Bolehkah Menolak Jenazah Teroris?

0
10

BincangSyariah.Com – Terorisme merupakan serangan-serangan terencana yang bertujuan untuk menciptakan teror bagi sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang yang memiliki tata aturan tertentu, terorisme dilakukan secara acak dan seringkali yang menjadi korban adalah warga sipil. Di Indonesia, belakangan ini yang marak terjadi ialah teror atas nama agama yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa bahwa negeri kita merupakan negeri thaghut (lalim) sehingga wajib untuk diperangi meskipun dengan cara bunuh diri. Terkadang masyarakat setempat menolak jenazah teroris di kampungnya.

Kenyataannya, tindakan teror tersebut tidak malah membuat rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama muslim menjadi simpati dengan tindakan mereka. Seluruh anak bangsa kecuali yang telah teracuni oleh idelogi terorisme rata-rata menutuk aksi teror yang dilakukan oleh mereka. Saking bencinya mereka terhadap aksi terorisme ini, bahkan kemudian ada yang menolak jenazah teroris. Mereka tidak mau mengurusi jenazahnya, dan tidak mau jenazah tersebut dikuburkan di wilayah mereka. Secara hukum Islam, apakah tindakan saudara-saudara kita yang menolak jenazah teroris tersebut bisa dibenarkan secara hukum Islam?

Dalam melihat persoalan ini, kita mesti memahami bahwa tajhiz atau mengurus jenazah merupakan sebuah kewajiban fardlu kifayah. Artinya, jika tak ada seorangpun yang mau mengurusi jenazah tersebut, maka satu komunitas akan menjadi berdosa semuanya. Tajhiz tersebut meliputi memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan. Seluruh madzhab fikih sepakat dengan kewajiban ini apabila jenazahnya ialah jenazah orang yang muslim.

Lantas bagaimana jika jenazahnya ialah seorang muslim yang melakukan dosa besar seperti membunuh orang lain dan membunuh dirinya sendiri? Pada kasus seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri, ternyata ulama berselisih pendapat soal ini, namun bukan pada persoalan menshalatinya namun pada persoalan apakah seorang Imam (pemimpin) boleh ikut menyalatinya:

وَاخْتَلَفُوا فِي الصَّلَاةِ عَلَى مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ ، فَذَهَبَ أَكْثَرُهُمْ إِلَى أَنَّهُ يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَكَانَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الَعَزِيزِ لَا يَرَى الصَّلَاةَ عَلَيْهِ ، وَبِهِ قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ ، وَقَالَ أَحْمَدُ : لَا يُصَلَّي عَلَيْهِ الْإِمَامُ ، وَيُصَلَّي عَلَيْهِ غَيْرُهُ ، وَاحْتَجُّوا بِمَا رَوَي عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَتَلَ نَفْسَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِسْحَاقُ اَلْحَنْظَلِيُّ : إِنَّمَا لَمْ يُضَلِّ عَلَيْهِ تَحْذِيرًا لِلنَّاسِ عَنْ مِثْلِ مَا فَعَلَ

Artinya, “Para ulama berbeda pendapat mengenai penshalatan orang yang meninggal dunia karena bunuh diri. Menurut pendapat mayoritas ulama, ia tetap dishalati. Sedang Umar bin Abdul Aziz tidak berpendapat untuk menshalatinya. Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai. Imam Ahmad bin Hanbal berpandapat, imam tidak perlu ikut menshalatinya, sedang yang menshalatinya adalah selain imam. Mereka berhujjah dengan riwayat dari Jabir bin Samurah yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki yang mati karena bunuh diri kemudian Nabi Muhammad SAW tidak menshalatinya. Menurut Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak ikut menshalati jenazah itu pada dasarnya merupakan peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.”

Perintah Nabi untuk menyalatkan jenazah namun beliau sendiri tidak ikut menyalatkan ternyata bukan hanya terjadi pada kasus bunuh diri, namun juga pada kasus matinya seseorang yang melakukan dosa besar lainnya seperti zina.

Dengan pertimbangan semacam ini, maka bisa kita simpulkan bahwa warga desa tidak boleh menolak jenazah teroris karena secara akidah ia tetap dihukumi Islam, namun sebaiknya seorang Imam (Pemimpin) tidak ikut menshalatinya sebagai bentuk peringatan bagi orang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here