Bolehkah Mengambil Hukum Agama dari Terjemahan Al-Qur’an?

0
1363

BincangSyariah.Com – Terjemahan Al-Qur’an memang sangat membantu seorang muslim yang awam bahasa Arab untuk mengetahui arti dari ayat Al-Qur’an. Namun, sayangnya ada di antara orang muslim yang hanya bermodalkan membaca terjemahan Al-Qur’an mengambil hukum seenaknya saja. Lalu bolehkah mengambil hukum agama dari terjemahan Al-Qur’an saja?

Pada dasarnya hukum-hukum syariat tidaklah diambil dari Al-Qur’an saja. Namun, hukum-hukum tersebut adalah bersumber dari dasar-dasar syariat Islam yakni Al-Qur’an, hadis, ijma dan qiyas. Selain itu, pengambilan hukum-hukum syariat dari sumber-sumber tersebut hanyalah dapat dilakukan oleh ulama yang sudah tergolong mujtahid. Yakni orang yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Di antara syarat mujtahid adalah berilmu. Otomatis maksud dari berilmu disini adalah tidak sekedar tahu tetapi juga paham tentang ilmu-ilmu agama Islam. Bukan sekedar tahu apalagi mengada-ada. Karena Allah swt. mengharamkan mengada-ada sesuatu yang tidak diketahui atas nama agama. Hal ini sebagaimana firman Allah swt.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-A’raf: 33).

Selian itu, syarat mujtahid adalah takhasus atau spesialis ilmu agama. Imam Asy-Syafii pernah mengatakan yang dinuqil oleh imam Al-Khatib Al-Baghdadi di dalam kitab Al-Faqih Wal Mutafaqqih” sebagaimana berikut.

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يُفْتِي فِي دِينِ الله، إِلَّا رَجُلًا عَارِفًا بِكِتَابِ الله: بِنَاسِخِهِ وَمَنْسُوخِهِ وَبِمُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ وَتَأْوِيلِهِ وَتَنْزِيلِهِ وَمَكِّيِّهِ وَمَدَنِيِّهِ وَمَا أُرِيدَ بِهِ.

Baca Juga :  Mendedah Fleksibelitas Fatwa dan Hukum Islam

Tidak halal bagi seseorang yang berfatwa dalam masalah agama Allah kecuali seseorang yang paham kitab Allah (Al-Qur’an), baik ilmu nasikh mansukhnya, muhkam mutasyabihnya, takwil dan tanzilnya, makkiyah dan madaniyahnya serta apa yang dikehendaki dengannya.

Dengan demikian, jika seseorang itu belum memiliki syarat-syarat tersebut, maka hendaknya ia jangan sekali-kali mengambil hukum secara langsung dari Al-Qur’an. Tetapi, bertanyalah kepada yang lebih alim dan paham tentang hal itu. Allah swt. berfirman

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (Q.S. An-Nahl: 43)

Pada dasarnya terjemahan Al-Qur’an dengan bahasa selain Arab, bukanlah terjemah harfiyyah pada teks Al-Qur’an. Melainkan hanya terjemah arti yang diambil dari tafsir-tafsir.

Sementara dalam masalah memahami teks Al-Qur’an secara harfiyah dibutuhkan pemahaman khusus tentang uslub atau gaya bahasa Arab yang ada pada ayat Al-Qur’an ketika turun. Dibutuhkan pula mengetahui pada konteks ayat serta sebab nuzul/turunnya ayat tersebut dan lain sebagainya. Selain itu dibutuhkan pula merujuk pada ahlinya yang paham tentang ilmu-ilmu syariat.

Sehingga dengan terjemahan Al-Qur’an itu untuk hanya membantu bertafakkur tentang ayat-ayat Nya saja bukan untuk istinbath hukum syariat. Melainkan hanya untuk menambah keimanan dengan tentang sang pencipta dan yang diciptakan yakni tentang Allah dan makhluknya.

Dengan demikian, sebaiknya bagi orang yang tidak terlalu mengerti bahasa Arab dan masih butuh prangkat-perangkat ilmu lain dalam mendalaminya, maka ia hanya cukup membaca terjemahannya untuk mentadabburi ayat Al-Qur’an, sementara jika ia ingin mengetahui maknanya lebih detail lagi hendaknya ia bertanya kepada pakar atau ahlinya yang telah mengetahui hukum-hukum agama Islam secara rinci. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here