، فَالْاَكْلُ قَبْلَهُ لَيْسَ بِسَحُوْرٍ، فَلَا يَحْصُلُ بِهِ السُّنَّةُ

Kesimpulannya: Waktu sahur masuk sejak pertengahan malam, makan yang dilakukan sebelum itu tidak disebut dengan sahur, dan dengan makan tersebut kesunahan sahur belum didapatkan”.

Sunah juga mengakhirkan sahur selama tidak sampai pada waktu syak (ragu-ragu apakah fajar shadiq telah terbit atau belum.

Lebih baik kita berhenti sahur (imsak) sejak sebelum fajar, dengan jarak waktu yang kira-kira cukup digunakan membaca lima puluh ayat. Dalam Sahih Muslim disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.

Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit r.a berkata: kami melakukan sahur bersama Rasulullah Saw, kemudian kami melakukan salat. Aku bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Zaid menjawab, “Kira-kira (cukup untuk membaca) lima puluh ayat”.

Sedangkan sahur yang dilakukan pada waktu syak, menurut Syafi’iyah, Hanabilah dan Muhammad bin Hasan hukumnya tidak makruh. Ahmad dalam riwayat Abu Dawud mengatakan, “Ketika terbitnya fajar masih diragukan, maka diperbolehkan makan, sampai yakin fajar tersebut telah terbit, karena hukum asalnya adalah baqa’ al-lail (waktu malamnya masih belum habis).

Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan sebagian Malikiyah, makan dan minum yang dilakukan pada waktu syak hukumnya adalah makruh. Sahur pada waktu tersebut bagaikan menggembala di sekitar tanah larangan, maka dihawatirkan hewan gembalaan masuk ke dalam tanah terlarang.

Dan menurut mayoritas Malikiyah, orang yang sahur pada waktu syak harus mengqadha puasanya, jika puasa yang dilakukan adalah puasa wajib. Sahur pada waktu syak hukumnya adalah haram, kecuali setelah itu tampak nyata bahwa sahur tersebut berada dalam waktu sebelum fajar.

Baca Juga :  Tidak akan Mati Hati Seseorang yang Menghidupkan Malam Ied, Hadis atau Bukan?

Kesimpulannya, sahur yang dilakukan sebelum pertengahan malam atau kira-kira jam dua belas malam tidak dianggap sebagai sahur dan belum mendapatkan pahala sunah. Disunahkan mengakhirkan sahur selama tidak sampai pada waktu syak, dan berhenti dari makan-minum kira-kira sepuluh menit sebelum fajar. Karena dengan demikian kita telah meninggalkan sesuatu yang meragukan beralih pada sesuatu yang tidak meragukan. []

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here